Mengembangkan Agrokompleks di Kampoeng Dermawan

Pesantren Manajer Tholabie di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, saat ini tengah mengembangkan konsep agrokompleks yang telah diperkenalkan di Dukuh Baran alias Kampoeng Dermawan. Gambaran besar dari agrokompleks ini adalah adanya integrasi antara perikanan, peternakan, pertanian, dan lebah, sehingga menopang pangan dan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Seorang santri sedang memeriksa sarang lebah jenis trigona. (ACTNews/Ardiansyah)

ACTNews, MALANG – Para santri sibuk memindahkan peti-peti yang berisi sarang lebah jenis trigona yang tidak memiliki sengatan. Waktu panen tiba, mereka mengambil madu dari sarang-sarang lebah yang tersebar di sekitar pekarangan Pondok Pesantren Manajer Tholabie yang terletak di kawasan Kota Malang. Para santri pun antusias bekerja di Senin (19/10) siang itu.

“Ini yang jelek-jelek dipindahkan ke belakang. Pertama itu kan lebahnya diambil dari paket, kiriman dari Sumatra. Dari sini dibuatkan rumah seperti ini. Jadi kita budi daya, tapi enggak budi daya. Maksudnya kalau (budi daya) sapi itu kan dibersihkan kandang, kasih minum dan kasih makan, kalau ini enggak. Kalau lebah ini enggak dikasih bunga aja, lebahnya bisa bersihkan kandang sendiri,” terang seorang santri yang baru duduk di bangku SD.

Pengetahuan itu ia peroleh dari abinya, Ustaz Nurul Asyuri yang kini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Manajer Tholabie. Selama 2 tahun berjalan, pondok pesantren ini sekarang mengasuh 16 santri putra yang kebanyakan berasal dari luar Kota Malang. Di Pondok Pesantren Manajer Tholabie, Nurul juga mengembangkan konsep agrokompleks. Tanaman-tanam buah dan bunga tumbuh subur di pekarangan lengkap dengan gundukan tanah tempat cacing sebagai pengurai berkembang biak, lebah-lebah trigona beterbangan ke berbagai arah, dan peternakan ayam di belakang pondok.

“Kami menemukan konsep agrokompleks itu di Surat An-Nahl ayat 25,” jelas Ustaz Nurul. Ia mengaku mendapatkan 4 hal yang ada di ayat itu, yakni perikanan, peternakan, pertanian, dan lebah. Semuanya terintegrasi dan cocok dengan kondisi masyarakat Indonesia yang agraris. “Jadi agrokompleks yang kami bangun di pesantren ini menjadi miniatur untuk diduplikasi di warga sekitar pesantren. Jadi artinya pesantren ini mengembangkan daerah atau kawasan di kampung sekitar pesantren,” lanjutnya.


Ustaz Nurul sedang menunjukkan pohon buah serta peternakan cacing yang berada di bawah pohon tersebut. (ACTNews/Ardiansyah)

Visi Ustaz Nurul ke depannya, Dukuh Baran atau yang juga dikenal dengan Kampoeng Dermawan yang ada di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang ini, bisa menjadi Kawasan Eduwisata Buah Bercahaya. Hal ini mengingat banyak komoditas yang tumbuh di dukuh tersebut adalah buah-buahan. “Ini tinggal menambahi varian buahnya sekaligus diintegrasikan ada bunganya, menerapkan agrokompleks dari pesantren dari agar lebih terintegrasi,” jelas Ustaz Nurul.

Ustaz Nurul pun sudah mengenalkan konsep ini kepada masyarakat dengan menyulap satu lahan milik warga menjadi kebun alpukat, yang mana proyek ini merupakan kerja sama dengan Global Wakaf – ACT. Pada Juni lalu, Global Wakaf – ACT berkomitmen menanam 10 ribu pohon, yang sejauh ini telah ditanam ratusan batang pohon alpukat jenis alligator dan florida, serta pisang jenis cavendish. Proses menanam sampai sekarang masih berlangsung.

“Nanti kita integrasikan dengan pengurai. Jadi ada limbah peternakan, nanti diurai dengan cacing, itu untuk pupuk. Area ini yang kita kerjasamakan dengan Global Wakaf – ACT. Ini memang masih proses menanam, menunggu proses berikutnya rencana kita ingin ada edukasi. Jadi kayak workshop, pelatihan untuk ibu-ibu. Misal ada tanaman pepaya dan nangka, nanti bisa kita buat olahan keripik nangka, pisang, dan pepaya. Rencananya arahnya ke arah sana,” ujar Nurul.


Ustaz Nurul sadar bahwa untuk membangun visinya, membutuhkan kerja sama yang besar. Oleh karenanya, ia berharap adanya sinergi dari pihak lain seperti yang dilakukan dengan Global Wakaf – ACT. “Ketika kita bisa bangun sinergi dan kolaborasi ini, tentu ini akan menambah kekuatan tersendiri untuk menuju ke visi tadi, membangun kedaulatan dan ketahanan pangan. Secara ekonomi masyarakat kita bisa lebih maju. Secara pendidikan juga bisa lebih baik karena adanya kolaborasi dengan sekian lembaga-lembaga yang satu visi dengan kami. Harapannya ini akan menjadi miniatur secara nasional. Jadi ini satu kawasan yang di mana pesantren bekerja sama dengan lembaga sosial, bekerja sama dengan warga dan sekaligus juga birokrasi. Satu langkah, satu tujuan membangun ketahanan pangan dan kedaulatan pangan,” harap Ustaz Nurul.

Iqrok Wahyu Perdana dari Tim Program Global Wakaf - ACT Malang berharap masyarakat dapat mendukung terus program-program yang ada di Dukuh Baran atau Kampoeng Dermawan. “Seperti namanya, kita berharap masyarakat di Dukuh Baran bisa menjadi kawasan percontohan bagaimana kedermawanan bisa diterapkan dan mudah-mudahan, bisa ditularkan kepada masyarakat sekitar. Oleh karenanya, kami berharap juga bantuan dari para dermawan melalui program wakaf untuk terus mengembangkan dukuh ini,” ajak Iqrok. []