Menghidupkan Tradisi Wakaf Umat Islam Terdahulu

Sedari zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, banyak sahabat yang telah mempraktikan wakaf. Dengan adanya wakaf, umat Islam dapat terus mengelola aset yang mereka berikan dan hasilnya akan bermanfaat bagi masyarakat luas. Namun saat ini, praktik wakaf sebagai penggerak roda ekonomi belum begitu tersebar dengan baik di tengah masyarakat modern.

Sarimas, pedagang makanan ringan di Pasar Terapung Lok Baintan. Pedagang-pedagang yang saat ini sedang kesulitan akibat pandemi, saat mengharapkan modal usaha untuk kembali memutar roda usahanya. (ACTNews/Fathoni)

ACTNews, JAKARTA - Setelah pembebasan tanah di Khaibar pada abad 7 Hijriah, Umar bin Khattab mendapatkan harta rampasan perang berupa tanah. Di atas tanah itu tumbuh pohon kurma yang begitu suburnya dan Umar sangat menyukai tanah tersebut. Tetapi ia mendatangi Rasulullah saat itu dan bertanya apa yang harusnya dia lakukan kepada tanah itu.

“Dia dapat tanah di Khaibar, tanah itu sangat mahal asetnya. Dia berkonsultasi ke nabi apa yang harus dia lakukan. Kata nabi, ‘Tahan tanahnya, tapi hasilnya itu yang kamu selalu infakkan,’ itulah wakaf,” cerita Ustaz Faris BQ ketika dihubungi pada Jumat (21/8) ini.

Kemudian dari sahabat nabi Ibnu Umar Radiyallahu Anhu meriwayatkan bahwasannya Umar bin Khattab menyedekahkan hasil tanah itu kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya. Seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.

Kisah lainnya datang dari Utsman bin Affan yang membeli sumur dari seorang Yahudi bernama Raumah. Setelah diwakafkan, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma yang hasilnya dapat dimanfaatkan.


Ustaz Faris BQ dalam peluncuran program Wakaf Modal Usaha Mikro pada Rabu (19/8) kemarin. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kemudian pusat kejayaan Islam yang berasal dari Madinah dipusatkan di masjid. Bukan hanya tempat salat, tapi juga di situ ada klinik, di situ juga untuk latihan peperangan, di situ untuk menerima diplomasi. Siapa yang meluaskan itu? Wakaf Sayyidina Utsman. Karena bangunan aslinya yang nabi beli dari 2 orang anak yatim ketika hijrah itu sangat kecil, 30 x 35 meter,” cerita Ustaz Faris mengacu pada masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Tidak berhenti sampai di situ, kebun tersebut dikelola dari generasi ke generasi, dari para khalifah sampai pemerintah Arab Saudi dibawah Kementerian Pertanian. Hasil dari kebun kurma tersebut oleh pemerintah Arab Saudi dijual ke pasar-pasar. Setengah keuntungan disalurkan kepada anak yatim dan yang membutuhkan. Setengahnya lagi disimpan dalam bentuk rekening di bank atas nama Utsman bin Affan yang dipegang oleh Kementerian Wakaf.

Uang rekening Utsman yang terus membengkak kemudian digunakan untuk membangun hotel bintang lima dengan nama Hotel Utsman Bin Affan. Hotel tersebut dikelola oleh Sheraton dan salah satu hotel bertaraf internasional dengan 15 lantai dan 24 kamar disetiap lantainya. Hotel Utsman dilengkapi dengan restoran besar dan tempat belanja serta dekat dengan Masjid Utsman bin Affan yang juga masih aktif digunakan.


Oleh karenanya Ustaz Faris menyebut bahwa tradisi wakaf yang diajarkan kepada umat Islam sebenarnya begitu tinggi. Dengan aset yang bisa berkembang, Islam mengajarkan umatnya untuk selalu produktif. Namun gagasan wakaf yang produktif di Indonesia kurang begitu mendapat tempat karena lebih banyak yang mengenal wakaf sebagai masjid. Ustaz Faris mengutip hadis yang mengatakan bahwa siapapun yang membangun masjid akan mendapatkan rumah di surga.

“Seolah-olah bahwa siapa yang bangun masjid dia akan dapat rumah di surga. (Seperti) tidak ada amalan yang lebih besar dari itu lagi. Kenapa kita tidak menoleh kepada ayat, ‘Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (QS. Al Maidah ayat 32),’?” tanya Ustaz Faris.

Gagasan tentang wakaf produktif ini yang menurut Ustaz Faris mesti disebarluaskan kepada masyarakat. Apalagi di tengah situasi tidak pasti di mana masyarakat sedang menahan asetnya akibat pandemi. Ustaz Faris berharap, situasi seperti ini akan membangkitkan solidaritas sesama umat Islam agar bisa lebih produktif dan saling membantu.


“Semakin diuji, semakin baik. Semakin diuji semakin tinggi solidaritas. Semakin diuji semakin tinggi kepekaan sosial kita. Karena semangat itulah semangat beragama yang sesungguhnya. A ra'aitalladzii yukazzibu bid-diin. Fa dzaalikalladzii yaduul-yatiim. Wa laa yahuddu 'alaa ta'aamil-miskiin. Fa wailul lil-musalliin. Allah menyebutkan amalan-amalan taamuliyah (ibadah interaktif) tentang membantu anak yatim, tentang membantu fakir miskin, lebih dahulu daripada amal syaairiyah, ibadah-ibadah syiar dalam Islam seperti salat dan ibadah-ibadah mahdah lainnya. Wallahualam bisshowab,” jelasnya.

Sebab itu Ustaz Faris mengajak masyarakat untuk bersama menyalurkan harta terbaiknya lewat wakaf. Seperti saat peluncuran program Wakaf Modal Usaha Mikro pada Rabu (19/8) lalu. Melalui program ini, akan membantu masyarakat pemilik usaha yang sedang diuji akibat dari adanya pandemi untuk memperoleh modal usaha tambahan. “Marilah kita sama-sama mendukung ini. Cara kita merawat bangsa ini, cara kita menunjukkan cinta ini. Kita memberikan keberkahan yang luar biasa, kita bergerak sama-sama dalam Wakaf Modal Usaha Mikro ini,” ajak Ustaz Faris. []