Menghadapi Badai Pandemi Demi Tanggungan Kebutuhan

Agak berat bagi Sanaria menghadapi pandemi ini. Suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan diberhentikan karena proyeknya mogok, sementara dagangannya seringkali hanya untung tipis, dan tak jarang merugi.

Sanaria sedang menjaga warungnya. (ACTNews)

ACTNews, MALUKU – Ketika matahari baru terbit, Sanaria akan membuka dagangannya. Larut malam di sekitar pukul 21.00 WITA, ia akan pulang ke rumah. Demikian keseharian Sanaria. Perempuan berusia 48 tahun ini sehari-harinya berdangang gorengan di sebuah tempat wisata bersama suaminya.

Awalnya, keluarganya punya penghasilan tambahan dari sang suami yang bekerja sebagai buruh bangunan. Namun karena proyek berhenti, suaminya kini membantu istrinya berjualan gorengan untuk menghidupi keempat anak mereka.

“Saya tidak bisa berdiam di rumah, karena saya banyak tanggungan. Anak saya empat orang. Untuk biaya hidup sehari-hari pun susah kalau tidak bekerja. Belum lagi biaya lainya seperti listrik dan membayar hutang di bank. Makanya saya dan suami tetap harus kerja meskipun ada badai pandemi seperti ini,” kata Sanaria kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Selasa (30/5) lalu.

Seperti diketahui masyarakat, dampak pandemi tidak hanya mengancam kesehatan, tapi juga menghantam sektor ekonomi. Banyak yang terhimpit oleh kebutuhan hidup dan kebutuhan modal usaha untuk melanjutkan kehidupannya.


Sanaria saat menerima bantuan dari Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI). (ACTNews)

Tidak terkecuali Sanaria yang sekarang semakin merasakan kesulitan karena sulitnya berdagang di masa pandemi. Sanaria mengaku terkadang jualannya tidak habis terjual, apalagi di beberapa waktu belakangan di bulan Mei ini, gempa kerap mengguncang Maluku. Jualannya semakin sepi dan ekonomi keluarganya kian merosot. 

“Untuk modal saja enggak pulang (balik modal). Saya pernah putus asa untuk berjualan. Seperti mau menangis karena pendapatan saya hanya Rp100 ribu  sehari. Kadang juga enggak sampai. Bahkan saya merugi. Dengan keadaan seperti ini, kita enggak mati karena terpapar virus, tapi harus mati karena menahan lapar,” kisah Sanaria.

Cerita Sanaria merupakan salah satu cerita yang mewakili berbagai pedagang kecil maupun pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19 di Maluku. Untuk membersamai mereka,  ACT menginisiasi program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI).


“Untuk terus membersamai saudara-saudara kita yang terdampak pandemi dalam aspek sosial dan ekonomi, ACT menginisiasi program Sahabat UMI. Tujuan kami adalah ingin menumbuh kembangkan UMKM dengan dana yang bersumber dari bantuan para dermawan. Sehingga saudara-saudara kita, para pelaku UMKM yang saat ini sedang membutuhkan, dapat melewati pandemi ini,” ungkap Wahab Loilatu selaku Kepala Cabang ACT Maluku.

Sanaria adalah salah satu penerima manfaat dari Sahabat UMI di Maluku. Wahab berharap nantinya Sahabat UMI dapat lebih banyak lagi menyapa para penerima manfaat seperti Sanaria.

“Sahabat UMI ini ditujukan kepada Ibu-ibu yang memiliki aneka usaha pangan rumahan seperti penjual nasi uduk, penjual pecel, penjual makanan ringan lainnya dengan bantuan modal usaha secara langsung. Ini adalah bentuk apresiasi kita kepada mereka, para tulang punggung keluarga yang tak lelah mencari nafkah demi menghidupi keluarga tercinta,” ucapnya. []