Menilik Progres Hari ke-7 Pembangunan 1.000 Shelter Rohingya

Menilik Progres Hari ke-7 Pembangunan 1.000 Shelter Rohingya

Menilik Progres Hari ke-7 Pembangunan 1.000 Shelter Rohingya' photo

ACTNews, COX'S BAZAR - Ribuan bambu dalam ikatan-ikatan yang kokoh itu dipanggul satu per satu. Meniti jalan setapak pintu masuk Kamp Pengungsian Kutupalong, kamp terbesar yang dihuni nyaris setengah juta pengungsi Rohingya. Sudah sepekan berselang, setiap hari terus berulang. Ribuan bambu-bambu baru dibawa masuk ke dalam Kamp Kutupalong, masuk dalam wilayah Ukhiya, Distrik Cox’s Bazar, Chittagong.

Bambu berkualitas terbaik menjadi demikian penting karena bambu menjadi bahan baku utama sebuah proyek kemanusiaan skala besar di dalam Kamp Kutupalong. Proyek kemanusiaan yang diinisiasi oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan bangsa Indonesia ini berupa pembangunan 1.000 unit shelter atau hunian terpadu untuk Rohingya. Terhitung sejak Sabtu (4/11) kemarin, pembangunan 1.000 unit shelter sudah dimulai.

Sampai hari ini, Jumat (10/11), sepekan sudah sejak pertama kali tanah di salah satu sudut Kamp Kutupalong diratakan, pondasi dikuatkan. Sejak hari pertama proses pembangunan, Presiden ACT Ahyudin mengatakan, 1.000 unit shelter untuk Rohingya bakal berdiri di atas luasan tanah sekira 30 hektare, berlokasi di salah satu blok Kamp Kutupalong, Ukhiya.  

Selepas tujuh hari pembangunan awal, bagaimana kondisi progres pembangunan 1.000 shelter untuk Rohingya?

“Alhamdulillah, bangunan tiang-tiang shelter sudah berdiri kokoh. Dua set bangunan yang masing-masing berisi 12 unit shelter sudah hampir rampung. Artinya, sudah ada 24 unit shelter untuk 24 keluarga yang rampung dibangun,” kata Bambang Triyono, Direktur Global Humanity Response (GHR) – ACT mengabarkan langsung dari Kamp Kutupalong, Ukhiya.

Integrated Community Shelter, dari Indonesia untuk Rohingya

Sesuai rencana awal, hunian yang dibangun dari Indonesia untuk Rohingya, tak sekadar berisi kamar dan dapur saja. Bambang menjelaskan, shelter akan dibangun dengan konsep terintegrasi. “Insya Allah, selain bangunan inti berisi kamar dan dapur, shelter terintegrasi pula dengan bangunan enam masjid, enam unit sekolah, dan 336 toilet,” paparnya.

Sementara itu, tambah Bambang, dalam satu set bangunan utama akan terdiri dari 12 ruang kamar dan 12 unit dapur. Masing-masing ruang kamar bisa dihuni oleh satu keluarga Rohingya. Shelter bakal menggantikan bedeng-bedeng terpal plastik yang kini menjadi “hunian” penuh nelangsa, berbahan plastik hitam, plastik yang sama yang digunakan sebagai trash bag.  

Sebagai gantinya, shelter terintegrasi dari Indonesia untuk Rohingya dibangun semi permanen menggunakan bahan baku bambu. Anyaman bambu digunakan sebagai dinding dan tiang-tiang yang juga dibuat dari bambu kokoh, jauh lebih baik ketimbang bedeng-bedeng terpal plastik yang pengap dan minim sirkulasi udara.

Rabu kemarin (9/11), atau di hari ke-6 proses pembangunan shelter, Rina Soemarno, Dubes RI untuk Bangladesh singgah sejenak di Kamp Kutupalong. Rina secara khusus datang untuk menilik progres pembangunan shelter dari ACT dan bangsa Indonesia.

“Ini adalah sumbangan dan karya nyata dari putra-putri Indonesia. Dari Rakyat Indonesia diamanahkan kepada ACT, Insya Allah 1.000 unit shelter akan menjadi pelipur lara dan tempat bernaung yang lebih baik, dengan sarana dan fasilitas yang lebih baik,” ungkap Rina Soemarno, Rabu (8/11), di Kamp Kutupalong.

Selama sepekan berselang, setiap harinya hitungan jam yang berlalu menunjukkan progres nyata aksi bangsa Indonesia langsung di lokasi krisis kemanusiaan Rohingya. Repetisi doa dan aksi nyata begitu dibutuhkan untuk mewujudkan ikhtiar terbaik bangsa Indonesia membantu ribuan keluarga-keluarga Rohingya.

Ribuan batang bambu yang telah dikonversi menjadi anyaman-anyaman kuat akan terus disusun, ditempel, ditancapkan ke pondasi sampai berdiri kokoh 1.000 unit shelter. Hunian semi permanen yang terintegrasi pula dengan fasilitas masjid, sekolah, dan toilet. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan