Menilik Perkembangan Budi Daya Ikan Gurame di Pati

ikan gurame memiliki nilai ekonomi paling tinggi dan merupakan hal baru di Desa Pasuruan, Pati. Warga Pasuruan umumnya membudidayakan ikan tombro, nila, dan wader.

ACTNews, PATI - Berupaya mengentaskan kemiskinan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Tengah terus memberdayakan masyarakat melalui sejumlah program pemberdayaan. Salah satunya melalui program budi daya ikan gurame di Desa Pasuruan, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, yang secara geografis memiliki potensi untuk peternakan maupun perikanan. 

Dimulai pada akhir Mei lalu, tim ACT Jateng telah menebar bibit ikan gurame sebanyak 3.500 ekor. Imam Muchyiddin selaku Koordinator Pengelola Kolam sekaligus perwakilan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kudus datang kembali ke lokasi, Ahad (5/7), untuk melihat dan memantau perkembangan budi daya ikan gurame. 

“Awalnya kita tebar ikan seukuran dua jari. Kini, terhitung sudah lebih dari sebulan, kita cek pertumbuhan ikan sudah dua kali lipat. Ini kabar yang menyenangkan,” kata Imam. 

Menurut Imam, pertumbuhan ikan gurame yang tergolong sukses karena konversi pakan atau Food Convertion Ratio (FCR) terserap menjadi daging pada tubuh ikan. “Awalnya kami menargetkan FCR di angka 1,2. Namun, setelah dilakukan sampling, FCR berada di angka 0,8. Semakin rendah FCR artinya pakan semakin terserap maksimal menjadi daging,” terang Imam.


Ada alasan tersendiri mengapa ikan gurame dipilih menjadi hewan yang dibudidayakan, Giyanto selaku Head of Partnership ACT Jateng mengatakan, ikan gurame memiliki nilai ekonomi paling tinggi dan merupakan hal baru di Desa Pasuruan. Warga Pasuruan umumnya membudidayakan ikan tombro, nila, dan wader.  

“Selain MRI Kudus, budi daya ikan gurame juga dikawal oleh pemerintahan Desa Pasuruan dan warga setempat yang terlibat dalam program tersebut. “Terima kasih kepada Kepala Desa Pasuruan yang sudah mengijinkan kami melakukan riset di tanah desa. Kami juga berterima kasih kepada YBM PLN Kudus sebagai mitra setia kami, serta segenap warga yang terlibat dalam program berkelanjutan ini,” tutur Giyanto. 

Sejalan dengan itu, Faradila dari YBM PLN Kudus berharap, sinergi ACT, mitra, dan masyarakat mampu menciptakan program yang bermanfaat. “Ke depannya program seperti budi daya ikan gurame dapat dijadikan inspirasi bagi warga Desa Pasuruan untuk mengelola sektor peternakan sesuai standar yang baik,” pungkas Faradila. []