Menghadirkan Air Bersih untuk Keluarga Prasejahtera di Gaza

Hanya sekitar 10% warga Gaza yang dapat memperoleh akses untuk air bersih, sementara sisanya harus puas dengan air berpolutan. Mengatasi permasalahan tersebut, ACT bekerja sama dengan Kitabisa.com mengalirkan air bersih lewat Humanity Water Tank kepada warga Gaza.

Menghadirkan Air Bersih untuk Keluarga Prasejahtera di Gaza' photo
Anak-anak di Gaza sedang menampung air bersih dari Humanity Water Tank untuk keluarga mereka. (ACTNews)

ACTNews, GAZA - Anak-anak berkejaran menyambut bunyi mesin armada Humanity Water Tank di salah satu distrik di Gaza. Tangan-tangan kecil itu menenteng jeriken, ember, baskom, bahkan panci untuk menampung air. Di tengah terik panas, bolak-balik mereka dari dalam ke luar rumah dari armada dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini hingga mereka dapat menampung sebanyak 20 liter air.

Air bersih di Gaza memang sesuatu yang bisa dibilang kebutuhan mendesak. Gregor von Medeazza selaku Chief of Water and Sanitation UNICEF pada awal tahun ini, menyatakan sekitar 90% kepala keluarga di Gaza memang memiliki air. Tetapi alih-alih mendapat air bersih, mereka seringkali mendapat air yang mengalir penuh dengan polutan berbahaya. Situasi bertambah buruk 15 tahun belakangan karena hanya 10% warga Gaza yang mampu mengakses air bersih.

Melihat realitas tersebut, ACT bekerja sama dengan Kitabisa.com, menurunkan armada Humanity Water Tank pada Kamis (19/12). Mobil ini akan mendistribusikan 20 liter air untuk masing-masing satu keluarga di beberapa titik yang ada di Palestina.

“Target kita adalah Kota Gaza, Gaza Utara, dan Gaza Tengah, juga di Kota Khan Younis dan Rafah. Ada belasan puluhan titik di wilayah-wilayah tersebut yang kita sasar untuk distribusi air kali ini. Terutama di kawasan di mana banyak masyarakat prasejahtera yang tinggal,” kata Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT, Jumat (20/12).

Humanity Water Tank sedang menuju salah satu titik distribusi di Gaza. (ACTNews)

Selain di permukiman masyarakat prasejahtera, Humanity Water Tank juga akan menyasar sekolah, masjid, klinik, serta sarana umum masyarakat lainnya. Armada ini akan berjalan selama dua minggu, dan setelah dua minggu mendistribusikan air, Humanity Water Tank akan kembali ke titik awal distribusi dan mengulang siklusnya hingga seterusnya.

“Dengan sistem distribusi seperti itu, kita berencana menyasar sekitar 19.400 penerima manfaat yang membutuhkan air di Gaza. Mudah-mudahan ini dapat meringankan kesulitan air yang selama ini menimpa Gaza. Apalagi ditambah dengan suasana wilayah mereka yang sedang berkonflik,” harap Faradiba.

Penjajahan memang ikut memainkan peran penting dalam krisis air di Palestina. Bangsa Palestina yang hingga kini masih dijajah Israel, tidak diberi hak untuk mengakses air bersih. Tak hanya di Gaza, fakta serupa juga ditemukan di Tepi Barat. Bangsa Palestina di Tepi Barat tidak mendapat akses untuk menggunakan sumber air di sana.

Bahkan bangsa Palestina sampai dipaksa untuk membeli hampir seperempat air bersih kepada Israel. Fakta menyebutkan, Israel telah menggunakan 71 persen sumber air bersih di Tepi Barat atau setara 300 liter per orang. Sementara bangsa Palestina hanya bisa menggunakan 17 persen atau sekitar 72 liter per orang. Padahal akses memperoleh air bersih adalah hak dasar setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebagaimana ditetapkan dalam Resolusi Majelis Umum PBB 64/292 pada 28 Juli 2010. Namun, bagi bangsa Palestina, resolusi itu seolah tidak berlaku.

Selain karena blokade total yang dilakukan Israel, krisis air bersih juga disebabkan oleh kualitas airnya sendiri. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Maret lalu, 97 persen air yang berasal dari tanah Gaza terindikasi gagal memenuhi standar kualitas minimum untuk air minum. []


Bagikan