Menjadi Orang Tua Tunggal, Najah Menantikan Uluran Tangan

Setelah ditinggal meninggal suaminya, Najah harus menjadi orang tua tunggal bagi enam anak. Ia tak memiliki pekerjaan serta tengah berjuang sembuh dari kanker yang ada di tubuhnya.

Najah bersama dengan anak-anaknya. (ACTNews)

ACTNewsGAZA – Kemiskinan menjadi sesuatu yang karib di masyarakat Gaza. Konflik kemanusiaan yang berujung krisis yang melanda negeri tersebut tak kunjung usai. Akibatnya, penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih hingga pendidikan untuk anak-anak.

Kondisi ini tergambar pada kehidupan Najah Abu Sharkh, warga Gaza yang bermukim di Tel al-Hawa. Ia merupakan ibu dari enam anak yang masih kecil. Saat ini, Najah harus menjadi orang tua tunggal setelah ditinggal sang suami yang meninggal akibat kecelakaan dan tenggelam. Keenam anak yatim itu pun masih membutuhkan dukungan, dan hanya Najah yang menjadi tumpuan.

Kesulitan seakan mengepung hidup keluarga Najah. Selain harus membiayai kehidupan anak-anak, Najah juga tengah berjuang sembuh dari kanker yang divoniskan ada pada dirinya. Sejumlah dana memang sangat mendesak untuk dipenuhi, sedangka ia tak memiliki pekerjaan. Di Gaza sendiri, tak banyak pekerjaan yang tersedia, terlebih untuk perempuan.

Kini, sejak ditinggal suami, Najah hanya menggantungkan pemenuhan hidupnya pada bantuan kemanusiaan. Mulai dari makan, biaya listrik dan air, perlengkapan sekolah anak, transportasi hingga pengobatan untuk sembuh dari kanker.

Di Palestina, kondisi seperti Najah juga dialami oleh banyak keluarga. Mereka ditinggal oleh kepala keluarga dengan beragam cara, termasuk sebagai korban kekerasan Israel. Konflik yang berkepanjangan memang tak hanya merusakan lingkungan dan sumber daya, tapi juga menyisakan duka bagi keluarga yang ditinggalkan serta kemiskinan.

Melihat kondisi ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berikhtiar untuk terus mendampingi keluarga prasejahtera di Palestina dengan Sister Family Palestine-Indonesia. Program ini memungkinkan keluarga di Indonesia memiliki hubungan layaknya keluarga dengan penduduk Palestina. Bantuan kemanusiaan akan menjadi penghubung kebaikan ini.

“Kehadiran program baik ini, tak sekadar mengantarkan bantuan kemanusiaan ke penduduk Palestina. Tapi juga, dekapan hangat layaknya keluarga akan didapatkan dengan menghubungkan keluarga di Indonesia yang terpisah jarak dengan keluarga di tanah Palestina,” jelas Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response-ACT, Senin (12/4/2021).[]