Mengantarkan Beras untuk Santri di Pelosok Simalungun

ACT bersama MRI meyalurkan ratusan kilogram beras kepada 3 pondok pesantren di Kabupaten Simalungun pada Ahad (22/12) lalu. Ketiga pondok pesantren ini terletak di pelosok dan berada dalam kondisi yang sulit.

Mengantarkan Beras untuk Santri di Pelosok Simalungun' photo
Para santri Pesantren Surya Agung membantu Tim ACT-MRI memasukkan beras ke bangunan pondok. (ACTNews/Ilham Moehammad)

ACTNews, SIMALUNGUN – Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali melakukan aksi kemanusiaan. Tim ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sumatra Utara, menempuh jarak 200 kilometer lebih dari Kota Medan menuju Kabupaten Simalungun, untuk mengantarkan bantuan Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) pada Ahad (22/12) lalu. Tiga pondok pesantren di Simalungun menjadi target distribusi tim kali ini.

“Sebelumnya kita sudah menengok kondisi-kondisi pondok pesantren di Simalungun, dan kita tetapkan tiga pondok pesantren yang ada karena menimbang kondisi belajar mengajar mereka berterbatasan,” ujar Sakti Wibowo dari Tim ACT Sumatra Utara.

Salah satunya Pondok Pesantren Surya Agung, yang letaknya terpencil di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Pimpinan Pondok Pesantren Surya Agung, Ustaz Dadang, menyambut dengan baik kedatangan tim hari itu.

Pesantren Surya Agung memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pangan para santrinya. Namun, mereka berusaha untuk berdikari, sehingga mereka miliki usaha penjualan air mineral masak sendiri untuk diperdagangkan di lingkungan pondok. Seharinya, air galon ini mampu memproduksi hingga 50 galon air masak.

Suasana makan siang di dapur Pondok Pesantren Surya Agung. (ACTNews/Ilham Moehammadi)

Mereka juga memiliki lahan perkebunan sendiri yang ditanami sayur-sayuran untuk penganan mereka. Mereka yang tanam, panen, dan menikmati hasilnya. Adanya usaha-usaha ini cukup membantu pesantren memenuhi kebutuhan pangan santri. Terlebih, pihak pondok tidak mematok sama sekali biaya untuk para santri, alias seikhlasnya.

“Saat ini pondok pesantren tidak mematokkan biaya kepada santri, karena walau kita berikan patokan harga tidak sedikit orang tua santri minta keringanan. Di sisi lain, ada juga orang tua Santri yang memiliki kelebihan rezeki, justru membayar iuran (SPP) melebihi dari yang kami minta,” jelas Dadang.

Dadang bersyukur masih banyak anak-anak yang memiliki minat belajar di pondok, walau saat ini minat itu sudah mulai menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Karena di awal ponpes ini berdiri, jumlah santri bisa mencapai 300 orang, kini hanya 80 orang saja. Namun begitu, Dadang berharap pondok pesantren dapat menarik minat lagi para orang tua untuk mengajak anaknya.

“Kami berharap kunjungan ACT ini mampu menggerakkan kembali minat orang tua untuk mengajak anaknya menimba ilmu di pondok pesantren ini. Walau dengan keterbatasan dan lingkungan yang terpencil di tengah perkebunan sawit, kami yakin para santri akan tetap betah dan semangat menimba ilmu di sini. Ini karena suasana hening mampun meningkatkan daya otak dan mudah menghafal. Selain itu disini anak-anak santri juga akan kita ajarkan cara bercocok tanam dan beternak untuk bekal kemampuan ke depannya,” harap Dadang.

Selain Pesantren Surya Agung, Tim ACT dan MRI Sumatra Utara juga mengantarkan bantuan beras kepada Pondok Pesantren Daarut Tahfidz yang mendidik para tahfiz Quran, kemudian Pondok Pesantren Daarul Khoirot. Kesemuanya memiliki kondisi yang hampir serupa dengan Pondok Pesantren Surya Agung. Sakti mengatakan akan terus memotivasi para santri yang berada di pelosok untuk terus bersemangat dalam belajar melalui program BERISI.

“Kita berharap semoga program ini dapat terus berjalan dan menyapa pondok pesantren yang ada di Sumatra Utara, bahkan seluruh Indonesia. Dan semoga bantuan dari program BERISI ini bisa menambah semangat para santri untuk terus memperjuangkan agama lewat pendidikan,” harapnya. []


Bagikan