Menyapa Mereka yang Terisolir di Buthidaung, Rakhine

Menyapa Mereka yang Terisolir di Buthidaung, Rakhine

Menyapa Mereka yang Terisolir di Buthidaung, Rakhine' photo

ACTNews, RAKHINE – Sampan tradisional itu memuat puluhan sak karung. Haluannya membelah sungai Mayu, menuju ke wilayah Buthidaung, Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Sabtu (1/12), kapal tersebut mengangkut 146 paket pangan yang akan diberikan kepada ratusan kepala keluarga Rohingya di Desa Danomi.

Hari pertama bulan Desember itu menjadi salah satu hari bersejarah bagi warga Rohingya yang tinggal di Desa Danomi. Sudah lama tidak ada bantuan yang sampai kepada mereka di sana. Para penyintas Rohingya di Desa Danomi telah bertahun-tahun hidup terisolir. Naing (30) relawan lokal ACT di Myanmar menceritakan, orang-orang Desa Danomi tidak bisa lagi pergi bekerja sebagaimana mestinya sebab desa tersebut menjadi salah satu daerah yang diblokade.

“Di desa ini sebagian kecil penduduknya bekerja sebagai petani, dan sisanya hanya mengerjakan pekerjaan serabutan yang biasanya mereka lakukan dari desa ke desa di wilayah Buthidaung,” terang Naing, Rabu (5/12).

Relawan ACT mengarungi Sungai Malu menuju Desa Danomi, Buthidaung, Rakhine

Sebagian besar warga Rohingya hidup di bawah garis kemiskinan di Desa Danomi. Hampir setiap hari mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para penyintas Rohingya itu harus hidup dengan makanan yang sangat terbatas. Sebagian kecil dari mereka menanam sayuran di sekitar rumah dan kemudian menukar sayuran organik tersebut dengan beras dan minyak dari beberapa orang Rakhine.

Tidak hanya di Danomi, bantuan paket pangan juga disampaikan bagi warga Rohingya yang tinggal di Desa Zaydi Taung. Penduduk Rohingya di sana tidak jauh berbeda keadaannya dengan mereka yang tinggal di Desa Danomi. Lokasi mereka cukup terisolir karena dikelilingi oleh sungai.

Selasa (4/12), paket bantuan pangan diantarkan kepada keluarga-keluarga yang paling membutuhkan di sana.

“Saat ini, ACT merupakan satu-satunya organisasi yang bisa memasukkan bantuan melalui tangan-tangan para relawan di sana. Bantuan itu menjadi pertama kalinya sejak bertahun-tahun silam. Sudah lama tidak ada bantuan dari NGO yang masuk ke sana karena sulitnya akses dan pemblokadean,” lapor Sucita Pri Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) ACT, Rabu (5/12).

Paket pangan siap diantarkan ke warga Rohingya di Desa Danomi dan Desa Zaydi Taung

Semangat kemanusiaan mengalahkan tantangan

Ada cerita tersendiri di balik misi kemanusiaan mengantarkan paket pangan ke Buthidaung. Naing bercerita, butuh perjuangan yang tidak mudah untuk mengantarkan bantuan. Mulai dari pembelian bahan pangan di pasar Nyaung Chaung di Buthidaung hingga membawanya masuk ke desa-desa. Naing harus diam-diam saat membeli bahan-bahan pangan. Di pasar dan sekitarnya sangat banyak pos pemeriksaan pihak keamanan Myanmar. “Pihak keamanan selalu memeriksa kami,” tutur Naing.

Namun, tantangan itu menjadi tidak berarti bagi Naing dan tim relawan ACT di sana. Warga Rohingya di Buthidaung mengatakan bantuan tersebut sangat bermanfaat di kala mereka tidak dapat bergerak dengan bebas untuk mencari nafkah dan memberi makan keluarga.

Warga rohingya di Desa Danomi menerima paket pangan

Sebagaimana diceritakan Naing, Eiman Huson (44), warga Desa Zaydi Taung mengungkapkan kalau ia memiliki anggota keluarga sebelas orang. Ia adalah satu-satunya tulang punggung di keluarganya. Anggota keluarga lainnya adalah wanita sehingga mereka tidak bisa keluar untuk bekerja.

“Saya bertani dan saya memiliki 7 orang anak yang masih berusia di bawah 18 tahun. Kami sangat senang dan berterima kasih atas bantuan pangan dari ACT ini, beras, minyak, bawang, cabai, tepung, dal, mi dan ikan kering. Alhamdulillah,” ungkapnya.

Akses pendidikan masih buruk

Kemiskinan ternyata bukan satu-satunya problem bagi warga Rohingya di Desa Danomi dan Desa Zaydi Taung. Sebagai masyarakat minoritas, anak-anak usia sekolah di sana tidak menempuh pendidikan sebagaimana umumnya.

Paket pangan berisi beras, minyak, bawang, cabai, tepung, dal, mi dan ikan kering

“Kami miskin dan tinggal di desa. Kami bahkan tidak memiliki sekolah gabungan. Di desa kami tidak ada orang yang berpengaruh atau cukup berada untuk meminta sebuah sekolah bagi anak-anak. Ada sekitar 150 murid yang sebagian murid-murid tersebut melakukan proses belajar mengajar di rumah kami. Kami berharap ACT juga bisa membantu kami dalam hal pendidikan bagi anak-anak kami,” pinta Eiman.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Mohamad Eliyas (42), seorang petani dan kepala keluarga dari 12 orang anggota keluarga. Eliyas sangat berterima kasih kepada ACT atas bantuan yang diberikan kepada keluarganya. Eliyas juga berharap adanya pendidikan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

“Di sini tidak ada sekolah negeri, kami berharap semoga ada yang mau dan berani membantu kami mengadakan semacam pusat kegiatan belajar-mengajar di desa ini. Kasihan anak-anak, seperti tidak punya masa depan di kampungnya sendiri,” tutur Eliyas.

Warga Rohingya berterima kasih atas paket pangan yang diterima

Hal tersebut pernah diungkapkan The Guardian pada Agustus lalu. Di negara bagian Rakhine, tempat terjadinya kejahatan kemanusiaan pada etnis Rohingya terjadi, warga Rohingya sama tidak lagi mendapatkan fasilitas kesehatan, pekerjaan, dan pendidikan. Mereka pun harus meminta izin kepada pemerintah bila ingin berpergian sebab kewarganegaraan mereka tidak diakui. Diskriminasi adalah hal yang mereka hadapi sehari-hari.

Sebagaimana diberitakan, Lu Min, seorang pelajar dari Buthidaung mengatakan sejak penyerangan terhadap Rohingya terjadi di medio 2017 lalu, banyak pelajar yang hanya tinggal di rumah sebab mengkhawatirkan keselamatan mereka. “Sesekali mereka hanya melempar batu dan di lain waktu mengkatapelkan botol,” ungkapnya pada The Guardian. []

Bagikan