Menghadirkan Sumur Wakaf Hingga Penjuru Dunia

Kebermanfaatan pembangunan Sumur Wakaf oleh Global Wakaf-ACT telah menjangkau sembilan negara sepanjang Januari-Juni 2021, lebih dari 150 ribu jiwa merasakan manfaat sumber air tersebut.

Salah satu keberhasilan pembangunan Sumur Wakaf di Gaza, Palestina. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Air merupakan kebutuhan dasar setiap manusia yang semestinya dengan mudah bisa diakses oleh siapa pun. Namun hal ini tidak berlaku di negara-negara yang tengah mengalami krisis air. Nasib miliaran orang yang masih menanti akses air yang bersih dan layak untuk bertahan hidup.

Data World Resources Institute (WRI) menyatakan, sebanyak 1,8 miliar orang di 17 negara saat ini atau sekitar seperempat dari populasi dunia hidup di wilayah dengan persediaan air yang tak sebanding dengan kebutuhan warganya. 

Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara adalah wilayah yang paling mengalami krisis air. Bank Dunia menyebut hal ini berdampak pada kerugian ekonomi di wilayah tersebut, diperkirakan 6-14 persen dari PDB pada tahun 2050 nanti.

Tak ingin berdiam diri atas permasalahan krisis air yang menimpa negara-negara dunia saat ini, Global Wakaf-ACT berikhtiar dalam program pembangunan Sumur Wakaf, yang mana sebagai wujud kepedulian atas penyediaan fasilitas air bersih dan sanitasi yang layak.

“Alhamdulillah, kebermanfaatan pembangunan Sumur Wakaf menjangkau hingga penjuru dunia. Tahun 2021 Global Wakaf-ACT telah membangun Sumur Wakaf di sembilan negara, yakni Bangladesh, Ghana, Kenya, Mali, Palestina, Myanmar, Somalia, Uganda, dan Yaman,” jelas Firdaus Guritno dari Tim Global Humanity Response-ACT, Senin (28/6/2021).

Kebermanfaatan pembangunan Sumur Wakaf oleh Global Wakaf-ACT bahkan berhasil menjangkau lebih dari 150 ribu jiwa di negara-negara tersebut sepanjang Januari-Juni 2021. 

“Ikhtiar membangun Sumur Wakaf harus selalu diperjuangkan Sahabat Dermawan, kita sebagai masyarakat yang memiliki akses air berlimpah selayaknya bersyukur karena saudara-saudara kita selalu dilanda kekeringan atau harus menempuh jarak berkilometer hanya untuk mendapatkan setetes air,” tambah Firdaus.[]