Menguatkan Perjuangan Palestina Layaknya Keluarga

Sister Family Palestine-Indonesia merupakan jawaban dari permasalahan sosial di Palestina. Sekaligus menjadi mediator yang mempersaudarakan keluarga Indonesia dan Palestina.

keluarga palestina
Ilustrasi. Keluarga Palestina (ACTNews)

ACTNews, PALESTINA – Kondisi Palestina saat ini terus mencekam karena terus diserang zionis Israel. Banyak keluarga kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, dan kehidupan mereka semakin buruk.  Menurut survei tim Humanitarian Country Team sebanyak 2,45 juta penduduk Palestina membutuhkan bantuan.

Rincian dari jumlah tersebut, 1,57 juta tinggal di Jalur Gaza dan 883,6 ribu jiwa tinggal di West Bank. Bahkan 1,2 juta adalah anak-anak (kurang dari 18 tahun), 1,1 juta dewasa (18-65 tahun), dan 80.000 jiwa adalah lanjut usia (lebih dari 65 tahun). Sementara presentasi wanita sebanyak 49 persen dan laki-laki 51 persen. 

Penindasan seperti penggusuran terus dilakukan Israel terhadap warga Palestina. Padahal, European Union Representative and the EU Heads of Mission in Jerusalem and Ramallah menilai kebijakan penggusuran dan pembuatan permukiman Israel ilegal menurut hukum internasional. 

"Tindakan pemindahan paksa, penggusuran, pembongkaran ilegal dan menyerukan Israel untuk membatalkan segala penggusuran," tulis keterangan resmi European Union Representative and the EU Heads of Mission in Jerusalem and Ramallah akhir tahun 2020 lalu.

Tak hanya rumah dan tempat tinggal, warga Palestina juga harus menghadapi kehidupan yang sulit dan berada di jurang kemiskinan. Seperti contoh keluarga Sabaah Rehan (55) beserta tiga anaknya hidup miskin dan tinggal di jalur Gaza. Mereka terdampak aktivitas blokade yang dilakukan tentara Israel. 

Suami Sabaah Rehan meninggal dunia dan ketiga anaknya menjadi yatim. Sabaah Rehan harus berjuang hidup tanpa ada sumber penghasilan. "Saya tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari berupa kebutuhan makan, pakaian, sekolah, dan kesehatan," kata Sabaah Rehan.

Selain Sabaah, keluarga Ibtisam Abu Khousa juga hidup dalam kesusahan. Ia bersama kelima anaknya tinggal di Jalur Gaza, Palestina. Keluarga Ibtisam Abu Khousa terdampak konflik kemanusiaan yang masih terjadi hingga saat ini. 

Ibtisam Abu Khousa menceritakan kondisi mereka tidak aman, anak-anak tidak leluasa beraktivitas di luar. Gedung, rumah, masjid, peternakan, dan pertanian hancur akibat serangan senjata tentara Israel. Bahkan anak-anaknya tidak dapat bersekolah karena tidak memiliki biaya yang cukup. "Ditambah lagi kesulitan untuk membeli makanan setiap hari," jelasnya. 


Salah satu keluarga di Kamp Jabalia penerima bantuan tunai Sister Family Palestine-Indonesia. (ACTNews)
Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response-Aksi Cepat Tanggap menjelaskan kehidupan mereka sangat bergantung dari bantuan orang-orang dermawan dari luar Gaza. Dikarenakan tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan saat kondisi krisis yang terus terjadi. 

Untuk mendekatkan dengan keluarga Palestina yang prasejahtera seperti Sabaah Rehan dan Ibtisam Abu Khousa, ACT akan menjembataninya melalui program Sister Family Palestine-Indonesia. "Ini merupakan program bantuan kebutuhan dasar bagi keluarga prasejahtera di Palestina," kata Said. 

Sister Family Palestine-Indonesia merupakan jawaban dari permasalahan sosial di Palestina. Sekaligus menjadi mediator yang mempersaudarakan keluarga Indonesia dan Palestina. Mekanisnya dimulai dengan pengumpulan profil calon penerima manfaat, mengenalkan profil ke calon donor, proses persaudaraan keluarga terjalin, dan akhirnya ketahanan pangan serta jalinan persaudaraan Indonesia-Palestina terjaga. 

"Paket bantuan program Sister Family Palestine-Indonesia. Ini untuk sewa rumah, paket pangan, selimut, alas tidur, baju, celana, sepatu, kaos kaki, penghangat ruangan, dan perlengkapan sekolah," ujarnya.[]