Menjadikan Wakaf Sebagai Upaya Konservasi dan Pelestarian Lingkungan

Konservasi yang dilakukan melalui wakaf, dikatakan dapat ikut menyelamatkan dunia dari dampak perubahan iklim.

hutan wakaf
Ilustrasi. Salah stau bencana alam akibat pemanasan iklim. Kebakaran hutan yang melanda Riau pada tahun 2019 lalu. (ACTNews/Rahman Ghifari)

ACTNews, JAKARTA – Perubahan iklim kini menjadi ancaman dunia. Baru-baru ini dampak dari perubahan iklim menimbulkan bencana kebakaran di sejumlah negara. Bersamaan dengan itu, banjir, sebagai akibat curah hujan tidak menentu, juga melanda beberapa negara.

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada 9 Agustus 2021 menyebut perubahan iklim ini tak terkendali. Selain banjir, gelombang panas, serta kebakaran lahan dan hutan, IPCC juga memperingatkan kembali risiko krisis air sebagai akibat dari perubahan iklim.

Ulah tangan manusia menjadi penyebabnya. Para ilmuwan sepakat bahwa sebagian besar kerusakan lingkungan seperti hutan gundul, kekeringan, air laut naik dan gunung es mencair, memicu pemanasan global.

Kendati disebabkan oleh banyak faktor, Conversation International sebuah organisasi nirlaba yang berfokus kepada pelestarian alam, menyebut bahwa alam merupakan salah satu solusi yang paling efektif. Seperti melalui hutan tropis salah satunya, tetapi dana masih jadi kendala.


Hutan tropis sangat efektif dalam menyimpan karbon, menyediakan setidaknya sepertiga dari tindakan mitigasi yang diperlukan untuk mencegah skenario perubahan iklim terburuk. Namun solusi berbasis alam hanya menerima 3% dari semua pendanaan iklim,” tulis laporan tersebut.

Masih dari laporan yang sama, solusi iklim alami yakni seperti mengakhiri deforestasi dan memulihkan hutan yang terdegradasi. Pada tingkat global, upaya ini dapat menciptakan 80 juta lapangan kerja, membawa 1 miliar orang keluar dari kemiskinan dan menambah 2,3 triliun dolar Amerika dalam pertumbuhan produktif.

Peranan Wakaf Jaga Lingkungan

Dari berbagai upaya, wakaf hadir sebagai solusi. Misalnya melalui program wakaf hutan yang diinisiasi oleh Kementerian Agama (Kemenag), di mana program ini hadir untuk mendukung kelestarian lingkungan dan pendayagunaan tanah wakaf yang terlantar.

“Hutan Wakaf merupakan inovasi di bidang pemberdayaan wakaf. Program ini berangkat dari kepedulian terhadap fenomena global warming beberapa dekade terakhir,” ujar Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Muhammad Fuad Nasar, pada Agustus tahun lalu.

Dari aspek ekologis, Fuad menjelaskan, hutan wakaf turut berperan dalam menjaga kestabilan iklim secara mikro, melestarikan keanekaragaman hayati, konservasi air, dan mencegah bencana alam.

Langkah ini juga telah dimulai oleh salah satu institusi wakaf di Indonesia. Dalam sebuah webinar, Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Irfan Syauqi Beik juga mengatakan bahwa wakaf konservasi lingkungan dapat berperan memitigasi bencana yang terjadi.

“Negara kita juga rentan berbagai bencana. Salah satunya mitigasi perbaikan kondisi lingkungan. Semoga wakaf bisa berkontribusi dalam hal itu," kata Irfan.

Dia memastikan, BWI akan berupaya terus dalam mendorong penguatan sistem wakaf nasional. Hal tersebut dilakukan dengan mendorong inovasi di bidang perwakafan. "Inovasi perwakafan sekaligus bisa berperan penting di dalam pembangunan nasional termasuk juga dalam konteks memastikan program yang dibangun itu bsa berkelanjutan," jelas Irfan.

Global Wakaf-ACT juga mengambil peran ini dalam berbagai program. Salah satu yang terbaru yakni mengadakan konservasi dengan menanam berbagai tanaman, bersamaan dengan berjalannya program Sumur Wakaf.

Moch Nurul Ramadhan dari Tim Program Global Wakaf-ACT menjelaskan, program konservasi dan pemberdayaan ini, merupakan keterbaruan program Sumur Wakaf sejak tahun 2021. Ada dua metode yang digunakan Global Wakaf-ACT dalam konservasi, yakni vegetatif dengan penanaman pohon, dan metode mekanik dengan membuat sumur resapan.

Dengan melengkapi program ini, harapannya Sumur Wakaf tidak hanya menjadi solusi bagi krisis air, tetapi juga mencegah hal tersebut terjadi karena kerusakan lingkungan. “Di sisi lain, masyarakat juga dapat berdaya melalui hasil tanaman yang beberapa di antaranya merupakan tanaman buah,” kata Nurul.

Aksi-aksi konservasi di luar Sumur Wakaf juga terus berjalan. Misalnya Global Wakaf-ACT turut menghijaukan lereng Merapi dengan 2 ribu pohon pada awal Maret lalu, sebagai upaya pelestarian lingkungan.[]