Mengantar Bantuan hingga ke Lereng Gunung Sibayak

Sebanyak 38 kepala keluarga Kampung Lau Gedang mendapatkan paket bantuan pada Sabtu (18/1) ini. Kampung yang terletak di Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang tersebut seringkali kesulitan karena keterbatasan akses. Bantuan juga diberikan untuk Pondok Yatim, di mana mayoritas santrinya adalah anak yatim yang mualaf.

Warga Kampung Lau Gedang dan tim MRI Sumatra Utara berfoto bersama usai serah terima bantuan paket pangan. (ACTNews/Ilham Moehammad)

ACTNews, DELI SERDANG – Bukit barisan memagari Kampung Lau Gedang yang berada di zona Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Belum lagi Gunung Sibayak yang kokoh menjulang menjaga kampung ini. Kopi tumbuh subur di tanah ini, sehingga tidak mengherankan mayoritas warga kampung di Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang adalah petani kopi.

Tetapi, di balik potensi sumber daya alamnya yang baik, kondisi masyarakat di sana masih terbatas. Ketika Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sumatra Utara melakukan asesmen, Kampung Lau Gedang kesulitan listrik. Hal ini karena akses untuk pemasangan tiang dan kabel-kabel listrik cukup berat karena medan yang cukup esktrem.

Masyarakat muslim yang berada di sana, membayar iuran setiap bulannya sebesar Rp100 ribu per kepala keluarga. Uang yang terkumpul mampu untuk membeli genset solar yang dioperasikan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Yaqin yang ada di Lau Gedang. Hanya saja, soal iuran ini pun masyarakat tidak sepenuhnya mampu membayar karena perekonomian mereka tidak begitu baik.

“Untuk memenuhi makan sehari-hari saja sudah syukur bang. Konon lagi harus ada iuran, begitu kata masyarakat,” jelas Hasan, warga kampung yang juga anggota BKM Masjid Nurul Yaqin Lau Gedang, Sabtu (18/1) lalu.


ACT Sumatra Utara melakukan sosialisasi dan perkenalan program-program ACT kepada perwakilan warga muslim mualaf di Kampung Lau Gedang.(ACTNews/Ilham Moehammad)

Selain itu, akses yang sulit juga salah satu masalah, terkhusus untuk bersalin. Jarak tempuh dan kondisi jalan yang ekstrem menjadi penyebab beberapa kasus kematian bayi yang gagal lahir normal. “Ada tiga bayi yang meninggal, selama saya ada di kampung ini karena sulitnya mendapatkan fasilitas bersalin dan kesehatan lainnya,” jelas Ustaz Ulil Albab Habibullah Lubis atau yang biasa dipanggil Ustaz Habib, salah satu tokoh masyarakat di Kampung lau Gedang.

Hampir setiap hari Ustaz Habib melewati menempuh jalur berisiko dan rentan dengan longsor. Ia akrab dengan kerikil maupun batu besar yang menghadang di jalan. Naik turun bukit, lembah, serta lereng Gunung Sibayak dalam zona kawasan hutan lindung merupakan agenda kesehariannya.


Bersama istrinya Irmawati, alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa tahun 2009 ini konsisten mengawal dakwah Islam di wilayah minoritas Islam. Ia harus pergi-pulang
 dari tempat dia tinggal pondok yatim di Lau Tengah Brastagi menuju Kampung Lau Gedang untuk membina dan mempertahankan cahaya Islam di kampung yang berpenduduk ratusan jiwa ini.

Tim ikut merasakan jalur ekstrem yang dilalui Ustaz Habib sehari-hari menuju Lau Gedang, untuk mengantarkan paket bantuan bagi warga Kampung Lau Gedang. Di halaman masjid kecil yang berbentuk rumah panggung, perwakilan kaum ibu, anak-anak kampung sudah menanti tim di sana.  

“Alhamdulillah, warga menerima kita dengan antusias pada hari ini, dan itu juga ikut membuat kita senang bisa menyapa warga Kampung Lau Gedang. Paket yang kita distribusikan pada hari ini  (18/1) berisi mi kering, kecap, teh dan gula, minyak makan, biskuit, dan handuk kecil yang mudah-mudahan, bermanfaat bagi warga sekitar,” ungkap Sakti Wibowo dari Tim Program ACT Sumatra Utara.

Rona kebahagian terpancar dari wajah warga. Kebahagiaan yang mengisyaratkan akan perhatian yang diberikan oleh saudara dari luar kampung,
yang peduli terhadap keprihatinan hidup mereka. Habib menjelaskan sebelum dirinya hadir, kondisi di Lau Gedang, kondisi kampung ini sangat memperihatinkan dan butuh uluran tangan saudara-saudara sesama. Hal ini mengingat pembina (guru) agama yang tidak ada, pendidikan, ekonomi, sosial, dan sarana kesehatan yang juga minim.

Saat ini, warga Lau Gedang masih membutuhkan bantuan saudara-saudara di Sumatra Utara, terutama saudara muslim. Bantuan dibutuhkan untuk membangun sarana dan prasarana desa, baik berupa infrastruktur jalan dan fasilitas umum lainnya seperti puskesmas.

“Harapannya dengan akses jalan yang baik juga, akan meringankan langkah para donatur juga untuk bisa memperhatikan dan mengantarkan bantuannya ke warga muslim mualaf yang ada di Lau Gedang ini,” kata Ustaz Habib.

Selain bantuan berupa infrastruktur umum, warga  juga membutuhkan bimbingan rohani. Baik berupa fasilitas ibadah yang memadai, penerangan untuk masjid, toa pengeras suara untuk azan, air bersih untuk berwudk, serta tambahan guru mengaji yang bisa mengajarkan secara rutin di masjid.

Pondok yatim anak-anak mualaf

Selain memberikan bantuan paket pangan di Kampung Lau Gedang, ACT dan MRI Sumatra Utara juga mendistribusikan 110 kilogram beras ke pondok yatim yang dikelola oleh Ustaz Habib, di Desa Lau Tengah Berastagi. Di sinilah Ustaz Habib bersama istrinya mendidik dan merawat para anak yatim mualaf dari Kampung Lau Gedang dibina sejak dini, dan diajarkan Islam selayaknya santri.

Bahkan ada santri yang orang tuanya masih hidup dan beragama nonmuslim, menitipkan kedua anaknya untuk diajarkan Islam oleh Ustaz Habib dan istrinya. Kini keduanya, sudah bisa membaca Alquran, dan sudah memahami tata cara berwudu serta salat yang baik.


Di tempat terpisah relawan ACT-MRI Sumatra Utara menyerahkan juga paket pangan berupa 110 kg beras kepada anak-anak di Pondok Yatim muslim mualaf Lau Gedang. (ACTNews/Ilham Moehammad)

Di rumah yang diwakafkan oleh seorang yang juga mualaf, belasan anak-anak mualaf Lau Gedang ini kini dirawat dan dibesarkan oleh Ustaz Habib, tanpa dikenakan biaya apapun. Baik sandang dan pangan mereka diperoleh dari bantuan para donatur dan swadaya masyarakat muslim Karo sekitarnya.

“Semoga paket pangan inimampu meringankan beban Ustaz Habib dan istrinya untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anak didiknya di pondok yatim ini,” ungkap Sakti. []