Menghadirkan Daging Kurban di Tengah Sulitnya Ekonomi Akibat Pandemi

Selain warga perkotaan, mereka yang tinggal di daerah dan pedesaan pun ikut merasakan dampak pandemi Covid-19 pada perekonomian. Di tengah bencana tersebut, Global Qurban membawa sedikit kebahagiaan bagi mereka, lewat paket daging kurban yang terdistribusi sebagai pemenuh pangan di hari raya.

Proses pengemasan daging kurban sebelum didistribusikan bagi warga Kampung Cicondong, Tasikmalaya, Sabtu (1/8). Hari itu menjadi akhir dari lamanya penantian warga atas hadirnya daging kurban. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, TASIKMALAYA – Jalan sempit yang hanya muat untuk satu mobil menyambut tim Global Qurban - ACT saat menuju SDN Tirtawening yang ada di Kampung Cicondong, Desa Cibeuti, Kecamatan Kawalu, Tasikmalaya. Di sekolah yang sedang tidak ada kegiatan belajar-mengajar sejak pandemi Covid-19 itu, Global Qurban - ACT melakukan pemotongan hewan kurban saat hari tasyrik pertama, Sabtu (1/8). Seekor sapi disembelih yang menjadi ratusan paket daging dan didistribusikan ke warga Kampung Cicondong serta warga kampung di sekitarnya.

Hadirnya penyembelihan dan pendistribusian kurban di Cicondong membawa kesan tersendiri bagi warga. Pasalnya, ini merupakan kurban pertama setelah beberapa tahun tak ada daging kurban menyapa mereka. Di tengah pandemi Covid-19, warga mengenakan masker untuk hadir menyaksikan prosesi penyembelihan, pencacahan, pengemasan hingga pendistribusian langsung ke rumah-rumah warga.

Henih, salah satu warga, mengatakan tak adanya kurban di Cicondong merupakan dampak ekonomi warga yang masih lemah. Sebagian warga berprofesi sebagai petani dengan lahan garap yang tak luas. Selain itu ada juga buruh dan pekerja serabutan, seperti suami Henih. Maka dari itu, tak heran Iduladha tahun 2020 tak ada pekurban dari kampung mereka. “Ini kurban pertama setelah beberapa tahun enggak ada kurban. Makanya warga rame kan ngeliat motong sapinya,” ungkapnya Henih yang ekonominya juga terdampak akibat pandemi.

Daerah yang lokasinya tak jauh dari pusat Kota Tasikmalaya ini juga rawan mengalami bencana kekeringan. Jika sudah masuk musim kemarau, banyak lahan sawah yang kering karena tak mendapat pasokan air. Jika begini, warga memilih pasrah. Apalagi di Agustus 2020, kemarau mulai datang dan warga pun tak mungkin merantau untuk mencari uang karena terbatasnya aktivitas selama ada wabah.

Memang, kondisi ekonomi warga Cicondong seakan diuji berkali-kali. Pandemi yang masih berlangsung sejak Maret lalu, kini mereka dihadapi dengan adanya ancaman kekeringan. Sebelum pandemi pun ekonomi warga mayoritas prasejahtera, dan kini ekonomi mereka pun terancam semakin menurun jika tanpa ada bantuan.[]