Mengantar Daging Kurban ke Pelosok Manggarai Timur

Medan berbatu dan menanjak harus dilalui berjam-jam oleh Tim Global Qurban untuk tiba di Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Di Desa Golong Awan dan Desa Buntang, Kecamatan Sambi Rampas, amanah kurban ditunaikan.

Mengantar Daging Kurban ke Pelosok Manggarai Timur' photo

ACTNews, MANGGARAI TIMUR  –  Kecamatan Sambi Rampas terletak di atas dataran tinggi, berjarak lebih dari 100 kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur: Kecamatan Borong. Menuju ke desa tersebut, tim harus melewati jalan berbatu dan berliku. Pengemudi yang membawa mobil yang kami tumpangi pun sering kali membunyikan klakson, tanda bahwa kami akan melintas. Dalam perjalanan menuju Kecamatan Sambi Rampas, jalan yang dilalui memang cukup sempit sehingga setiap kendaraan yang berpapasan harus bergantian karena sisi jalan bisa jadi jurang. 

Sebagian besar desa di Sambi Rampas belum tersentuh listrik. Warga membeli panel surya yang biasanya hanya bisa dimanfaatkan sampai jangka waktu dua tahun. Bahkan, untuk membeli bahan pangan yang sedikit mewah seperti daging sapi, warga harus turun gunung menuju kota.

“Senang bisa dapat daging sapi,” ungkap Marifa Ilim (50), warga Desa Golong Awan. Menurut Marifa, tidak semua warga bisa menikmati daging, kecuali saat pesta. Menerima daging itu, Marifa bersiap menyajikan hidangan daging kurban terbaik bagi keluarganya.


Rasa syukur pun disampaikan Abdul Rahim Naim, salah satu dai asal Jawa Timur yang sudah sepuluh tahun berdakwah di Desa Buntang, Kecamatan Sambi Rampas. Menurut Abdul, kurban Global Qurban menjadi salah satu media penghangat kekeluargaan warga Desa Buntang. “Alhamdulillah kehidupan muslim di sini baik dan rukun dengan umat-umat lain,” katanya.

Kerukunan antarumat terlihat dari penyembelihan hewan kurban yang dilakukan hari itu. Bukan hanya umat muslim, umat kristiani turut membantu pendistribusian hewan kurban. Kerukunan antarumat di Desa Buntang sangat tergambar dari rumah ibadah yang didirikan berdampingan. Bahkan, setiap sore, setelah pulang mengaji, anak-anak berbaur bermain bola atau permainan tradisional di tanah lapang depan gereja. “Di sini saling memahami satu sama lain,” tutup Abdul.[]


Bagikan