Menjadi Relawan Muda, Meretas Batas Daksa

Berkebutuhan khusus tidak menghalangi niat Fuad Nur Hasan menjadi relawan. Kini, siswa kelas XI itu tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Malang. Niatnya satu: menjadi pemuda yang berguna untuk sesama.

Menjadi Relawan Muda, Meretas Batas Daksa' photo
Fuad Nur Hasan (kedua kanan) berfoto dengan Ketua Dewan Pembina Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dalam kuliah visi relawan di Malang, Ahad (27/10). (ACTNews)

ACTNews, MALANG – Tangan kanan Fuad Nur Hasan (17) sigap memasukkan kunci motor. Ia menyalakan motor bebeknya yang sudah dimodifikasi. Helm putih juga telah dikenakan untuk melindungi kepalanya. Setelah pamitan dengan sejumlah pengurus kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Malang dan tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Malang, ia memutar gas di stang motornya.

Pelajar kelas XI IPS SMAN Negeri 9 Malang itu istimewa. Kepada ACTNews Fuad bercerita, tuna daksa yang ia alami tidak menghalangi tekadnya menjadi relawan. “Saya bergabung dengan MRI saat Ramadan 2018. Saat itu sedang berlangsung roadshow Syekh Gohana dari Palestina,” ungkap Fuad, Selasa (29/10).

Berawal dari momen itu, Fuad mulai tertarik dengan dunia kerelawanan. Tidak lama, ACT Malang dan relawan MRI berkunjung ke yayasan yang membina anak-anak difabel tempat Fuad tergabung. “Saya kemudian diajak bergabung. Saya mau bergabung karena ingin membantu anak-anak Indonesia yang menjadi korban bencana. Saya juga ingin membantu anak-anak Palestina dan Suriah,” lanjut anak sulung dari dua bersaudara itu.


Fuad bersama relawan MRI Malang mendistribusikan air bersih di Desa Ringinsari, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, pada Agustus lalu. (ACTNews)

Hampir setahun bergabung, Fuad turut aktif dalam berbagai kegiatan kerelawanan yang diadakan MRI dan ACT Malang. Mulai dari menggalang donasi di hari bebas kendaraan Kota Malang (car free day), persiapan bantuan untuk korban gempa Lombok, Dapur Qurban Malang, hingga implementasi air bersih untuk mengatasi kekeringan di Malang baru-baru ini.

Fuad mengaku, kegiatannya sebagai relawan mendapat dukungan dari orang tua. “Orang tua membebaskan saya mengikuti kegiatan di luar jam sekolah. Kegiatan relawan ini juga lebih sering berjalan di akhir pekan. Sejauh ini, saya harus mengatur waktu antara dunia kerelawanan dan jam sekolah karena saat ini yang lebih prioritas bagi saya adalah sekolah,” aku relawan kelahiran Malang 17 tahun lalu itu.

Fuad mengaku, keadaan kesehatannya sama sekali tidak menghalangi niatnya berderma sebagai relawan. Sebagai pemuda, ia ingin menyalurkan semangatnya untuk menolong sesama. Ia pun berharap anak-anak muda seusianya dapat bersama-sama berperan di dunia kerelawanan. “Dahulu pahlawan, kalau sekarang relawan,” akunya bangga. Kalimat yang ia dengar dari Kepala Cabang ACT Jember itu memompa motivasinya. 

Ahad (27/10) lalu pun ia telah bertemu dengan Ketua Dewan Pembina MRI Ahyudin. Fuad pun bersyukur dapat mendengar langsung visi dan pemaparan dari Ahyudin. “Beliau bilang terus semangat,” katanya sembari mengingat-ingat momen Ahad lalu.[]

Bagikan