Menimba Ilmu dari Balik Bilik Bambu

Semangat Nuryadi untuk belajar di Pondok Pesantren Bani Idris sedemikian besar, sehingga ia tidak keberatan dengan hidup secara sederhana.

Minat menuntut ilmu agama lebih dalam memotivasi Nuryadi untuk tinggal lebih lama di pondok pesantren, meskipun sudah lulus sekolah formal. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, LEBAK - Nuryadi terduduk di tengah bilik kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu. Ia sudah rapih dengan kopiah dan sarung. Sedang menunggu salat asar, katanya. Sementara sekarung beras kecil tersandar di tembok bilik bambu di tepat di belakang santri itu.

“Kemarin baru saja pulang ke rumah karena rumah saya kan dekat, sekitar tiga kilometer dari sini. Jadi sempat ambil beras itu di rumah kemarin, untuk bekal sebulan,” kata Nuryadi seraya menunjuk sekantong beras yang dimaksud, Sabtu (26/10) lalu.

Meskipun rumahnya terbilang cukup dekat, Nuryadi sudah sekitar lima tahun ini memilih bermukim di Pondok Pesantren Bani Idris di Desa Pasirkupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten. Ia memilih tinggal di pondok pesantren tersebut bahkan sejak duduk di bangku SMK.

Kendati kini sudah lulus sekolah formal, Nuryadi tidak serta merta berhenti belajar. Dorongan untuk menuntut pendidikan lebih lanjut membuatnya memutuskan untuk tinggal lebih lama di pondok. Meskipun dengan begitu Nuryadi tahu, belajar hidup di pondok berarti lebih lama untuk belajar hidup prihatin.


Darmawan, pengurus PP Bani Idris, di aula belajar Pondok Pesantren Bani Idris. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Bekal yang dibawa dari rumah cuma beras. Untuk lauk pauknya kita patungan seadanya. Patungannya sekitar seribu sampai tiga ribu rupiah untuk membeli lauk dan masak bersama. Pernah kita makan patungannya cuma lima ribu rupiah saja. Uang segitu dapat tempe, sambal, sama lalapan. Kita juga tidak menentukan jadwal makan. Kalau lapar, ya kita ajak saja santri lain patungan,” jelas Nuryadi.

Penghasilan orang tua Nuryadi sebagai buruh bangunan membuatnya mesti belajar untuk hidup sederhana. Tidak hanya Nuryadi, Darmawan selaku pengurus pondok pesantren mengakui bahwa memang 75 santri berasal dari latar belakang keluarga yang prasejahtera. Mayoritas berasal dari keluarga buruh dan petani.

Kondisi yang demikian membuat pihak pondok tidak menuntut banyak kepada santri-santrinya. Hal ini karena tujuan dari didirikan Pondok Pesantren Bani Idris adalah memang untuk memudahkan para santri yang ingin belajar, namun terbatas dari berbagai aspek.

“Misalnya kecamatan paling dekat dari sini kan Rangkasbitung, kalau dari Desa Pasirkupa ke sana sudah habis Rp 40 ribu untuk ongkos bolak-balik, belum lagi makannya. Kalau di sini, tidak ada biaya seperti itu, termasuk biaya bulanan tidak ada. Paling untuk listrik Rp 15 ribu. Kalau ada ya, alhamdulillah, kalau tidak ada ya tidak kita paksakan,” kata Darmawan.

Selama ini juga belum pernah ada donatur tetap dari pondok pesantren, kecuali bantuan dari pemerintah setempat berupa fasilitas seperti sekolah dan bangunan tetap untuk sebagian santri putra. Tetapi pihak pondok tidak menutup akan datangnya uluran dari para dermawan yang berniat membantu Pondok Pesantren Bani Idris.

“Selama ini aktivitas pondok pesantren memang dapat berjalan, tapi harus diakui masih ada kekurangan baik dari segi pangan maupun fasilitas. Ke depannya kita tidak menutup untuk bantuan-bantuan dari para dermawan yang beniat baik. Asal niat baik itu ada, pasti kami sambut dengan tangan terbuka,” kata Darmawan.

Cerita Nuryadi hanyalah satu dari sekian juga santri yang ada di Indonesia. Data yang didiapat dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mencatat, ada 4.028.660 santri yang terdata. Rencananya untuk menunjang aktivitas para santri, ACT akan mendistribusikan beras di beberapa pesantren yang ada di wilayah di Indonesia melalui program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI). []