Menjangkau Desa Maipi di Masamba yang Terisolir Sejak Banjir

Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sulawesi Selatan menengok Desa Maipi, salah satu lokasi terdampak banjir bandang di Kecamatan Masamba, Luwu Utara. Perlu berjalan kaki sekitar 7 kilometer untuk sampai ke desa ini akibat sejumlah fasilitas rusak semenjak banjir dan menjadikan desa terisolir.

Menjangkau Desa Maipi di Masamba yang Terisolir Sejak Banjir' photo
Pintu masuk ke Desa Maipi. Beberapa material yang dibawa banjir masih berserakan di depan desa. (ACTNews)

ACTNews, LUWU UTARA – Jalan panjang ditempuh tim ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sulawesi Selatan ketika menyalurkan bantuan untuk warga terdampak banjir di Desa Maipi, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara. Tim mesti berjalan kaki sekitar 7 kilometer akibat jembatan yang biasanya dapat dilewati kini rusak berat. Terdapat sekitar 300 kepala keluarga yang terdampak di desa yang terletak di daerah pegunungan hulu sungai sumber banjir bandang di Luwu Utara ini.

Arhan MS, dari tim yang ikut serta dalam penyaluran bantuan mengatakan bahwa desa ini terdampak cukup parah dan lokasinya terpencil. Sumber penghasilan utama warga juga tersapu banjir sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan sebagai penyambung hidup.

“Di desa ini, kami temukan sebanyak 23 rumah warga mengalami kerusakan serius, sedangkan 7 rumah dan 1 musala hilang tersapu banjir. Selain itu, sekitar 50 tiang listrik roboh dan 3 jembatan putus. Ada juga sawah seluas 30 hektare, yang menjadi sumber penghasilan utama warga, tersapu banjir sehingga tidak bisa digunakan lagi,” ujar Arhan di lokasi pada Ahad (19/7) lalu.


Beberapa rumah warga yang rusak para di Desa Maipi. (ACTNews)

Pada hari itu tim melakukan asesmen kepada warga terdampak sekaligus mendistribusikan bantuan darurat berupa logistik kepada warga-warga terdampak yang sampai Ahad kemarin masih terisolir. “Kita ke Desa Maipi dalam rangka melakukan asesemen. Tetapi alhamdulillah kita juga membawa bantuan yang sangat mendesak yakni tenda terpal berukuran besar untuk mendirikan dapur umum, selain itu ada juga popok bayi, susu, dan minyak kayu putih serta minyak telon,” jelas Arhan.

Dalam beberapa waktu ke depan, tim berencana kembali ke lokasi untuk mendistribusikan bantuan lainnya. “Insyaallah Desa Maipi menjadi salah satu lokasi pertimbangan kami untuk mendirikan dapur umum. Mudah-mudahan kami juga bisa datang lagi untuk mendistribusikan bantuan kedua kalinya. Beberapa kebutuhan masih mendesak seperti penerangan, beras, dan lauk pauk. Sebab itu kami berharap dukungan para dermawan untuk memberikan kepeduliannya kepada para korban,” jelas Arhan.

Banjir bandang sendiri telah meluluhlantakkan Masamba sejak Senin (13/7) malam. Luapan Sungai Masamba dan curah hujan yang tinggi membuat rumah warga terendam air dan lumpur. Banjir juga membawa material berupa gelondong kayu, sampah, dan lumpur. Sejak awal terjadinya bencana tersebut, ACT terus membersamai para korban terdampak dengan membuka layanan posko kemanusiaan sebagai pusat informasi dan penyaluran bantuan untuk warga terdampak.  []


Bagikan