Menyambut Zulhijah, Mengejar Amalan-Amalan Terbaik

Meskipun datang di ujung tahun, bukan berarti Zulhijah tidak lebih istimewa dibandingkan 11 bulan lainnya. Banyak amalan-amalan sunah yang dicintai oleh Allah yang dianjurkan untuk diamalkan oleh hamba-Nya di bulan ini. Salah satunya adalah berkurban.

Menyambut Zulhijah, Mengejar Amalan-Amalan Terbaik' photo
Salat Idulfitri di Lombok tahun 2019 di tempat bekas berdirinya sebuah masjid yang hancur karena gempa. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Bulan Zulhijah sudah datang, tanda tahun 1441 Hijriah segera berakhir. Namun bonus pahala dari Allah tidak putus di akhir bulan ini. Justru banyak amalan-amalan yang disunahkan pada penghujung tahun Hijriah ini.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nabi pernah bersabda bahwa tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Zulhijah. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.“

Begitu besarnya pahala yang akan didapatkan oleh orang yang beramal di bulan Zulhijah, bahkan tidak lebih kecil dari pahala jihad. Oleh karenanya Nabi mencontohkan beberapa amalan yang dapat dilakukan pada bulan Zulhijah.


Seperti puasa salah satunya. B
agi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arafah yaitu pada tanggal 9 Zulhijah. Hal ini berdasarkan hadis Abu Qotadah, yakni Rasulullah bersabda, “Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”

Lebih lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengajarkan berpuasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Rasulullah mendorong kita untuk beramal saleh ketika itu, dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan. Hal ini diceritakan dari istri Hunaidah bin Kholid, yang mengatakan beberapa istri Nabi yang bercerita, “Rasulullah shallallahualaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Zulhijah, pada hari Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya.

Selain puasa, takbir dan zikir juga disunahkan di bulan ini. Bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristigfar, dan memperbanyak doa adalah amalan-amalan dianjurkan. Disunahkan untuk mengeraskan suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.


Memperbanyak doa dan zikir sangat dianjurkan di 10 hari pertama Zulhijah. (ACTNews/Reza Mardhani)

Amalan ini diriwayatkan Imam Bukhari yang mengatakan Ibnu Abbas berkata, “Berzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Zulhijah dan juga pada hari-hari tasyrik." Ibnu Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin Ali pun bertakbir setelah shalat sunah.

Dan tentu kita tidak melupakan amalan di tanggal 10 Zulhijah yang dirayakan seluruh umat muslim, yakni ibadah haji dan kurban. Dunia dipenuhi takbir dan umat muslim seluruh dunia akan berbahagia sambil mengenang teladan takwa Nabi Ibrahim.

Namun berbeda dari tahun sebelumnya, tanah suci ditutup tahun ini karena pandemi. Kondisi ini menyisakan kurban sebagai puncak ibadah di 10 hari pertama bulan Zulhijah.

Hikmah kurban sebagai ibadah utama di bulan Zulhijah semakin bertambah dengan adanya pandemi. Banyak masyarakat yang kesulitan akibat ekonomi yang terus merosot akibat pengurangan interaksi sosial. Cendekiawan muslim Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menjelaskan bahwa bentuk penghambaan kepada Allah juga mesti berdampak kepada orang-orang lain di sekitar.


Warga Manggarai Timur yang sedang mencacah daging. (ACTNews/Gina Mardani)

“Melaksanakan perintah kurban itu semata karena Allah dan untuk Allah, namun wujud material dagingnya disampaikan dan dinikmati fakir miskin. Di sini muncul formula bahwa dalam Islam yang namanya pengabdian atau penghambaan pada Allah yang bersifat vertikal itu mesti membawa dampak nyata untuk kebaikan kehidupan sosial yang bersifat horizontal,” ungkap Prof. Dr. Komaruddin dalam bukunya yang berjudul "Agama untuk Peradaban: Membumikan Etos Agama dalam Kehidupan".

Imbauan serupa juga datang dari Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar. Pada Iduladha tahun ini, Ibnu memaknai kurban sebagai penyelamatan jiwa manusia.

“Dengan luasnya jangkauan distribusi kurban tahun ini, kami berharap makin banyak umat yang merasakan berkah dan nikmat kurban di kala pandemi. Pangan menjadi kebutuhan utama umat saat ini, di saat ekonomi nasional dan global terus mengalami resesi. Inilah saatnya bagi kita, umat muslim dan mukminin, untuk menunjukkan ketaatan kita kepada Rabbul ‘Alamin sekaligus membagikan kebahagiaan kurban bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga ini menjadi bentuk optimisme yang menguatkan kita bersama selama pandemi ini,” harap Ibnu. []


Bagikan