Menghalau Wabah di Suriah

Sejumlah langkah diambil otoritas Suriah untuk menghalau wabah yang semakin meluas. Akhir Maret lalu, diketahui satu orang warga Suriah di Damaskus postif terjangkit Covid-19, pembatasan sosial pun dilakukan. Namun, bagaimanakah nasib para pengungsi yang harus berdesakkan di tenda?

Menghalau Wabah di Suriah' photo
Pengungsi Suriah di kamp pengungsian hidup dalam keterbatasan. Jutaan orang yang tinggal di tempat padat itu berisiko tinggi tertular Covid-19 jika salah satu di antara mereka terjangkit.(ACTNews)

ACTNews, IDLIB, DAMASKUS, LEBANON “Jangankan perlindungan, kami kekurangan air. Bagaimana kami bisa mencuci tangan lebih sering?” ungkap salah satu pengungsi Suriah di Kamp Pengungsian di Wilayah Idlib kepada Al Jazeera. Berjubalnya pengungsi Suriah di kamp yang padat menjadi kekhawatiran banyak pihak di tengah pandemi Corona saat ini.

Direktur Kesehatan Idlib Munzer Khalil mengatakan, pihaknya hanya memiliki seratus ruangan ICU dan ventilator yang terbatas. “Jika kita berbicara terkait corona, kita harus ingat jumlah ventilator yang dibutuhkan orang dewasa, dan tidak ada satu pun ventilator kosong yang siap untuk menerima pasien Covid-19,” kata Munzer, dilansir dari Al Jazeera.

Idlib hanya mempunyai tiga alat tes Covid-19. Masing-masing alat pemberian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) itu hanya mampu melakukan 100 tes. “Hal ini tentu tidak cukup untuk melakukan tes secara masif, namun setidaknya kami mengetahui bahwa kami memiliki sebuah kasus (Covid-19),” jelas Muhammad Shaham Makki, salah satu laboran penyelidik epidemologi.

Keresahan juga dirasakan para pengungsi Suriah di Lebanon, Muhammad Al Bakhas kepada TRT World mengatakan, walaupun pengungsi sudah mendapat penjelasan dan fasilitas kebersihan dasar, hal itu belum cukup untuk meredam kekhawatiran. “Mereka memberikan kami (pengungsi) perhatian dan sebatang sabun, namun itu saja tidak cukup. Ketika kami pergi ke apotek untuk membeli masker, harganya sekitar 4.000 LL dan 7.000 LL. Kami tidak mempunyai cukup uang untuk membeli itu. Kami minta disinfektan, kami butuh hand sanitizer, jumlah kami amat banyak. Kami meminta PBB dan dunia membantu kami,” cerita Al Bakhas.

Organisasi kerelawanan White Helmet Suriah melakan sejumlah langkah untuk memproteksi para pengungsi. Mereka melakukan disinfeksi tenda, membagikan masker, dan mengimbau para pengungsi untuk lebih sering mencuci tangan. Mereka juga melakukan pemeriksaan kesehatan, seperti pengukuran suhu tubuh di perbatasan.[]


Bagikan