Menilik Jejak Kedermawanan di Asia Tenggara

Nilai-nilai kedermawanan di Asia Tenggara sudah memunculkan akarnya sejak lama. Hingga 2022 ini, tren kedermawanan di Asia Tenggara pun telah berkembang dan mengalami sejumlah transformasi.

kedermawanan di asia tenggara
Ilustrasi. Nilai-nilai kedermawanan sudah ada di Asia Tenggara sejak lama. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – World Giving Index (WGI) yang dilaporkan oleh Charities Aid Foundation (CAF) pada pertengahan 2021 lalu mengumumkan hasil survey mengenai negara paling dermawan di dunia. Hasilnya, Indonesia menduduki peringkat pertama. Penilaian tersebut didasarkan atas tiga aspek, yakni membantu orang asing, menyumbangkan uang ke lembaga amal dan mengikuti kegiatan amal secara sukarela.

Menariknya, pengamat filantropi Islam Prof. Amelia Fauzia menyatakan bahwa selain Indonesia, beberapa negara di Asia Tenggara juga termasuk sebagai negara paling dermawan di Dunia. Malaysia, Thailand, dan Indonesia merupakan tiga negara tertinggi di dunia dalam hal kedermawanan di bidang zakat.

Amelia mengatakan bahwa penelitian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa tradisi berderma di Asia Tenggara sangat kuat. Tradisi ini pun dikatakan Amalia sudah terajut sejak lama. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kebiasaan dan kebudayaan dari negara-negara di Asia Tenggara.

"Misalnya di beberapa daerah, kalau ada seseorang lewat depat rumahnya, itu minimal pemilik rumah akan menawarkan orang tersebut untuk mampir dan minum terlebih dahulu. Kebiasaan ini merupakan bentuk berderma yang sangat khas di negara-negara Asia Tenggara dan sulit dijumpai di benua lain," jelas Amelia dalam seminar daring bertajuk 'Trend and History of Giving in Shoutheast Asia', (11/4/2022).

Lebih lanjut, Amelia juga menjelaskan bahwa kedermawanan di Asia Tenggara sudah banyak mengalami transformasi. Dari yang bentuknya tradisional, hingga berubah ke bentuk digital yang aksesnya mudah dan dapat diraih dari berbagai kalangan.

"Dulu, berderma itu sangat kental dengan memberikan barang atau bahan-bahan pokok, seperti beras. Proses berderma juga masih manual, kita mendatangi langsung secara tatap muka orang yang ingin dibantu. Namun, sekarang kita bisa berderma dengan metode digital lewat gadget melalui platform-platform sedekah yang jumlahnya sudah sangat banyak. Hanya memakan waktu sedikit untuk bisa berderma," jelas Amelia.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Chairman My Care Malaysia, Dr. Hafidzi Bin Mohd Nor menilai, kegiatan membantu antar negara di Asia Tenggara sudah dimulai sejak berlangsung bencana-bencana besar pada abad ke-18.

"Misalnya saat terjadi bencana besar seperti letusan Gunung Tambora pada tahun 1830, dan Krakatau pada 1883. Meski tidak ada dokumentasi tertulis dari segi bantuan yang disalurkan kepada penduduk yang terdampak, namun secara tabi'inya, penduduk serantau pasti menghulurkan bantuan, sekurang-kurangnya makanan dan perlindungan," ujar Dr. Hafidzi.

Hal senada juga disampaikan Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Dwiko Hari Dastriyadi. Dwiko menyebut, stimulus terbesar terhadap peningkatan berderma di Asia Tenggara memang adalah bencana alam. Ketika tsunami Aceh terjadi pada 2004 lalu, hampir seluruh negara di Asia Tenggara memberikan bantuan kemanusiaan untuk Indonesia dan negara lainnya yang terdampak.

"Selepas tsunami Aceh, praktik filantropi semakin pesat berkembang. Lembaga-lembaga kemanusiaan pun mulai berdiri, seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan lembaga-lembaga di tingkat mancanegara lainnya," kata Dwiko.

Hingga tahun 2022 ini, Dwiko menyebut tren kedermawanan terus berkembang pesat, termasuk untuk hal-hal yang disedekahkannya. Dulu, barang-barang yang disederhanakan cenderung masuk ke dalam kategori manfaat jangka pendek, seperti bahan-bahan makanan pokok. Namun, kini trennya telah bergeser menjadi hal yang sifatnya progresif dan memberikan manfaat jangka panjang.

"Seperti bantuan modal usaha. Manfaat dari bantuan ini akan terasa hingga bertahun-tahun sejak bantuan diserahkan ke mereka. Lewat modal usaha, manfaatnya bisa berkembang untuk para penerima manfaat mampu menghidupi seluruh anggota keluarganya, bahkan tak menampik bisa menyukseskan orang tersebut. Mengubah statusnya dari seorang penerima manfaat, menjadi orang yang gemar berderma," pungkas Dwiko. []