Menjaga Rohingya di Myanmar dari Kelaparan

Menjaga Rohingya di Myanmar dari Kelaparan

Menjaga Rohingya di Myanmar dari Kelaparan' photo

ACTNews, MAUNGDAW – Thi Ho Kyun, sebuah desa di Maungdaw, Rakhine, Myanmar, menjadi tempat tinggal bagi ratusan jiwa muslim Rohingya. Di sana mereka  berumah di tenda-tenda yang sangat sederhana, dari  bambu dan terpal yang dirakit sendiri.

Para muslim Rohingya di Thi Ho Kyun adalah salah satu kelompok yang dipersekusi militer Myanmar. Desa mereka termasuk yang dibakar pada Agustus 2017 silam. Semua penduduk Desa Thi Ho Kyun pun kala itu mengungsi ke desa tetangga yang masih bisa dihuni. Sekitar tiga bulan, mereka pulang dan mulai menata hidup kembali di Thi Ho Kyun, kampung halaman mereka.

Muslim Rohingya harus bertahan hidup dalam operasi dan blokade militer Myanmar sejak saat itu. Mereka pun kerap kesulitan dan kekurangan bahan makanan. Bantuan kemanusiaan adalah salah satu harapan mereka bertahan hidup.

Nuur Huson (50) sehari-hari bekerja sebagai penjual kayu bakar. Di usia yang menjelang senja itu ia harus menafkahi keluarganya. “Hampir 18 bulan kami tidak mendapatkan bantuan sama sekali dari pemerintah kami dan dari manapun,” ceritanya kepada relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Rakhine, Sabtu (9/2). Hari itu Huson dan ratusan warga lain menerima bantuan kemanusiaan berupa bahan pangan dari masyarakat Indonesia.

Pekan kedua bulan Februari 2019, ACT menyampaikan bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya di Rakhine. Bantuan didistribusikan di sejumlah wilayah, yaitu Desa Du Nyaung Pin Gyi, Desa Pa Din, dan Desa Thi Ho Kyun.

“Distribusi bantuan pangan dari ACT ini sangat menolong kami. Kami tidak bisa ke pasar hanya untuk sekadar menjual kayu bakar. Semoga Allah selalu melindungi mereka dari marabahaya dan semoga Allah juga memberikan kesempatan untuk membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Kami berdoa untuk ACT dan orang-orang Indonesia,” ungkap Huson.

Mohamad (55) adalah warga desa lain. Di tengah keterbatasan penglihatan, dia harus menafkahi sembilan anggota keluarganya. Mohammad juga menjadi salah satu penerima manfaat.

“Distribusi bantuan paket pangan ini sangat menolong kami karena saya tidak bisa pergi keluar untuk bekerja dan kondisi kami yang sangat miskin. Kami berdoa untuk dan ACT dan orang-orang Indonesia di masjid,” ungkap Mohamad.

Bantuan pangan menjadi ikhtiar ACT dalam meredam krisis kemanusiaan yang melanda minoritas etnis Rohingya. “Pendistribusian bantuan pangan ini berlangsung Sabtu (9/2) sampai Senin (11/2). Bantuan itu diterima sekitar 1.043 jiwa. Ini ikhtiar bersama, ACT dan bangsa Indonesia, untuk menjaga Rohingya dari kelaparan,” lapor Sucita Pri Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) - ACT.

Untuk Rohingya, rangkaian aksi kemanusiaan yang erat kaitannya dengan penyelamatan hidup, terus berlangsung. Kontinuitas ini tidak terlepas dari besarnya kepedulian masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui ACT hingga saat ini. []

Bagikan