Mengidamkan Bangunan Sekolah Layak

Bertahun-tahun ratusan siswa dan puluhan guru di Pasirlancar, Pandeglang harus berkegiatan di sekolah yang tak layak. Bangunan serta fasilitas penunjangnya mengalami kerusakan.

Mengidamkan Bangunan Sekolah Layak' photo
Lokal di SDN Pasirlancar 2, Sindangresmi, Pandeglang yang mengalami kerusakan sejak beberapa tahun. Belum ada sentuhan renovasi, walau tiap tahunnya sekolah mengajukan perbaikan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, PANDEGLANG – Rekahan dinding di salah satu lokal di Sekolah Dasar Negeri Pasirlancar 2 selebar lebih kurang 5 sentimeter. Garisnya memanjang dari bagian atas hingga ke bawah. Celahnya cukup lebar, membuat mata dapat melihat apa yang ada di ruang sebelah.

Gempa-gempa dengan magnitudo kecil yang sering terjadi di Pandeglang disebut menjadi penyebab dinding sekolah negeri ini mengalami kerusakan. Posisi bangunan yang terletak di tanah yang miring pun diduga mempengaruhi kondisi bangunan.

Lantai-lantai sekolah pun banyak yang mengelupas dan pecah karena terinjak-injak murid. Bahkan, di beberapa ruang lain lantainya telah berganti dengan tanah. Jika kita melangkahkan kaki dengan kencang, debu akan berterbangan dan menganggu pernapasan. “Kondisi ini sudah bertahun-tahun dan belum ada renovasi,” ungkap Dedi Mulyadi, guru di SDN Pasirlancar 2, Sabtu (23/11).

Tak hanya bangunan yang mengalami kerusakan, fasilitas pendukung pendidikan pun mulai kurang layak digunakan. Meja dan kursi belajar banyak yang sudah mengalami pelapukan termakan usia. Langit-langit ruang kelas banyak yang berlubang dan pihak sekolah mengakali dengan menambalnya menggunakan papan bekas. Bahkan foto wakil presiden Indonesia pun yang terpajang masih Jusuf Kalla.


Lokal di SDN Pasirlancar 2, Sindangresmi, Pandeglang. (ACTNews/Eko Ramdani)

Pihak sekolah mengaku telah mengajukan dana untuk perbaikan sekolah pihak-pihak terkait, bahkan tiap tahun. Namun, pengajuan tak kunjung mendatangkan kabar baik. Bahkan saat ini pihak sekolah sedang khawatir terkait kondisi bangunan. Setelah musim kemarau yang panjang membuat tanah kering, saat ini para guru khawatir ketika musim penghujan datang dapat menghadirkan longsor di tanah yang di atasnya berdiri empat ruang kelas. “Tanah ini sekarang kering, kalau tiba-tiba terkena air hujan yang cukup deras takutnya longsor. Apalagi enggak ada tanggul penahan untuk kelas yang berada di atas,” tambah Dedi.

Masih di desa yang sama, Pasirlancar, terdapat Madrasah Ibtidaiyah Manlu Cikarang. Sekolah ini merupakan salah satu dari tiga sekolah setara SD yang ada di Pasirlancar. Kondisinya tak jauh berbeda dengan SDN Pasirlancar 2, bahkan lebih parah. Hanya dua lokal yang saat ini dapat digunakan. Empat lokal lainnya sejak 2015 tak lagi dapat digunakan setelah mengalami kerusakan akibat gempa-gempa kecil dan angin puting beliung. Tak adanya anggaran perbaikan membuat enam tingkat kelas tiap harinya belajar bersama dengan dua lokal yang tersisa.


Kegiatan pramuka di MI Malnu Cikarang, Sindangresmi, Pandeglang, Sabtu (23/11). (ACTNews/Eko Ramdani)

Sajad Setiadi (50) selaku Kepala Cabang MI Malnu Cikarang mengatakan, pihak sekolah tidak memiliki anggaran untuk merenovasi ruang kelas. Bahkan, untuk sekadar membayar gaji guru pun mereka masih kesulitan. Pihak sekolah membayar guru per enam bulan sekali menunggu dana dari biaya operasional sekolah cair. Hitungannya, tiap guru mendapatkan gaji Rp 400 ribu per bulan, namun dirapel enam bulan.

“Untuk bangun gedung di sini (Desa Pasirlancar) biaya mahal, ongkos kirim material bangunan tinggi karena akses jalan yang susah,” jelas Sajad,  Sabtu (23/11).

Kini, guru-guru hanya mendambakan bangunan dan fasilitas di sekolah tempatnya mengajar dibangun layak dan nyaman bagi kelancaran belajar dan mengajar. Hal ini juga mempertimbangkan keselamatan para murid. []

Bagikan