Menggerakkan Kepedulian dari Jalan Palestina untuk Palestina

Menggerakkan Kepedulian dari Jalan Palestina untuk Palestina

ACTNews, DEPOK – Di sudut gang kecil, sejumlah pemuda masih berkumpul meskipun jam sudah menunjukan pukul 00:00 malam. Jumat (1/3) dini hari itu, sebagian dari mereka sibuk menyiapkan kuas dan cat, sementara yang lain menyiapkan makanan ringan.

Mereka adalah pemuda karang taruna setempat yang dikenal dengan sebutan Forum Solidaritas Remaja Pemuda-Pemudi RT 22. Lebih dari sepuluh pemuda berkumpul di sana untuk membuat mural di gang kecil itu. Warga setempat menamainya Jalan Palestina. Meski dinamai Jalan Palestina, jalan tersebut tidak berada di Palestina maupun di negara Arab lain, melainkan di wilayah Pangkalan Jati, Depok.

Mural yang dibuat bertemakan "Dari Jalan Palestina untuk Palestina", dilukis di atas dinding panjang yang membentuk gang kecil itu. Bersama satu muralis, para pemuda setempat sigap membantu kebutuhan pelukisan mural. Ide melukis mural tersebut datang dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama karang taruna RT 2 di Jalan Palestina.

Naufal dari tim ACT mengatakan pelukisan mural ini merupakan bagian dari gerakan kepedulian terhadap krisis kemanusiaan yang masih membelenggu Palestina. "Kami ajak pemuda setempat untuk ikut dalam gerakan kepedulian ini. Apalagi nama jalannya sudah merepresentasikan negeri Palestina. Karang taruna di sana pun menyambut baik dan antusias sekali untuk membantu menggerakkan kepedulian ini melalui seni mural di gang perumahan mereka," ungkap Naufal.

Mengenai seluk-beluk nama Jalan Palestina sendiri, jalan tersebut sudah diberi nama Jalan Palestina sejak 1989 – 1990an. Hal ini dijelaskan oleh Ustaz Nuruddin, seorang tokoh masyarakat setempat. “Memang udah lama kalau Gang Palestina, bukan baru-baru ini gak punya nama kita namain, bukan. Memang dari awal, awalnya itu”, ujar Nuruddin, Jumat (1/3).

Ustaz Nuruddin mengaku bahwa dulu sempat ada perbedaan pendapat antarwarga dalam penamaan jalan tersebut. Sebelum dinamai Jalan Palestina, tanah itu milik kakeknya. Tanah tersebut kemudian ia wakafkan untuk menjadi jalan umum.

Selepas berlangsung diskusi yang cukup alot antarwarga terkait dengan penamaan jalan wakaf tersebut, akhirnya mereka sepakat untuk menamainya Jalan Palestina. Menurut Ustaz Nuruddin, penamaan ini juga menunjukan dukungan dan kepeduliaan ummat Muslim di Indonesia terhadap isu Palestina.

Salah seorang warga di Jalan Palestina berkisah, dahulu remaja di daerah itu cukup senang membaca koran, tidak seperti kebanyakan pemuda zaman sekarang. Apalagi dahulu banyak pemuda yang bekerja sebagai loper koran dan pedagang koran jumlahnya masih cukup banyak. Dari koran-koran itulah mereka mengikuti kabar terbaru mengenai Palestina sekaligus membangun kepedulian masyarakat mereka.

Ustaz Nuruddin menambahkan, selama ini Jalan Palestina sering digunakan untuk acara tahunan seperti peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan acara santunan bagi yatim dan warga prasejahtera.

Menurutnya, cukup banyak jumlah penerima manfaat dari santunan yang diadakan setiap tahun tersebut. “Tahun yang lalu itu hampir 140” ujar Ustaz Nuruddin. Bagi ustaz lulusan Pondok Pesantren Tebuireng ini , realisasi dari perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dapat melalui kegiatan santuan bagi yatim dan warga kurang mampu di sekitar.

Ahmad selaku Ketua Karang Taruna setempat menambahkan, selain dari Jalan Palestina, ada juga suatu lapangan di sekitar daerah tersebut yang dikenal oleh masyarakat dengan nama “Lapangan Gaza”. Menurut Ketua Forum Solidaritas Remaja Pemuda-Pemudi RT 22 ini, lapangan seluas hampir 5.000 m itu kerap dijadikan lokasi kegiatan besar seperti acara perayaan hari kemerdekaan Indonesia dan pasar malam. “Kan di sini (Jalan Palestina) gak memungkinkan, makanya kita alihkan ke (Lapangan) Gaza itu,” ujar Ahmad.

Fachriza, sang muralis, berharap karyanya mampu meningkatkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kondisi yang dihadapi rakyat Palestina. “Intinya sih untuk lebih menggerakkan kepedulian masyarakat Indonesia lah. Untuk saat ini lebih memperhatikan lagi ke saudara kita yang ada di Palestina. Dan isu-isu yang sekarang terlihat kan dan terdengar tidak seperti yang beredar. Tapi ternyata lebih parah gitu," ungkap Fachriza. []