Mengapa Kekeringan Terus Berulang di Somalia?

Mengapa Kekeringan Terus Berulang di Somalia?

ACTNews, Baidoa, SOMALIA - Tiap pagi datang, di ujung tanduk Afrika yang gersang, hujan belum juga turun. Sudah tidak terhitung lagi berapa ratus hari yang lalu rintik hujan terakhir membasahi tanah di bagian tanduk Afrika ini. Musim kering berkepanjangan membuat air bersih sulit sekali didapat. Hanya di kota-kota besar yang ada di tiap distrik (provinsi) ada air bersih yang dijual per dirigen. Harganya? Tentu mahal sekali, hukum ekonomi berlaku di sini, setiap kebutuhan yang langka didapat tentu harganya akan melonjak.

Cerita ini bukan berasal dari gambaran Afrika sekian dekade lalu. Fragmen cerita ini nyata sedang terjadi di wilayah Tanduk Afrika. Terjadi hari ini dan belum berhenti.

Sebuah kompilasi masalah yang melanda wilayah paling timur Benua Hitam. Semenanjung yang berhadapan langsung dengan Laut Arab, Samudera Hindia dan Teluk Aden. Masalah kekeringan masif ini betul-betul sedang terjadi di Ujung Tanduk Afrika, meliputi negeri Djibouti, Eritrea, Ethiopia, dan Somalia.

Yang terburuk, Somalia sedang mengulang lagi kejadian kekeringan parah, kekeringan yang akhirnya memicu kelaparan. Di Somalia, kekeringan ini berulang setiap tahunnya. Nasibnya paling nelangsa dibanding wilayah lain di bagian tanduk Afrika.

Hari-hari terakhir, kabar tentang kering dan gersangnya Somalia melesat diperbincangkan. Sebabnya satu, kekeringan Somalia di awal tahun 2017 bukan lagi urusan sepele. Kekeringan ini berubah menjadi krisis kemanusiaan skala masif. Kekeringan memicu matinya pertanian. Matinya lahan tani memicu kelaparan jutaan orang. Kelaparan memicu rentetan kasus penyakit menular serupa diare, kolera, dan malnutrisi akut. Dan akhirnya kelaparan memicu kematian. Perdana Menteri Somalia pada Sabtu awal Maret lalu (4/3) berkata, dalam 2 hari terakhir sudah ada 110 jiwa orang Somalia tewas karena kolera dan malnutrisi.

Pangkal masalahnya satu: kekeringan yang menghebat sepanjang tahun. Kekeringan jangka panjang memang sudah menjadi kodrat alam di sisi tanduk Afrika. Apalagi jika pengaruh anomali cuaca El Nino berlaku sepanjang tahun bagi Somalia. Masih teringat tahun 2015 lalu, ketika anomali El Nino begitu kuat menghantam Indonesia, sampai memicu kebakaran hutan dan langit yang menguning karena penuh kabut asap?

El Nino yang jauh lebih kuat inilah yang sedang terjadi dan bertambah kuat di Somalia. Ketika kekeringan parah adalah pangkal masalah kelaparan masif di Somalia, apa yang bisa diperbuat untuk menolong Somalia?

Berpikir logis, hanya sedikit sekali intervensi alam yang bisa dilakukan untuk membuat hujan di tengah kekeringan parah. Harganya pun tak murah untuk membuat hujan buatan, bahkan dalam skala kecil sekali. Hujan buatan pun hanya bermanfaat sejam dua jam setelah dibikin, selepas itu semua kembali kering-kerontang.

Tapi, masih ada cara lain yang bisa diusahakan untuk Somalia. Respons cerdas dan jangka panjang harus segera dimulai untuk Somalia. Bukan hanya tentang mencegah angka kelaparan bertambah luas dengan memberikan pasokan makanan, tapi juga merespons sumber daya orang-orang Somalia agar mampu bertahan di tengah hantaman kekeringan serupa di tahun-tahun ke depan.

Berbuat sesuatu untuk Somalia: Kebutuhan air paling krusial

Hari ini, dunia memang harus bergerak cepat untuk Somalia. Namun, yang dibutuhkan bukan hanya gerak reaktif, ada langkah panjang yang perlu dipikirkan matang untuk menyiapkan Somalia dalam kekeringan tahun-tahun berikutnya.

Ketika kekeringan alami menjadi pangkal masalah utama, maka langkah jangka panjang yang harus disiapkan untuk Somalia adalah kebutuhan air bersih. Irigasi air bersih, juga waduk air bersih yang menampung air hujan dalam jumlah dan waktu yang lama, krusial diterapkan di desa-desa gersang Somalia.

Nihilnya air bersih di musim kering harusnya tak membuat risau jika cadangan air sudah disiapkan. Sumur-sumur air bersih yang digali pada kedalaman tertentu pun harusnya bisa jadi solusi.

Sudah sejak setahun lalu, Aksi Cepat Tanggap bertandang ke Baidoa, wilayah sebelah Barat Laut Mogadishu, di wilayah gersang dan terik ini, kasus kelaparan dan dilema kolera Somalia pertama kali merebak. Di Baidoa, Aksi Cepat Tanggap menyimak pangkal masalah ini.

Ada masalah pelik dalam urusan menabung air bagi warga Baidoa. Sumur yang digali warga setempat tak sedikitpun mengeluarkan air, sebab kedalamannya tidak lebih dari 20 meter.

“Sumur yang kami punya di desa dangkal sekali. Kami membuatnya manual dengan uang seadanya. Air yang keluar sangat sedikit. Kami tidak punya lagi uang untuk menggali lebih dalam sampai menemukan mata air,” ungkap Ali “Marguus” Adan Husein, sesepuh Desa Tawfiq, Baidoa.

Menyikapi dilema kelaparan dan kekeringan di Baidoa juga di wilayah lainnya di Somalia, butuh komitmen jangka panjang. Tidak hanya tentang merespons kiris. Tapi juga tahun demi tahun membantu membangun komunitas orang-orang di Somalia, menguatkan mereka untuk menghadapi kekeringan di tahun berikutnya.

Atas nama kemanusiaan, harusnya bangsa ini – bangsa yang besar – mampu berbuat sesuatu untuk Somalia.

Tim Aksi Cepat Tanggap untuk respons kelaparan Somalia hari ini dalam perjalanan menuju Kota Mogadishu. Dari Jakarta tim berangkat menuju Somalia via Istanbul, Turki. Hanya lewat Istanbul kota penghubung satu-satunya paling dekat untuk mencapai Mogadishu. Tidak ada penerbangan lanjutan yang menghubungkan Asia dengan Mogadishu selain lewat Istanbul.

 

Di Baidoa, merespons krisis kelaparan yang meledak sejak dua pekan terakhir, Tim Aksi Cepat Tanggap untuk Somalia akan mendistribusikan ribuan paket pangan. Sebarannya menjangkau desa-desa gersang di Mogadishu, Baidoa sampai ke Doolow di utara Somalia.

Selain itu, tim ACT untuk Somalia juga bakal mendata kebutuhan untuk pembangunan sumur. “Perkiraannya satu buah sumur di Baidoa membutuhkan kedalaman hingga 350 meter baru menemukan air. ACT perlu berbuat sesuatu jangka panjang untuk meredam kekeringan Somalia di tahun berikutnya,” kata Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response, Aksi Cepat Tanggap. []

Tag

Belum ada tag sama sekali