Mengobati Trauma di Malam Pertama Ramadan

Bagi warga terdampak banjir Bengkulu, Tarawih di malam pertama Ramadan dapat mengobati trauma.

Mengobati Trauma di Malam Pertama Ramadan' photo

ACTNews, BENGKULU – Taawuz menjadi tanda dimulainya tilawah Alquran selepas salat Tarawih Ahad (5/5) malam. Sejumlah jemaah masih tinggal di dalam masjid, mereka segera membuka Alquran sesuai arahan imam masjid yang memimpin tilawah. Seperti tahun lalu, kegiatan ibadah pada bulan Ramadan di Masjid Al Azhar Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Sungai Serut, Kota Bengkulu tetap dilaksanakan. Bulan Ramadan menjadi pengobat trauma atas musibah banjir yang melanda Tanjung Agung sepekan lalu.

Nursima (58) segera memenuhi saf wanita. Mukena dan sarung telah ia kenakan sejak berangkat dari rumah. Nursima mengaku, sangat bersyukur sudah bisa melaksanakan ibadah Tarawih di masjid Al Azhar itu. “Masjid kemarin juga terendam. Bersyukur hari ini sudah bisa Tarawih di sini,” ceritanya.

Ramadan kali ini, menurut Nursima, memang agak dimaknai berbeda. Rasa prihatin masih ada dalam dirinya teringat musibah banjir yang juga merendam rumahnya sejak Jumat (26/4) malam. Bagi Nursima, bisa berkumpul bersama warga lain melaksanakan salat Tarawih adalah penghilang trauma. “Senang bisa ikut Tarawih. Kalau di rumah nanti malah kepikiran, ingat banjir, trauma,” kata Nursima lirih.


Kejadian Jumat hingga Sabtu dini hari itu memang masih membekas di kepalanya. Ia menjadi salah satu warga yang dievakuasi dengan perahu karet. Menurut keterangan Nursima, air merendam hingga dada orang dewasa. Ia bersama tiga anggota keluarga lainnya pun terlebih dahulu menyelamatkan harta benda. Sekitar pukul tiga pagi, tim sar baru mengevakuasi warga termasuk dirinya. “Mengungsi ke sana, simpang (persimpangan) jalan yang lebih tinggi,” katanya. Nursima pun berniat, puasa Ramadan tahun ini harus dijalankan penuh walaupun terdampak musibah banjir.

Selain Nursima, haru pun terlihat dari wajah Tuti (44). Ia mengaku sangat bersyukur bisa melaksanakan salat Tarawih bersama keluarganya malam itu. “Senang bisa Tarawih dengan baik, walaupun badan ini masih pegal-pegal, sakit semua, masih harus beres-beres hingga tadi siang,” kata Tuti. Ia pun bersyukur seluruh keluarga sehat memasuki Ramadan kali ini walaupun sempat diterjang musibah.

Tidak berkurangnya semangat warga dalam menyambut bulan Ramadan juga disampaikan Ahmad Saparudin (46) selaku Ketua RT sekaligus pengurus Masjid Al Azhar. Menurutnya, respons berbagai elemen masyarakat sangat baik dalam membenahi masjid pascabanjir. “Kemarin banyak relawan yang bantu masyarakat membersihkan masjid, mulai dari kepolisian, TNI, SAR, hingga relawan-relawan lain. Ada yang membersihkan halaman, membersihkan karpet sajadah, sehingga sejak beberapa hari lalu masjid sudah bisa digunakan untuk salat dan malam ini digunakan untuk Tarawih,” cerita Ahmad.

Walaupun begitu, ia pun tak ayal melihat ada sejumlah warga yang masih trauma. Bahkan keluarga Ahmad, pada malam kejadian, Sabtu dini hari, Ahmad dan keluarga sudah mengungsi di dalam masjid karena rumah mereka sudah tergenang air. Sayangnya, semakin lama air perlahan-lahan juga memasuki bangunan masjid. “Tau-tau jam tiga sudah sampai sini (dalam masjid), kami langsung mengungsi. Yang lain (warga) ikut. Kami baru kembali ke rumah keesokan harinya,” cerita Ahmad.


Ahmad menceritakan, musibah banjir tetap tidak menghilangkan keguyuban warga. Setiap hari pada bulan Ramadan, warga pun dikumpulkan di masjid dengan berbagai kegiatan yakni buka puasa bersama hingga tilawah Alquran. Di tengah keadaan selepas banjir, Ahmad mengatakan, warga tetap berusaha menyediakan hidangan berbuka untuk para jemaah dan musafir. “Nanti setiap warga bergantian membawa makanan, begitu selama 30 hari,” imbuhnya.

Di samping keadaan warga yang mulai membaik, Ahmad menceritakan, kondisi masjid butuh sejumlah perbaikan, beberapa kerusakan juga disebabkan banjir. Hal itu juga menjadikan warga semakin erat bergotong royong. []

Bagikan