Menyablon, Ikhtiar Hilangkan Citra Buruk Anak Punk

Menyablon, Ikhtiar Hilangkan Citra Buruk Anak Punk

Menyablon, Ikhtiar Hilangkan Citra Buruk Anak Punk' photo

ACTNews, BANDUNG – Dadang terlihat sedang sibuk di kediamannya saat tim Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) datang ke rumahnya di Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Bandung. Laki-laki kelahiran tahun 1995 ini sedang mengerjakan pesanan sablon untuk emblem kelompok musik aliran punk. Menggunakan media kaus dengan ketebalan 30s, Dadang menyablon dengan teliti.

Di rumahnya, pria yang juga tergabung dalam komunitas punk ini hanya memiliki 1 papan sebagai tatakan media sablon. Hal ini terkadang membuat Dadang harus ikut menjadi pekerja sablon di tempat orang lain demi mencukupi kebutuhan hidup. “Usaha saya ini skalanya sangat kecil, hanya 1 tatakan, enggak bakal sanggup buat pesanan banyak untuk kaus,” jelasnya, Kamis (21/2).

Sekitar tahun 2015, Dadang mulai belajar sablon. Ia belajar dari orang lain sesama komunitas punk. Berawal dari coba-coba, kemudian Dadang ikut bekerja di salah satu workshop sablon milik anak punk lain.

Dadang yang tak tamat sekolah dasar itu menjadikan keahlian menyablonnya sebagai pekerjaan utama. Dadang juga menyablon untuk menghilangkan anggapan buruk tetangganya tentang anak punk. “Banyak orang yang anggap anak punk itu pengangguran dan hanya mengamen saja, tapi enggak semuanya begitu,” katanya.

Pada Rabu (22/2), Dadang merupakan salah satu dari 10 pelaku usaha sablon yang mendapatkan bantuan screen. Bantuan ini diserahkan dari Tokopedia melalui Global Zakat-ACT. Dadang mengaku sangat terbantu atas bantuannya, mengingat harga screen sablon yang tak murah.

Melalui bantuan ini, Dadang juga mengungkapkan pesan kepada anak punk lain. Ia berharap, anak punk harus memiliki usaha yang tak hanya menguntungkan pribadi. Namun juga dapat mengembangkan potensi lingkungan untuk mengurangi pengangguran. “Anak punk harus bisa bersifat sosial yang peduli dengan sesama,” pesannya. []

 

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan