Menunjang Kebutuhan Kursi Roda Penduduk Palestina

Semenjak blokade Israel terhadap wilayah Palestina, berbagai pasokan kebutuhan, termasuk medis, terhambat. Korban konflik yang membutuhkan alat bantu gerak untuk menopang dirinya pun kian bertambah.

Menunjang Kebutuhan Kursi Roda Penduduk Palestina' photo
Salah seorang warga Palestina yang mendapatkan kursi roda dari ACT. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Konflik kemanusiaan masih mengepung Palestina. Aksi Great Return March atau GRM seolah menjadi penanda bahwa penduduk Palestina yang terus tertekan oleh tindakan Israel. GRM tak hanya sekadar unjuk rasa, tapi tak jarang memakan korban jiwa hingga cacat pada fisiknya.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang selama ini terus membersamai penduduk Palestina, pada Sabtu (28/12) lalu, menyerahkan bantuan kursi roda serta acara makan bersama penyandang disabilitas di Gaza. Sebanyak 100 kursi roda diserahkan ke penduduk Palestina yang mengalami cacat fisik akibat serangan Israel.

Sulaiman selaku mitra ACT di Gaza mengatakan, penderitaan penduduk Palestina ini merupakan dampak dari blokade Israel terhadap Palestina selama bertahun-tahun. Berbagai sendi kehidupan terpengaruh, termasuk pemenuhan fasilitas dan penunjang medis serta kesehatan. “Ini merupakan salah satu bentuk terbaik kepedulian masyarakat Indonesia kepada Palestina,” ungkapnya, Sabtu (28/12).

Acara penyerahterimaan kursi roda ini selain dihadiri oleh 500 penduduk Gaza, juga dihadiri oleh Mounir Al-Borsh dari perwakilan Kemanterian Kesehatan Palestina. Al-Borsh mengungkapkan, kehadiran bantuan kursi roda ini sangat meringankan beban penduduk Palestina, khususnya mereka yang mengalami kecacatan fisik akibat aksi membela tanah airnya sendiri.


Kursi roda untuk Palestina. Sebanyak 100 kursi roda dari ACT dibagikan ke warga Palestina pada akhir Desember lalu. (ACTNews)

Selama ini pun kebutuhan perlengkapan medis di Palestina sangat kurang. Blokade akses masuk berbagai keperluan oleh Israel menjadi penyebabnya. “Ketersediaan obat-obatan serta alat penunjang medis sangat kurang, jelas ini menghambat fasilitas kesehatan di Palestina,” terang Al-Borsh.

Hingga saat ini, dari data Kementerian Kesehatan Palestina yang dijabarkan Al-Borsh,  lebih dari 30 ribu penduduk Palestina mengalami luka akibat aksi GRM yang diserang Israel. Sedangkan untuk korban yang mengalami cacat permanen dan membutuhkan tindakan medis lanjut dan jangka panjang jumlahnya mencapai lebih 3 ribu orang.

Selain memberikan bantuan kursi roda dan kebutuhan pangan, di bidang medis ACT juga telah membuka Klinik Indonesia untuk Palestina di Gaza. Klinik ini melayani penduduk Palestina, khususnya mereka yang menjadi korban kekerasan pihak Israel. “Terima kasih atas bantuan dari ACT ini, khususnya di bidang medis. Saat ini pihak pemerintah Palestina memang sedang kekurangan sumber daya akibat blokade yang telah dilakukan Israel belasan tahun lamanya,” kata Al Borsh.[]

Bagikan