Mengenang Tragedi Rohingya dari Balik Kamp Pengungsian

Mengenang Tragedi Rohingya dari Balik Kamp Pengungsian

Mengenang Tragedi Rohingya dari Balik Kamp Pengungsian' photo

ACTNews, COX’S BAZAR – Matahari enggan menurunkan teriknya Kamis (10/5) siang itu di Cox's Bazar, Bangladesh. Kamp Kutupalong, kamp pengungsian terbesar di Bangladesh makin terlihat kering diterpa sinar matahari yang menyengat. Dari balik bangunan bambu, Maulana Abdurrahahim menyapa kami, Tim ACT, dan mengajak berteduh ke dalam bangunan sederhana itu. Maulana merupakan salah satu guru yang mengajar di madrasah di kompleks Integrated Community Shelter (ICS) ACT.    

Sebelum mengungsi ke Bangladesh, Maulana merupakan orang bercukupan di kampung halamannya. Ia mempunyai lahan pertanian yang luas untuk dikelola. Maulana juga merupakan tokoh masyarakat di Desa Ulapi, Kecamatan Buthidaung, Myanmar. Warga di kampung halamannya dulu mengenalnya sebagai seorang ustaz yang mengajar di Jami’a Islamiyah Riyadhul Ulum, salah satu sekolah di Buthidong.  

Bapak enam anak ini pun bercerita banyak kepada kami saat tragedi kemanusiaan itu berlangsung pada Agustus 2017 lalu. Ia mengisahkan kembali pahit getir pengusiran yang disertai penyiksaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan oleh militer Myanmar saat itu.      

“Tentara Myanmar datang ke rumah, saya pun melarikan diri melalui pintu belakang. Saat itu tentara memang mau menangkap saya, sementara sepupu dan anak saya disiksa dan dipukuli. Tiga hari kemudian para tentara datang kembali ke rumah saya dan mulai membakar rumah saya,” kenang Maulana, menceritakan kepada kami dengan penuh kegetiran. Ia mencoba bercerita dengan tegar, namun raut muka kesedihannya tak bisa ditutupi.            

Sekitar 70 Kepala Keluarga atau 500 jiwa lebih warga di desanya terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk menyelamatkan diri. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di desa mereka yang sudah dibumihanguskan militer Myanmar.

Maulana bersama warga desa lainnya harus melakukan perjalanan yang sangat jauh, sulit, dan melelahkan yang ditempuh selama tiga hari menuju Kutupalong. Mereka berjalan kaki melewati perbukitan dan menyeberangi sungai Naf dengan tidak memakai sampan. Perjalanan berhari-hari itu juga harus dilalui tanpa bekal makanan. Jika lapar, mereka makan apa yang ada di hutan seperti daun, bunga, dan yang lainnya.

“Kini di desa kami sudah tidak orang lagi. Seluruhnya sudah menyelamatkan diri, sebagian lagi tewas dibunuh militer Myanmar. Namun di desa lainnya, saya dengar masih ada warga Rohingya yang tersisa. Mereka tidak bisa keluar dari desanya karena diblokade oleh militer dan warga Myanmar. Mereka terpenjara di desanya, mereka ketakutan untuk keluar,” terangnya.

Maulana menambahkan, sebelum terjadi penghancuran dan pembakaran rumah warga Rohingya, warga Rohingya sudah ada yang dibunuh dan diperkosa.

Dirinya pun sempat menjadi incaran militer Myanmar untuk ditangkap kemudian dibunuh. Beberapa isu diciptakan untuk bisa menangkapnya. Maulana mengutarakan, salah satu isu yang dihembuskan oleh tentara Myanmar kepada dirinya adalah tuduhan sebagai provokator. Ia difitnah telah mengumpulkan para pemuda Rohingya, untuk melakukan protes terhadap Pemerintah Myanmar.

Tragedi yang direncanakan

Pengusiran disertai pembunuhan massal warga Rohingya oleh tentara Myanmar tidaklah berjalan secara spontan, insidental atau kebetulan semata. Menurut Maulana, peristiwa tersebut telah direncanakan dengan rapi dan sistemik.         

Ia mengungkapkan, pada 6 oktober 2015, sudah ada rencana jangka panjang untuk mengosongkan desa-desa di Rakhine dan wilayah lainnya yang dihuni penduduk Rohingya.

“Agenda pertama mereka adalah membunuh warga Rohingya yang berpendidikan tinggi. Diawali dengan mendata orang-orang Rohingya yang terpelajar atau tokoh masyarakatnya. Di satu desa bisa mencapai  50 orang, 70 orang, atau puluhan orang lainnya yang berpendidikan tinggi yang akan dibinasakan. Salah satu target mereka adalah saya,” terangnya.  

Empat puluh sembilan orang yang berpendidikan tinggi di desanya, termasuk Maulana, akan ditangkap dan dibunuh. Ia pun berpikir, sebelum mendapatkan giliran dibunuh, ia menyelamatkan diri dan meninggalkan rumahnya. Dari 49 orang, terdapat 6 orang sudah berumur di atas 80 tahun. Mereka bisa dibebaskan tapi harus menebusnya dengan biaya yang mahal.

“Kami belum dapat kabar apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Saya curiga mereka sudah dibunuh oleh tentara Myanmar,” keluhnya.    

Syukur dan terima kasih untuk Indonesia   

Sembilan bulan lamanya Maulana bersama para pengungsi Rohingya lainnya tinggal di ICS-ACT. Meskipun hidup di kamp pengungsian, semangat dan tekadnya mengangkat derajat warga Rohingya melalui pendidikan terus ia lakukan.

Maulana lantas bergabung menjadi relawan ACT yang bertugas mengkoordinir dan mensupervisi pendidikan di kamp pengungsi ICS-ACT. Ia mengkoordinir delapan madrasah dan dua rumah tahfiz yang menampung sekitar 800 siswa Rohingya.

“Meskipun di kamp pengungsi, anak-anak harus tetap belajar. Maka, saya bersama 32 orang pengajar (guru/ustaz) setiap harinya terus mengajar anak-anak. Pelajarannya meliputi Al-Qur’an, hadits, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Myanmar, dan matematika. Alhamdulillah, ACT memberi bantuan pendidikan anak-anak kami hingga beaguru kepada 125 guru tiap bulannya. Tidak hanya guru yang mengajar di ICS-ACT saja, namun juga guru di kamp lainnya,” ungkapnya. 

Ia sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberikan bantuan melalui ACT. Selama sembilan bulan ini, anak-anak Rohingya maupun para guru tidak hanya didukung secara finansial dan keilmuan, namun juga secara spiritual. Hal ini, menurut Maulana, meninggalkan kesan tersendiri. 

“Mayoritas dari kami adalah Muslim. Alhamdulillah, ACT membantu kami memenuhi kebutuhan rohani dengan menyediakan masjid, madrasah, rumah tahfiz, dan lainnya,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan kualitas pembangunan shelter ACT menurutnya amat bagus, beda dengan shelter lainnya yang umumnya hanya memakai terpal dan kayu saja. Shelter ACT beratapkan seng berdinding bambu dan beralaskan tembok, hal itu menurutnya lebih kokoh.

“ACT telah membantu kami karena Allah, saya melihat itu. Warga Indonesia melalui ACT sudah sangat membantu dan menyelamatkan kami. Kami tidak akan melupakan warga Indonesia dan ACT. Tiap selesai salat kami terus berdoa untuk para donor ACT di Indonesia, supaya terus mampu menebar manfaat lebih luas lagi,” pungkasnya.[]

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan