Menutup 2016, Menuju Kematangan Implementasi Wakaf Produktif di Indonesia

Menutup 2016, Menuju Kematangan Implementasi Wakaf Produktif di Indonesia

GlobalWakaf, JAKARTA - Tahun 2016 menjadi tahun di mana salah satu bentuk infaq sunnah dalam Islam, yakni wakaf, kembali digalakkan secara masif di Indonesia. Sudah saatnya Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia ini “melek” dengan konsep wakaf yang lebih komprehensif dan produktif serta manfaatnya yang luas bagi kesejahteraan masyarakat. 
 
Kini, sinergi antara pemerintah, BWI, lembaga pengelola wakaf atau nazhir, perbankan syariah, dan bank sentral (Bank Indonesia) makin solid dalam mensosialisasikan konsep dan implementasi wakaf produktif kepada masyarakat. Serangkaian kerja sama terus digencarkan, begitu pula acara sosialisasi mengenai wakaf produktif. 
 
November lalu Indonesia berkesempatan menggelar konferensi wakaf internasional pertamanya, di mana sejumlah akademisi dan praktisi wakaf dalam negeri dan internasional memaparkan hasil temuan studi kasus mengenai wakaf. Tidak hanya itu, bangsa ini juga menggagas terbentuknya Forum Wakaf Produktif awal Desember silam yang ditujukan sebagai wadah bagi para pemangku kepentingan (pemerintah, BWI, nazhir, perbankan syariah, BI) untuk saling bertukar pengalaman dan informasi mengenai wakaf produktif. 
 
Sejumlah penelitian di bidang wakaf produktif juga terus dilakukan. Kamis lalu (22/12), Bank Indonesia mempublikasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Merancang Model-Model Wakaf Produktif”. Penelitian yang diketuai oleh Dr. Ascarya, MBA, Msc, selaku Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, BI tersebut membahas model-model wakaf produktif paling aplikatif di Indonesia, sesuai dengan UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf.

 
Penelitian tersebut membagi model wakaf menjadi dua bagian utama, yakni model wakaf sederhana dan model wakaf inovatif. Ascarya memaparkan, dari 172 model wakaf sederhana dan 106 lebih model wakaf inovatif yang berkembang di dunia, ada 10 model wakaf sederhana dan 6 model wakaf inovatif yang dinilai paling aplikatif untuk diterapkan di Indonesia.
 
Dua model wakaf sederhana yang paling aplikatif di Indonesia antara lain Cash Waqf and Self-Managed (menggalang wakaf melalui uang dan nazhir mengelola sendiri) dan Cash Waqf and External Management (menggalang wakaf uang dan dikelola pihak lain).
 
Sementara itu, model wakaf inovatif belum diterapkan di Indonesia mengingat bentuknya yang cenderung rumit dengan melibatkan lebih dari lima pemangku kepentingan. Namun demikian, beberapa model wakaf inovatif akan diterapkan di Indonesia beberapa bulan ke depan. Misalnya saja, model BOT by PC/SOC & International Financing (Built-operate-transfer dengan perusahaan swasta dan pembiayaan internasional) yang diterapkan oleh Global Wakaf Foundation bersama dengan Yayasan Raudhatul Muta’allimin, Provera, dan IDB untuk pembangunan Global Wakaf Tower awal 2017 mendatang.
 
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Prof. Dr. Uswatun Hasanah, dosen tetap UI sekaligus pakar keuangan syariah di Indonesia, menilai penelitian tersebut tidak hanya bersifat akademis atau ideal, namun juga aplikatif untuk diterapkan di Indonesia.

“Kita hanya butuh penyesuaian lebih lanjut dengan UU 41 tentang wakaf. Harapan kami, UU tersebut dapat diperbaharui dengan unsur-unsur yang dapat mendukung lebih jauh implementasi wakaf produktif di Indonesia,” jelasnya.
 
Meningkatnya jumlah penelitian mengenai wakaf produktif di Indonesia serta solidnya sinergi pemangku kepentingan yang ada patut diapresiasi. Ini menandakan Indonesia menempatkan wakaf sebagai salah satu penggerak ekonomi dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat luas. Pembenahan dan inovasi terus dilakukan demi memaksimalkan karakter wakaf produktif.
 
Dengan upaya yang terus dilakukan saat ini, tidak menutup kemungkinan dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, Indonesia mampu menjelma menjadi negeri yang sejahtera dengan pengelolaan wakaf terbaiknya, seperti pada masa Kekaisaran Ottoman di Turki. []
 
Penulis: Dyah Sulistiowati
 

Tag

Belum ada tag sama sekali