Mengurai Ingatan Pilu Represi Kamp Reedukasi Uighur

Mengurai Ingatan Pilu Represi Kamp Reedukasi Uighur

Mengurai Ingatan Pilu Represi Kamp Reedukasi Uighur' photo

ACTNews, JAKARTA - Tidak ada yang salah dengan ruangan di mana Gulbahar Cililova (54) berada siang itu, Sabtu (12/1). Seisi ruangan terpapar sinar matahari yang langsung menembus dinding berupa kaca bening di sisi kiri ruangan. Udara sejuk air conditioner bersikulasi, menambah rasa nyaman di ruang yang ia tempati bersama puluhan awak media dalam acara diskusi bertajuk “Kesaksian dari Balik Penjara Uighur”. Semua nampak normal layaknya kondisi ruang pertemuan umum. Namun, yang Gulbahar rasakan adalah ruang gelap dan pengap yang pernah ia huni selama sekitar 1,3 tahun.

Ruang itu hanya seluas 7x6x3 meter dengan ventilasi udara yang minim. Di ruang ini lah Gulbahar ditahan sejak Mei 2017 lalu, bersama dengan lebih dari 40 tahanan perempuan beretnis Uighur dengan rentang usia 18-80 tahun. Dunia menyebut ruangan ini sebagai kamp reedukasi di mana jutaan etnis Uighur di ditahan dan diindoktrinasi otoritas setempat.

“Suasana kampnya benar-benar tidak layak. Semua aktivitas kami dilakukan di ruang pengap dan gelap itu, mulai dari tidur, makan, minum, sampai buang hajat. Tidak ada sekat pembatas, jadi semua yang ada di ruangan itu bisa melihat apa pun yang dilakukan masing-masing tahanan, termasuk buang hajat,” ucap Gulbahar getir.

 

Gambaran para tahanan yang dipenuhi luka lebam kembali muncul di benaknya. Beberapa di antara mereka bahkan diborgol kakinya dengan pemberat seberat 5 kilogram. Gulbahar mengatakan, luka-luka tersebut didapatkan ketika para tahanan tidak mematuhi peraturan represif yang diberlakukan.

Dijelaskan olehnya, peraturan tersebut mengontrol aktivitas harian para tahanan. Setiap harinya, aktivitas mereka dimulai pada pukul 5 pagi dan berakhir pada pukul 10 malam. Selama kurun waktu tersebut, mereka diwajibkan menghadap dinding di mana video propaganda komunis ditayangkan. Mereka tidak diizinkan untuk memalingkan pandangan dari tayangan propaganda tersebut. Ancaman hukuman diberikan jika mereka mengabaikan instruksi tersebut.

“Mereka yang melanggar aturan, termasuk melakukan gerak-gerik peribadatan Islam (salat) akan dibawa ke ruang khusus hukuman. Kondisinya sangat gelap, pengap, dan banyak tikus. Di sana, mereka dihukum dengan tingkat yang berbeda. Ada yang dipukul hingga lebam dan berdarah, ada yang kuku jari-jemarinya dilepas dari jari-jari mereka, ada yang diborgol dengan pemberat kaki seberat 5 kilogram, dan lainnya,” terang Gulbahar. Ia mengaku masih teringat jelas jeritan rasa sakit para tahanan di kamp itu.

Kerap melihat penyiksaan itu, Gulbahar pun beberapa kali depresi. Hal ini diperparah dengan kondisi fisik Gulbahar yang terus menurun. Sebulan pertama, ia mengaku kehilangan berat badan 20 kg karena menu makanan yang kurang bergizi. Selama setahun, setidaknya ia empat kali dilarikan ke rumah sakit tahanan. Tempat tersebut tak jauh berbeda dengan ruang tahanan yang tidak layak.

“Apa yang saya alami mungkin tidak separah dengan apa yang mereka (tahanan Uighur) alami. Penyiksaan yang mereka terima jauh lebih berat, dan bahkan ada yang mengalami pelecehan seksual,” ungkap Gulbahar.

Keberadaan Gulbahar di kamp konsentrasi itu karena sebuah tuduhan palsu yang dilayangkan kepolisian Cina kepada dirinya tahun lalu. Pebisnis yang sering melakukan perjalanan bisnis antara Kazakhstan dan Cina tersebut dituduh telah melakukan transfer ilegal sebesar 17.000 yuan ke seseorang yang bernama Nur Mohammed di Xinjiang.

“Tuduhan itu amat tidak benar, dan saya diduga warga Uighur di Xinjiang. Saya jelaskan bahwa saya adalah warga Kazakhstan, saya berikan KTP Kazakhstan saya dan semua dokumen kewarganegaraan saya. Tapi saya terus diinterogasi dan ditahan lebih dari setahun,” ungkap Gulbahar.

Selama penahanan Gulbahar, ia tidak dapat terhubung dengan keluarganya di Kazakhstan. Para tahanan, jelas Gulbahar, diberi tahu bahwa mereka tidak memiliki hak di sana, termasuk untuk melakukan panggilan telepon. “Saya baru tahu bahwa selama itu anak saya mengirimi saya surat, menanyakan saya di mana. Tapi surat itu tidak pernah sampai ke saya,” kisah Gulbahar.

Baru pada September 2018 lalu ia dibebaskan karena tidak ditemukannya bukti bahwa ia warga Uighur Xinjiang. Selain itu, proses pembebasan Gulbahar juga dilakukan setelah upaya lobi yang berkelanjutan oleh keluarganya dan Pemerintah Kazakhstan.

 

Gulbahar mengaku, meski empat bulan berlalu, ingatan pilu tindakan represi di kamp konsentrasi itu masih bercokol kuat dalam benaknya.

“Ketika saya akan keluar dari kamp itu, mereka (tahanan lain) berpesan kepada saya. ‘Kamu warga Kazakhstan tapi kamu pernah di sini dan melihat apa yang kita alami, bahwa penyiksaan itu benar adanya. Tolong beritahu masyarakat di luar sana soal kondisi kami.’ Ini yang membuat saya terus menceritakan pada dunia apa yang sebenarnya terjadi di sana,” jelas Gulbahar tegas. []

Bagikan

Terpopuler