Mengenal Gempa Liwa 15 Februari 1994 yang Hampir Ratakan Semua Bangunan

Lebih dari 2.000 orang terluka dan hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah.

mengebal gempa Liwa
Ilustrasi. Gempa swarm di Teluk Semangko 2021 lalu. (BMKG)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Hari mengerikan bagi masyarakat Kecamatan Liwa, pusat pemerintahan, Kabupaten Lampung Barat, itu terjadi pada 15 Februari 1994. Gempa magnitudo 6,5 mengguncang dan hampir meruntuhkan semua bangunan permanen di wilayah itu. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkategorikan gempa tersebut sebagai salah satu gempa yang signifikan dan merusak. Gempa tersebut juga dirasakan hingga Sumatra bagian selatan, Jawa bagian Barat termasuk Jakarta, bahkan hingga ke Singapura. 

Gempa ini membuat 207 orang–data yang lain 196 orang–meninggal tertimpa reruntuhan bangunan, lebih dari 2.000 orangterluka, dan 75.000 orang kehilangan tempat tinggal. Sedikitnya 6.000 rumah, pertokoan, dan bangunan pemerintahan hancur.

Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebutkan hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah. Bahkan gempa juga membuat lereng-lereng di Liwa longsor dan menutup akses jalan. BMKG memperkirakan kerugian akibat gempa ini mencapai 160 juta USD. 

Penyebab Gempa 

Gempa Liwa berpusat di Patahan atau Sesar Semangko. Dilansir dari BPBD Kota Solok, Sesar Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatra dari utara hingga selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. 

Sesar Semangko  membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau Sumatera. Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi.

Heru Sri Naryanto Pengelola Program Teknologi Mitigasi Bencana BPPT dalam tulisannya di Majalah BPP Teknologi Nomor LXXXVIII/Agustus 98 menyebutkan, daerah sepanjang sesar ini merupakan daerah yang lemah dan rawan gempa. Panjang Sesar Semangko sekitar 1.650 kilometer dan merupakan sesar aktif terpanjang di Indonesia.

“Gempa terjadi akibat pelepasan energi pada segmen-segmen tertentu sepanjang jalur sesar ini,” tulis Heru. 

Mitigasi Bencana 

Sitti Aminah Staf Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendagri dalam makalahnya di Jurnal Kelitbangan Kabupaten Lampung Barat menyebutkan, pemerintah daerah harus merancang model bangunan tahan gempa sebagai bahan rujukan bagi masyarakat ketika ingin membangun hunian di daerah rawan gempa. Karena sebagian besar bangunan yang hancur akibat gempa pada Februari 1994 tidak berstandar tahan gempa. 

Ia juga menyarakan pemerintah mengembangkan sistem peringatan dini bencana alam (disaster early warning system), mendirikan area perlindungan bagi korban terdampak, memberikan pendidikan dan pelatihan rutin kepada masyarakat untuk respon cepat jika bencana datang tiba-tiba, serta melakukan pemetaan daerah rawan bencana.[]