Menjalani Kehidupan sebagai Mualaf di Lingkungan Muslim Minoritas, Ini Kisah Yusuf

“Anak-anak saya nonmuslim, akur serta hidup rukun sama saya. Tidak pernah melarang saya ibadah, sejak awal mendukung segala keputusan yang saya ambil. Bahkan sering mengingatkan salat, kasih makan, juga tahu saya tidak boleh makan babi,” ujar Yusuf, mualaf di NTT.

yusuf sebagai mualaf
Yusuf saat menerima bantuan paket pangan Ramadan dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, TIMOR TENGAH UTARA —  Menjadi mualaf adalah keputusan terbesar dalam hidup Yusuf (69). Warga Desa Upfaon, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memeluk Islam dengan keyakinan teguh, di tengah usia yang sudah tak lagi muda, 66 tahun. 

Yusuf menceritakan, saat mengutarakan niat untuk memeluk Islam, halangan terbesar datang dari koleganya. Banyak teman-teman dan tetangga meminta agar Yusuf memikirkan ulang niatnya dengan alasan beragam. Namun, hal itu dapat Yusuf lewati dengan lancar. 

“Keluarga mendukung segala keputusan yang saya ambil. Karena sudah saya pikirkan matang-matang. Ini keputusan terbesar dalam hidup saya, godaannya dan penolakan untuk ambil keputusan ini besar,” kata bapak tiga anak ini, Jumat (7/5/2021). 

Yusuf sekarang tinggal berdampingan dengan keluarganya. Untuk kebutuhan makan setiap hari, anak-anak Yusuf menyediakannya. Ramadan kali ini merupakan Ramadan ketiga yang dijalani Yusuf. Dalam menjalani ibadah puasa tahun ini, Yusuf menjalaninya dengan berbeda. Di mana pada 10 hari pertama, dampak bencana yang menerjang NTT masih terasa.

"Listrik mati, harga bahan makanan mahal karena jalur utama NTT yang dari Kupang sempat terputus. Alhamdulillah saya punya ubi, jadi saya makan ubi. Tarawih sendiri sa di rumah, karena ke masjid jauh," ujarnya.

Di Ramadan ketiga ini, Yusuf mengaku mulai terbiasa berpuasa. Awal-awal menjadi muslim, ia masih beradaptasi menahan lapar dari fajar hingga magrib. Meski begitu, ia tak banyak melakukan aktivitas fisik untuk meminimalisasi energi yang terbuang.

Yusuf usai menerima bantuan paket pangan. (ACTNews)

“Saya sudah tua, masih kuat untuk puasa asal tidak banyak bergerak. Alhamdulillah anak-anak perhatian meski non muslim. Tidak pernah melarang saya ibadah, bahkan sering mengingatkan salat, kasih makan buat buka, juga tahu saya tidak boleh makan babi,” ujarnya. 

Di Desa Upfaon, hanya ada dua orang muslim yakni Yusuf dan Sholahudin. Untuk ibadah ke masjid terdekat jaraknya sejauh 8 kilometer. Yusuf akan ke masjid untuk salat Jumat, sedangkan untuk salat sehari-hari di rumah saja. “Saya sudah tidak kuat jalan kaki jauh, makannya sering diantar anak untuk salat Jumat,” jelasnya. 

Wahidin dari tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) mengatakan muslim di NTT tersebar di desa-desa terpencil. Banyak dari mereka merupakan warga prasejahtera yang mengandalkan makan hanya dari hasil pertanian yang mereka tanam di pekarangan sekitar rumah, kadang juga nyari di hutan.

Untuk membahagiakan mereka di hari raya Idulfitri nanti, Global Zakat-ACT memberikan bantuan paket pangan. “Melalui Gerakan Nasional Sedekah Pangan Ramadhan, bantuan paket pangan menyapa muslim di tepian negeri dan bahagiakan Ramadan sejuta saudara,” tutupnya. []