Mengantisipasi Potensi Kekeringan Tahun Ini

Memasuki musim kemarau, BMKG telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada tahun 2020 ini. Walaupun musim kemarau diprediksi akan lebih basah dari rata-rata iklim pada tahun 1981-2010, namun langkah antisipasi perlu dilakukan pada daerah-daerah yang terpapar kekeringan.

Mengantisipasi Potensi Kekeringan Tahun Ini' photo
Warga di Bojonegoro sedang membawa seember air melewati ladang yang kering. (ACTNews/Hafid Rezha Maulana)

ACTNews, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kemarau tahun ini cenderung lebih basah daripada rata-rata iklim pada tahun 1981-2010, namun tetap ada potensi daerah-daerah yang mengalami kekeringan. BMKG memperingatkan, ada 4 kabupaten berstatus awas kekeringan meteorologis dengan kode merah di musim kemarau periode tahun 2020 ini.

Daerah-daerah tersebut di antaranya adalah Kota Kupang, Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sedangkan sisanya yakni Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sementara, terdapat juga 58 wilayah kabupaten atau kota yang berstatus siaga dengan kode oranye, yang tersebar di sejumlah provinsi seperti  NTT, NTB, Bali Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. Musim kemarau sendiri diperkirakan akan terus berlanjut hingga Oktober nanti.


Salah satu sungai yang kering di Kecamatan Jenar, Sragen, Jawa Tengah tiap kali kemarau datang. Selain sungai dan persawahan, sumur warga pun tak mengeluarkan air. (ACTNews/Eko Ramdani)

Dampak dari kemarau sudah dirasakan oleh warga di delapan desa di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebagian dari warga bahkan ada yang telah menjual emas atau ternaknya selama tiga bulan terakhir demi mendapatkan air bersih. Hal tersebut diungkapkan oleh Camat Paranggupito Sulistyani. “Sebanyak 3.412 KK dari 4.969 KK sudah membeli air bersih. Ada yang jual emas dan ada yang jual hewan ternak untuk membeli air,” kata Sulistyani.

Satu mobil tangki air berisi 5.000 liter, warga membeli dengan harga Rp150 ribu. Sementara bila lokasinya agak jauh, warga membelinya dengan harga Rp170 ribu. Air yang dibeli kemudian ditampung dalam tandon yang dimiliki warga digunakan hingga beberapa hari. Sebelum kemarau tiba, warga mengandalkan dari air tadah hujan dan PDAM. Namun bila musim kemarau tiba, sumber air PDAM mengecil dan stok air tadah hujan warga pun menipis.


Pentingnya antisipasi

Distribusi air bersih selama kemarau menjadi salah satu langkah dalam menghadapi kekeringan yang disebabkan oleh kemarau panjang. Namun antisipasi jangka panjang juga bisa dilakukan dengan cara membuat sumber air alternatif ketika sumber air utama benar-benar kering.

“Untuk wilayah-wilayah yang tadah hujan misalkan, artinya wilayah tersebut benar-benar hanya mengandalkan hujan. Kita sudah memperkirakan kapan kemarau mulai dan akan berapa lama berlangsungnya. Wilayah tersebut mestinya bersiap, mungkin mempersiapkan embung, atau sumber-sumber air yang dapat menggantikan ketika hujan berhenti,” kata Adi Ripaldi selaku Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG saat ditemui pertengahan Juni 2019 lalu.

Oleh karenanya, solusi jangka panjang juga telah diinisasi Global Wakaf - ACT melalui program Sumur Wakaf. Presiden Global Wakaf - ACT Insan Nurrohman menerangkan, Sumur Wakaf merupakan program pengelolaan dana wakaf dalam bentuk penyediaan fasilitas air bersih dan sanitasi yang mampu menopang kehidupan masyarakat.


Melalui Sumur Wakaf, Global Wakaf - ACT hadir memberikan kemudahan akses air bersih akibat kekeringan, air yang tercemar dan tidak layak konsumsi, sumber mata air yang jauh, dan permasalahan lain yang menyebabkan krisis air bersih.

“Mari bersama kita bantu sesama dimulai dari hal yang paling mereka butuhkan, yakni air bersih. Semakin banyak sumur produktif yang kita bangun bersama, semakin banyak dari mereka yang bisa merasakan manfaatnya,” kata Insan.

Sejak 2015 hingga 2020, Global Wakaf - ACT telah membangun ratusan Sumur Wakaf di 26 provinsi di Indonesia. Sumur-sumur tersebut antara lain dimanfaatkan secara umum oleh masyarakat desa, jemaah masjid, sumur keluarga, pondok pesantren, sekolah, dan produktivitas, antara lain pertanian. []


Bagikan