Menyapa Warga Prasejahtera di Pusat Kota Depok

Tinggal di pusat Kota Depok tak menjadikan warga Kampung Lio sejahtera. Sebagian dari mereka bermukim di gang sempit, dengan ekonomi yang masih lemah.

Komunitas anak punk dan warga Kampung Lio, Depok mendistribusikan beras dan Air Minum Wakaf bagi warga prasejahtera. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, DEPOKGedung Kompleks Pemerintahan Kota Depok terlihat jelas dari Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas. Permukiman ini letaknya memang persis di belakang kompleks pemerintahan, hanya dipisahkan oleh jalur kereta Jakarta-Bogor serta jalan raya saja. Gang-gang sempit yang dipadati jejeran rumah sederhana dapat dengan mudah ditemukan di tempat ini.

Di Kampung Lio, sebagian penghuninya merupakan masyarakat prasejahtera. Pekerjaan mereka tak jarang hanya sebagai buruh dengan upah harian, ada juga pengamen serta penjaja asongan di sekitar terminal, stasiun, serta lampu lalu lintas yang ada di Depok.

Jumadi salah satunya. Pendatang yang telah tinggal di Kampung Lio sejak 1980-an ini bekerja sebagai tukang sampah. Gajinya hanya Rp700 ribu per bulan. Uang itu harus ia sisihnya untuk kehidupan di tanah rantau, pendidikan dua anaknya di kampung halaman, serta membayar uang kontrakan rumah.

Kampung Lio sendiri membentang dari pinggiran rel Jakarta-Bogor hingga Situ Rawa Besar Lio. Tempat itu kini jadi permukiman padat penduduk, tempat ribuan orang bernaung. Mereka hidup dengan berbagai keterbatasan, khususnya perekonomian.


Anggota komunitas anak punk berfoto bersama dengan warga prasejahtera di Kampung Lio. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACT melalui program Sahabat Keluarga Prasejahtera Indonesia (SKPI) menyambangi Kampung Lio pada Kamis (19/3) lalu. Kehadiran program ini merupakan bagian dari rangkaian Operasi Pangan Gratis dari ACT di masa darurat Covid-19. Sebanyak 100 paket beras dan Air Minum Wakaf didistribusikan ke warga prasejahtera.

Zaid Muzayyan dari Tim Program ACT Depok mengatakan, Operasi Pangan Gratis menyasar Kampung Lio mengingat wilyaah tersebut dihuni masyarakat prasejahtera di Depok. Kawasan Lio juga dikenal dengan stigma negatifnya karena banyak komunitas anak punk yang sering berkumpul di sana. “Pendistribusian ini melibatkan komunitas anak punk,” jelasnya.

Keterlibatan komunitas punk ini bertujuan agar stigma negatif yang selalu melekat di mereka dapat memudar dengan kegiatan sosial. Terlebih, anak-anak punk yang berada di Kampung Lio telah dibina langsung oleh Komunitas Laskar Berani Hijrah (Lebah) untuk melakukan berbagai kegiatan yang lebih baik dan bermanfaat.

Ke depannya, tambah Zaid, ACT berkolaborasi dengan Komunitas Lebah akan terus melakukan pendampingan untuk masyarakat Kampung Lio, terlebih komunitas anak punk.[]