Menyalakan Cahaya Islam di Tanah Karo

Setelah tiga tahun perjuangan mengenalkan Islam, Ustaz Habib akhirnya membawa masyarakat Kampung Lau Gedang, Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kutalimbaru, Deli Serdang, menjadi mualaf. Wajah Islam yang damai dan membawa rahmat menjadi alasan banyak warga memutuskan untuk menjadi mualaf di kampung yang terletak di kaki Gunung Sibayak ini.

Menyalakan Cahaya Islam di Tanah Karo' photo
Ustaz Habib merangkul seorang warga yang baru saja memeluk Islam. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, DELI SERDANG – Di tengah persiapan syukuran kurban, Mohammad Abdul Azis Mangat Tarigan memantik perhatian. Warga mengelilinginya di tengah Masjid Nurul Yaqin. Di depannya seorang ustaz yang siap memandu untuk mengucap ikrar syahadat. Tangan Mangat agak menggigil dan suaranya gemetar, seperti sedang kedinginan. Tetapi raut semringah tergambar dari wajahnya.

Saat hendak mengucap syahadat, laki-laki kisaran 50 tahun ini beberapa kali mengusap wajahnya karena air mata yang turun. Namun pada akhirnya, syahadatnya lancar. Seketika setelah syahadat selesai, banyak warga memeluknya, menyambut saudara seiman mereka yang baru saja hijrah.

“Pak Mangat nanti jangan malu-malu. Kalau misalnya bingung persoalan agama, kita belajar sama-sama,” ajak Ulil Albab Habibullah Lubis (28), atau akrab disapa Ustaz Habib oleh warga setempat.

Membimbing para mualaf bukan perkara baru lagi buat Ustaz Habib. Sejak datang ke Kampung Lau Gedang, Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kutalimbaru, Deli Serdang sekitar 3 tahun lalu, ia bertekad untuk terus menyalakan cahaya Islam di sana. Memang Masjid Nurul Yaqin sudah ada sejak sebelum ia datang, namun aktivitasnya belum hidup.

“Waktu pertama saya datang, mohon maaf, jarang terdengar azan di kampung ini. Sekitar tahun 2017, masih 20 kepala keluarga yang memeluk Islam dari sekitar 75 kepala keluarga yang ada,” cerita Ustaz Habib pada Ahad (2/8) itu.


Ustaz Habib bersama santri-santrinya. (ACTNews/Reza Mardhani)

Mengabdi untuk Kampung Lau Gedang bagi Ustaz Habib berarti meninggalkan zona nyaman. Lulusan sarjana ekonomi ini meninggalkan karirnya di bidang keuangan karena terinspirasi dari adik-adik kelasnya di pondok pesantrennya dahulu yang berhasil mendakwahkan Islam di daerah-daerah pelosok. Keinginan itu sampai ketika almamaternya mendukung dia untuk berdakwah di Kampung Lau Gedang.

Menggunakan motor bebek, saat itu hampir setiap hari ia berjalan dari tempat ia bermukim di Pondok Pesantren Al-Purbanta Hidayatullah Berastagi, menuju Kampung Lau Gedang untuk berdakwah. Menuruni lereng perbukitan sekitar 7 kilometer, jatuh dari motor merupakan hal biasa untuk Ustaz habib karena kondisi jalanan yang cukup parah di Kampung Lau Gedang.

“Motor saya hampir setiap minggu saat itu masuk bengkel. Jatuh dari motor juga sudah sering, bahkan jadi makanan sehari-hari. Dahulu itu, istri saya bahkan sering menangis karena bolak-balik lewat jalanan yang seperti ini,” kenangnya sambil tertawa.

Tetapi dengan kerja keras, ia bertahan di Kampung Lau Gedang. Sekitar 3 tahun berdakwah, saat ini sudah 45 kepala keluarga yang memeluk agama Islam. Kegiatan Masjid Nurul Yaqin yang sebelumnya minim, kini hidup kembali.


“Masjid ini sudah ada semenjak dahulu, cuma tidak ada penghulunya di awal-awal, jadi belum hidup. Sekarang-sekarang ini, alhamdulillah, kegiatan masjid jadi hidup lagi. Acara-acara agama juga jadi ada sedikit-sedikit, termasuk acara kurban seperti hari ini,” kata Baginda Batubara (39), salah satu warga Kampung Lau Gedang.

Warga juga menerima Ustaz Habib karena ia memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya, lembut dan membawa rahmat di sekitarnya. Muslim maupun nonmuslim mengenal Ustaz Habib sama baiknya di kampung ini.

“Banyak dari mereka yang tertarik dengan Islam karena melihat umat muslim ini kok pembawaannya tenang. Karena yang penting kita berbuat baik tidak pandang agamanya apa. Seperti kurban kita sekarang ini, padahal orang-orang yang kita berikan daging ada yang tidak merayakan tapi kita kasih juga,” jelas Ustaz Habib.

Lebih jauh lagi, Ustaz Habib belakangan telah membangun Rumah Qur’an Karo yang juga berfungsi sebagai pondok pesantren putra di Kampung Lau Gedang. Puluhan anak di pesantren itu kini bisa mengakses pendidikan agama secara cuma-cuma dan diasuh oleh kawan Ustaz Habib semasa masih mondok dahulu.


Anak-anak yang mengaji selepas salat di Pondok Pesantren Hidayatullah Berastagi. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Harapan kami semoga dari tempat yang namanya Lau Gedang atau Sembekan Dua, lahir para pemimpin-pemimpin yang membuat perubahan. Sebab pemimpin itu lahir bukan dari tempat yang nyaman. Tapi para pemimpin besar itu lahir dari semua keterbatasan,” kata Ustaz Habib. Saat ini perkembangannya pun cukup luar biasa. Anak-anak yang tadinya buta huruf latin dan hijaiah kini hampir semuanya bisa membaca dan telah menghafal Alquran juz 30.

Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumatra Utara sempat memberikan penyemangat untuk para santri dan mualaf untuk terus belajar dengan memberikan bantuan pangan pada bulan Januari 2020 lalu. Selanjutnya selain membersamai para mualaf dan santri, tim juga berencana mengapresiasi perjuangan Ustaz Habib melalui program Sahabat Guru Indonesia.

“Rencananya apresiasi akan kita berikan kepada Ustaz Habib melalui program Sahabat Guru Indonesia. Mudah-mudahan ke depannya rencana ini dapat terealisasi sehingga dapat menjadi penyemangat Ustaz Habib dalam membimbing warga serta para mualaf,” kata Sakti Wibowo dari Tim Program ACT Sumatra Utara.

Ustaz Habib pun senang melihat perkembangan warga selama ini. Ia berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantunya dalam menyiarkan Islam ke Kampung Lau Gedang. “Alhamdulillah, saya rasa kalau tidak ada uluran tangan kita semua, dakwah yang ada di Tanah Karo ini tidak ada apa-apanya. Makanya butuh kerja sama, dan butuh uluran tangan kita semua,” harap Ustaz Habib. []


Bagikan