Menghadirkan Kebahagiaan Ramadan di Tengah Konflik Panjang Irak dan Afghanistan

perang di Afghanistan juga Irak, telah membunuh ratusan ribu jiwa warga sipil.

Menghadirkan Kebahagiaan Ramadan di  Tengah Konflik Panjang Irak dan Afghanistan' photo

ACTNews, IRAK, AFGHANISTAN - Seiring negara ini pulih dari terorisme dan bergulat dengan konflik domestik, ketidakstabilan sekaligus ketidakpastian terus menggentayangi Irak. Seiring dengan itu pula ada perubahan yang terjadi, mulai dari standar hidup, peluang ekonomi, hingga pengaruh invasi eksternal dalam 16 tahun terakhir.


Irak menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang juga mengalami konflik berkepanjangan. Urusan politik dalam dan luar negeri hingga kini masih sangat abu-abu di Irak. Bahkan tak sedikit jumlah negara di dunia yang hingga kini masih memberikan zona merah, melarang warganya mengunjungi Irak demi alasan keamanan. Imbasnya, tertutupnya Irak dari dunia luar membuat kehidupan warganya pun kian krisis. Fakta menyebutkan kebanyakan dari mereka hidup hanya bergantung dengan bantuan kemanusiaan di tengah kecamuk perang saudara yang tak kunjung berakhir.  


Penghujung Ramadan lalu, tepatnya Sabtu (29/5), Aksi Cepat Tanggap membersamai warga muslim di Irak. Lewat kegiatan iftar bersama, ACT bagikan makanan siap santap untuk mereka yang tinggal di Diyala dan Al Anbar. Kedua wilayah ini berbatasan langsung dengan Baghdad sebagai ibu kota Irak. Karena kedekatan keduanya dengan sentral dari wilayah konflik di Bagdhad, kedua lokasi ini sering menjadi titik konflik.




Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) - ACT memaparkan, kegiatan iftar bersama memang mengundang seluruh masyarakat yang terdampak konflik. Hal ini sebagai ikhtiar ACT untuk menghadirkan kebahagiaan Ramadan bahkan hingga ke negeri yang dirundung konflik. Iftar yang berlangsung hingga Senin (3/6) itu telah mengundang sebanyak 2.500 penerima manfaat.


“Selama hampir sepekan relawan ACT di Diyala dan Al-Anbar menyiapkan ribuan makanan iftar untuk warga Irak. Makanan dibagikan langsung di halaman masjid. Makanan juga dibawa ke tenda-tenda pengungsian warga Irak yang tak memiliki tempat tinggal permanen karena perang,” jelas Faradiba.


Dapur Iftar Indonesia juga sampai ke Afghanistan


Serupa dengan nasib Irak yang dirundung perang menahun, nasib sama juga dialami oleh jutaan warga Afghanistan. Sejak tahun 2001, konflik itu dimulai. Sejumlah pihak eksternal berinvasi dengan tujuan menyasar kelompok-kelompok agresif.


Sejak saat itu pula nasib warga Afghanistan berada dalam kepungan konflik sipil. Ekonomi kolaps, hingga keamanan warga tak ada yang bisa menjamin.





Namun, dalam nasib yang tidak menentu, Ramadan tetap dirayakan oleh segenap muslim di penjuru Afghanistan. Seperti yang dilaporkan oleh relawan ACT di Afghanistan, mereka memastikan Dapur Umum Indonesia di Afghanistan berjalan setiap harinya, memasok iftar untuk muslim Afghanistan.


Faradiba mengatakan, relawan ACT di Afghanistan selalu mengirimkan gambar tentang perayaan berbuka puasa di halaman masjid.


“Sepanjang minggu ke-2 sampai ke-3 Ramadan lalu, tiap harinya sedikitnya 1.400 paket makanan iftar dibagikan di halaman masjid di Afghanistan. Mereka yang diundang untuk berbuka puasa bersama adalah keluarga Afghanistan korban perang, keluarga miskin, juga jemaah masjid,” papar Faradiba.


Melansir laporan Brown University’s yang menghitung tentang dampak perang - dalam laporannya bertajuk “Cost of War Project” - perang di Afghanistan juga Irak, telah membunuh ratusan ribu jiwa warga sipil. Laporan itu menyebutkan, konflik di Afghanistan paling sedikit telah membuat tak kurang 38 ribu warga sipil tewas. Sementara konflik di Irak, memicu kematian lebih dari 200 ribu warga sipil. []

Bagikan