Menjadi Pahlawan Pendidik Tak Mengenal Keterbatasan Fisik

Keterbatasan fisik tidak menjadi alasan Aswari dan Umam mengabdikan diri di bidang pendidikan. Gaji pun tak besar, tapi keikhlasan menjadi modal mereka melanjutkan perjuangan mencetak generasi bangsa yang hebat.

Menjadi Pahlawan Pendidik Tak Mengenal Keterbatasan Fisik' photo
Umam, guru disabilitas asal Salatiga, saat ditemui tim ACTNews pada Februari lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, SALATIGA, SUMENEP – Aswari namanya, ayah dua anak asal Sumenep, Madura kelahiran tahun 1973. Walaupun terbatas secara fisik, Aswari menyelesaikan pendidikan hingga S2 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura dengan bantuan biaya pendidikan dari seorang dermawan. Aswari pun memilih menjadi tenaga pengajar di sekitar tempat tinggalnya di Sumenep sejak 2006, bahkan sudah menjadi pengajar di Madrasah Diniyah sejak 1993 silam.

Tidak ada gaji besar bagi seorang Aswari. Ia mengabdikan diri di desa tempatnya tinggal. “Bagi saya, pendidikan merupakan hak bagi semua anak-anak, termasuk mereka yang datang dari keluarga prasejahtera dan tinggal di desa,” ungkap Aswari beberapa pekan lalu saat ditemui oleh tim Aksi Cepat Tanggap.

Serupa Aswari, Achmad Sabiqul Umam (42) juga seorang guru dengan disabilitas. Pria yang mengajar di MI Ma’arif, Cabean, Salatiga memilih mengabdi pada dunia pendidikan. Setiap sore, bersama sang istri, Umam terus menularkan ilmu ke murid-muridnya melalui kelas mengaji di rumahnya. Tidak ada bayaran besar yang Umam terima. Baginya, ramainya anak-anak dan bisa melihat mereka sukses suatu waktu nanti menjadi kepuasan tersendiri baginya.

“Keterbatasan fisik bukan berarti menjadi halangan untuk kami (guru-guru penyandang disabilitas) mengabdi di dunia pendidikan,” ungkap Umam.

Apresiasi

Melihat perjuangan guru-guru di Indonesia yang masih honorer, prasejahtera, atau disabilitas, membuat Global Zakat-ACT menghadirkan program Sahabat Guru Indonesia. Program yang telah berjalan lebih dari satu tahun ini memberikan apresiasi terhadap guru di Indonesia. Riski Andriani, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia mengatakan, apresiasi yang Global Zakat salurkan tidak lepas dari dukungan para dermawan.


Aswari, guru difabel asal Madura saat menerima biaya hidup untuk guru dari program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews)

“Sebenarnya, apa yang kami salurkan tidak akan pernah menyamai besarnya pengorbanan guru,” ungkap Riski, Rabu (2/12).

Riski menambahkan, di Indonesia masih banyak ditemui guru honorer, prasejahtera dan disabilitas yang patut diapresiasi perjuangannya. Global Zakat pun terus membuka kesempatan untuk para dermawan menyalurkan zakatnya yang akan dialokasikan untuk aksi-aksi kebaikan.

“Zakat bisa disalurkan melalui laman Indonesia Dermawan. Jika ada yang belum mengetahui perhitungannya, laman resmi Global Zakat telah menyediakan aplikasi perhitungan zakat, atau bisa menghubungi tim Global Zakat melalui sosial media,” ajak Riski.[]

Bagikan

Terpopuler