Menutup Hari Tasyrik dengan Semangat Persaudaraan

Warga Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, menutup perayaan Iduladha dengan memasak dan memakan sajian kurban bersama-sama.

Menutup Hari Tasyrik dengan Semangat Persaudaraan' photo

ACTNews, MANGGARAI TIMUR – Suara hujan membangunkan kami, tim Global Qurban-ACT, pada pukul setengah lima pagi. Suhu dingin dan suasana gelap tanpa listrik tidak menyurutkan kami untuk segera berwudu dan menunaikan salat Subuh berjamaah. Pada pagi hari tasyrik ketiga itu, kami memanjatkan doa agar mampu menuntaskan amanah para dermawan untuk menyampaikan kurban bagi masyarakat tepian negeri di Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

"Ayo ke kebun sudah, kita petik ute!" ajak Erna, istri kepala Desa Biting, ketika terang mulai menampakkan diri. Desa Biting sendiri merupakan salah satu desa sasaran pendistribusian kurban di Kecamatan Elar. Rumah keluarga kepala desa menjadi tempat kami bermalam hari itu. Pagi itu, matahari memang tidak muncul sempurna. Awan sisa hujan masih memayungi langit.

Selain penyembelihan 20 ekor sapi di Kecamatan Elar, Rabu (14/8), perayaan Iduladha di hari tasyrik ketiga itu akan dilakukan dengan makan bersama seluruh tokoh desa.

"Nanti kita undang pak camat, pastor, orang puskesmas, ustaz juga," kata Erna di tengah langkah menuju kebun sayur-mayur yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah.


Kami pun memetik sejumlah sawi putih. Menurut Erna, harga ute atau sayur mayur di desanya cukup mahal. Satu bonggol sawi dihargai Rp 10 ribu. "Pilih yang bonggolnya keras e, yang sudah tua," katanya.

Setelah cukup, kami pun membawa ute ke rumah. Para ibu sudah bersiap dengan alat masak. Sementara, di tanah lapang belakang rumah, para bapak mulai memotong sejumlah sapi.

Tidak ada listrik, apalagi daging

Iduladha hari itu dimaknai dengan segenap syukur. Menurut Mustaram selaku Kepala Desa Biting, warga di kecamatan Elar sangat jarang mengonsumsi daging. “Masyarakat merasakan daging kurban ini tahun 2015 ketika masuk program ACT (di Kecamatan Elar),” aku Mustaram. Hingga empat tahun berlanjut, warga Desa Biting dan sejumlah desa di Kecamatan Elar masih bisa menikmati daging kurban. “Kami terus menjaga komunikasi dengan ACT,” imbuhnya.


Menurut Arif Ibrahim, relawan Global Qurban untuk Kecamatan Elar, kurban tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Menurutnya, pendistribusian kurban oleh Global Qurban yang menjangkau pelosok negeri, termasuk kecamatan Elar. Bantuan ini sangat berharga untuk warga setempat. “Bagi kami, konsumsi daging sapi atau kambing sangat sulit sekali. Karena jika kami ingin mengonsumsi daging sapi, kami harus ke Ruteng dengan jarak yang sangat jauh dan harga daging yang sangat mahal,” ungkap Arif.

Rafia, warga Desa Biting pun mengungkapkan syukur. Ibu dua anak itu tengah menganyam daun kelapa untuk dijadikan ketupat. “Mau bikin ketupat, sama sayur daging,” katanya sembari menunggu pembagian daging kurban.

Kerukunan antarumat

Nilai-nilai gotong-royong pun terus dijunjung masyarakat Elar tanpa memandang agama. Pastor Laurensius Kuil Svd, dalam Syukuran Qurban di hari tasyrik itu mengatakan, kehidupan sosial warga di Kecamatan Elar tetap selaras walau berbeda keyakinan. “Iman itu hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan kehidupan sosial tidak bisa membeda-bedakan orang,” kata imam umat Katolik di Kecamatan Elar itu. Ia pun mencontohkan, saat pembangunan pembangkit listrik tenaga air, masyarakat desa bergotong-royong tanpa memandang agama demi kemajuan bersama.

Dalam perayaan Iduladha ini, ia mengaku baru pertama kali mendapat undangan berkumpul dan merayakan bersama. Menurutnya, ibadah kurban juga dijelaskan dalam perjanjian lama. “Itulah saya pahami pandangan umat muslim tentang ibadah kurban ini,” pungkasnya.


Tidak terasa, hari berganti malam. Bulan di langit timur menyala hampir bulat penuh. Suasana gelap mulai menyelimuti desa tanpa listrik itu. Dari kejauhan, deru mesin genset – yang digunakan warga memasok listrik ke sejumlah rumah terdengar – beradu dengan suara jangkrik. Tutup sudah perayaan Iduladha 1430 Hijriah. []

Bagikan