Menggembirakan Anak-Anak Uighur di Turki pada Momen Lebaran

Sebanyak 150 anak-anak diaspora Uighur di Turki, mendapatkan hadiah dari para dermawan untuk idulfitri.

Menggembirakan Anak-Anak Uighur di Turki pada Momen Lebaran' photo

ACTNews, TURKI - Idulfitri biasanya dirayakan dengan orang-orang terdekat. Berkumpul bersama keluarga menjadi salah satu agenda. Mencicipi penganan dan obrolan hangat seolah menjadi menu yang biasa di hari kemenangan. Tetapi kebahagian itu terasa asing bagi diaspora Uighur di Turki.

Tinggal jauh dari kampung halaman mereka di Urumqi, Xinjiang, Tiongkok, akibat konflik berkepanjangan, diaspora Uighur ini mesti menghabiskan Idulfitri di negeri orang. Karena berstatus sebagai imigran, mereka juga hidup dalam bayang-bayangan kekurangan. Tak jarang di antara mereka adalah anak-anak yang belum mengetahui banyak hal.


Demi menggembirakan hari raya untuk anak-anak Uighur, Aksi Cepat Tanggap (ACT) membagikan zakat fitrah pada Kamis (30/5) lalu sembari mengadakan makan bersama dengan mereka.

“Sebanyak 150 anak-anak menjadi penerima manfaat dari pembagian zakat fitrah dari para dermawan di Indonesia kali ini. Penerima manfaat kita khususkan untuk anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan juga anak-anak dari keluarga yatim yang telah kehilangan orangtuanya,” jelas Andi Noor Faradiba, dari tim Global Humanity Response (GHR) ACT.

Senyum terkembang dari anak-anak yang berkumpul sore itu. Sembari menyantap hidangan yang disediakan, anak-anak tersebut bercanda satu sama lain dengan sesamanya. Semangat Idulfitri tersebut dapat dirasakan sekalipun sampai sekarang mereka hidup dalam pengungsian.

“Mudah-mudahan dengan adanya bantuan zakat fitrah ini, dapat meringankan sedikit beban mereka sebagai pengungsi. Untuk selanjutnya juga, melalui dukungan para dermawan, kami akan terus membersamai saudara-saudara muslim Uighur yang berada di Turki,” harap Faradiba.


Laporan dari kongres Amerika Serikat memperkirakan, sekitar satu juta muslim Uighur berdiaspora di Turki. Melalui jawaban seorang narasumber dari pengungsi, CNN menyebutkan, etnis Uighur memilih mengungsi ke daerah Turki karena di sana mereka dapat menjalankan kepercayaan mereka dengan bebas.

Lembaga penyiaran publik internasional dari Jerman, Deutsche Welle, juga menerbitkan laporan bahwasannya penahanan sewenang-wenang dan pengupasan dokumen kewarganegaraan kaum minoritas, telah membuat keluarga mereka terpecah belah. Bahkan ada dari mereka yang mencari perlindungan di negara lain dan berjuang untuk membangun kehidupan baru. Sementara mereka yang masih tinggal di Xinjiang, dilarang menghubungi kerabatnya di luar negeri. []

Bagikan