Menengok Produksi Beras Premium di Lumbung Beras Wakaf

Dimulai dari benih, para petani telah memilih benih-benih yang terbaik berdasarkan tempat ditanamnya padi. Tanaman padi yang dipanen kemudian diolah dengan alat-alat serba otomatis guna menghasilkan beras dengan kualitas premium.

Menengok Produksi Beras Premium di Lumbung Beras Wakaf' photo
Beras-beras hasil produksi LBW sudah mengikuti standar padi yang disarankan oleh pemerintah. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

ACTNews, BLORA - Ada dua merek beras yang sedang diproduksi saat peluncuran Lumbung Beras Wakaf (LBW) di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Satu beras dengan kemasan Beras Dermawan, dan satu lagi dengan kemasan Beras untuk Santri Indonesia (BERISI).

“Kita juga tengah mempersiapkan packing masing-masing 10 ton dengan branding Beras Dermawan dan Beras untuk Santri Indonesia. Beras-beras inilah yang nanti akan kita maksimalkan untuk mendukung program Indonesia Dermawan dan BERISI,” ujar Pungki Martha Kusuma selaku Operations Manager Global Wakaf pada Rabu (4/11) lalu.

Beras Dermawan kemudian dibagikan kepada sekitar 1.000 penerima manfaat, pada saat peluncuran LBW pada Kamis (5/11) silam. Beras-beras produksi LBW ini telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Karena ada Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pendamping dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pertanian yang ada di kecamatan dan kabupaten. Jadi benih padinya mengikuti apa yang disarankan oleh mereka karena menyesuaikan dengan musim,” ujar Ngadi, salah satu penanggung jawab LBW.

Para pekerja di LBW sedang mengemas beras menggunakan mesin penjahit. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

Varietas padi yang digunakan untuk beras-beras di LBW juga merupakan varietas terbaik dibanding varietas lainnya yang digunakan untuk daerah Blora. Mayoritas petani di Desa Jipang juga bertanam menggunakan varietas yang sama.

“Saat ini varietas yang bagus adalah Padi Inpari 32. Saat ini juga banyak masyarakat kami menggunakannya, hampir 95%. Di samping Padi Inpari 32, juga ada varietas-varietas lainnya,” ujar Ngadi.

Beras-beras ini yang kemudian diolah sedemikian rupa di LBW. Beras yang telah dikeringkan kemudian dimasukkan ke dalam huler untuk memisahkan antara gabah dan berasnya. Setelah terpisah, beras akan masuk ke mesin pemoles agar beras yang dihasilkan berkualitas premium. Barulah mesin pemisah akan menampung semua beras yang utuh dan membuang beras-beras yang pecah dan siap untuk dikemas.

Proses produksi itu dapat menghasilkan sesedikitnya 10 ton beras sehari dalam satu sif. Namun rata-rata, LBW bekerja dua sif dan kadang tiga sif dalam satu harinya sehingga bisa menghasilkan 20 hingga 25 ton. Selain itu sisa-sisa produksi seperti beras yang tidak layak masuk kemasan, dapat bermanfaat sebagai bekatul atau makanan ternak. 

“Semoga kita dapat menambah terus produktivitas kita. Kita ingin produksi lebih banyak lagi, sehingga bisa bermanfaat lebih luas lagi untuk masyarakat maupun penerima manfaat. Harapannya tahun ini kita bisa 20 ton, ke depannya bisa 50 ton atau bahkan seratus ton,” kata Ngadi. []

Bagikan