Menolong Palu, Tetap Menyempurnakan Pemulihan Lombok

Menolong Palu, Tetap Menyempurnakan Pemulihan Lombok

Menolong Palu, Tetap Menyempurnakan Pemulihan Lombok' photo

ACTNewsLOMBOK - Bencana gempa bumi tektonik bertubi-tubi kembali menguji ketahanan rahim Ibu Pertiwi. Belum sembuh betul lara Tanah Sasak pascagempa 6,4 dan 7,0 SR di akhir Juli dan awal Agustus lalu. Kini, ganti Sesar Palu Koro bergeliat di Tanah Celebes, memicu gempa 7,4 SR disusul tsunami hingga ketinggian ombak mencapai lebih dari enam meter. Indonesia kembali berduka.

Tapi merespons darurat di Palu bukan berarti tak menyapa kembali Lombok, pulau seribu masjid yang kini sudah berangsur pulih. Satu bulan lebih fase pemulihan dijalankan. Bagaimana keadaannya kini? Mengingat dampak gempa yang begitu parah, akankah keadaan Lombok sudah jauh lebih baik?

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 564 orang meninggal dunia, 1.584 orang luka-luka, lebih dari 32 ribu rumah rusak, dan 390 ribu lebih orang pengungsi terkena dampak gempa Lombok. Daerah paling banyak terdampak gempa berada di Kabupaten Lombok Utara, dengan total pengungsi 134.235 jiwa.

Kini, sepekan pascagempa Palu, berjalan beriringan dengan pemulihan Lombok, Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih mengikhtiarkan pemulihan bagi masyarakat terdampak gempa Lombok. Terhitung sejak peresmian hunian terintegrasi (Integrated Community Shelter/ICS) di Kecamatan Gangga, Lombok Utara, 18 September lalu, ACT kini tengah menambah 80 unit hunian tambahan di kompleks tersebut.

“(Pembangunan di) ICS sudah selesai semua, tetapi sekarang sedang mengerjakan lima lokal hunian tambahan dengan total 80 unit,” jelas Dede Abdul Rohman, Koordinator pembangunan ICS.

Tidak hanya ICS, per hari Jumat (5/10) ACT tengah merampungkan 191 unit family shelter di Dusun Sambik Jengkel Barat dan Dusun Dompo Indah, Desa Selengen, Kayangan, Lombok Utara. Dari gambar udara jelas terlihat, kontras antara runtuhan rumah di Sambik Jengkel dengan atap-atap family shelter yang berwarna merah, dan atap hijau masjid sementara yang juga dibangun di sebelah family shelter. 

 

Aghny Fitriany, Koordinator Program Pemulihan ACT di Lombok menjelaskan, proses pembangunan family shelter masih terus dikerjakan setiap hari, bergotong royong dengan warga korban gempa. 

"Targetnya Insya Allah di Dusun Sambik Jengkel Barat ada 149 unit family shelter, dan di Dusun Dompo Indah ada 152 unit family shelter. Total seluruhnya jika telah rampung mencapai 301 unit," tuturnya. 

Dede menjelaskan, pengerjaan family shelter dikerjakan oleh tenaga ahli dan juga masyarakat yang saling membantu merampungkan hunian satu sama lain. “Sisa unit family shelter di Dusun Sambik Jengkel Barat sedang dikerjakan tenaga ahli, target akhir (bulan) Oktober sudah harus selesai. Kalau di Dusun Dompu Indah pengerjaannya swadaya masyarakat. Mereka saling bantu,” jelas Dede.

Tempat tinggal bagi masyarakat terdampak gempa Lombok juga direalisasikan ACT dalam bentuk hunian bongkar pasang (knock down shelter) di Dusun Dasan Gerisak, Desa Anyar dan Dusun Batu Jompang, Desa Baleq, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, juga di Dusun Lauk Rurung Barat, Desa Sembalun Bumbung,  Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Mendukung fasilitas hunian, sejumlah sarana MCK turut dibangun. Total sudah 11 MCK yang dirampungkan 100% pembangunannya. MCK antara lain didirkan untuk mendukung fasilitas hunian, posko pengungsi, sekolah, dan masjid.

Sejalan dengan itu, sejumlah masjid juga dirampungkan ACT. Masjid Al Amin di Dusun Sambik Jengkel Barat, Desa Selengen, Kayangan, Lombok Utara menjadi masjid sementara yang pertama dibangun kembali oleh ACT. Kini warga Dusun Sambik Jengkel Barat dapat melangsungkan ibadah berjamaah di masjid yang dulu dibangun secara swadaya oleh masyarakat itu.

“Saya senang sekali, saya bahagia sekali, alhamdulillah masjidnya sudah jadi. Terima kasih atas bantuan ibu sama bapak. Di sini (Masjid Al Amin) ada pengajian setiap bulan, anak-anak mengaji di sini, kita juga salat berjamaah di sini,” tutur Mahni (35), warga Sambik Jengkel Barat kepada Tim ACT, Sabtu (10/9) lalu.

Hingga Oktober ini, ACT tengah membangun 11 masjid tersebar di berbagai kecamatan di Lombok Utara dan Lombok Timur, empat di antaranya telah selesai sempurna.

Cerita lain datang dari Masjid Darussalam terletak di Dusun Medas, Desa Obel-obel, Sambelia, Lombok Timur adalah salah satu masjid yang kemajuan pembangunannya kurang dari 50%. Namun, halaman masjid itu kini tengah digunakan relawan posko wilayah Sambelia untuk mengadakan Kelas Lombok Ceria sebagai bentuk aksi psikososial terhadap penyintas gempa anak-anak setempat.

Lombok memang berangsur pulih. Kabar baik itu semakin dikuatkan dengan kembalinya para siswa ke sekolah. Yayasan Al Hikmah di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, telah melangsungkan kegiatan belajar mengajar selama sebulan ini. Sekitar 300 orang siswa mulai belajar di bangunan sementara yang tanggap didirikan ACT.

Pascagempa, yayasan yang menaungi jenjang RA (Raudhatul Atfhal/TK), MTs (Madrasah Tsanawiyah/SMP), dan MA (Madrasah Aliyah/SMA) harus kehilangan gedung sekolah mereka. Kini para siswa sudah dibimbing melanjutkan KBM yang sempat terhenti karena gempa.

Suasana bahagia juga tampak di MI Maraqatta’limat, Desa Bilok Petung, Sembalun, Lombok Timur. Selasa kemarin (2/10), yayasan tersebut menggelar tasyakuran atas bangunan baru yang sudah bisa digunakan.

“Mereka sangat berterima kasih atas bantuannya. Siswa mereka kini dapat belajar di tempat yang lebih nyaman. Terlebih sebentar lagi para siswa akan mengikuti ujian mid semester,” ungkap Anghy Fitriany, Tim Rekonstruksi dan Pemulihan ACT yang hadir di lokasi, Selasa (2/10).

Lombok berangsur pulih, namun tidak layak menjadikan kita lalai dalam membantu sesama. Kini, Indonesia tetap harus fokus dan kembali bersama-sama merangkul Palu juga wilayah sekitarnya terdampak gempa dan tsunami. []

Bagikan

Terpopuler