Menyelamatkan yang Paling Rentan Pascagempa Lombok

Menyelamatkan yang Paling Rentan Pascagempa Lombok

ACTNews, LOMBOK - Berbicara tentang pengungsi, kaum yang paling rentan ialah balita juga anak-anak. Ironi itu juga terjadi di Lombok. Bahkan angka tertinggi pengungsi korban gempa Lombok adalah balita serta anak-anak. Mengutip data Kementerian Kesehatan, jumlah pengungsi dengan kriteria balita dan anak-anak mencapai 213.724 jiwa.

Kami, Tim ACT yang berjibaku di Lombok sejak akhir Juli lalu melihat kenyataan ini terjadi merata di seluruh kamp-kamp pengungsian. Dari sepanjang jalan Kabupaten Lombok Utara, hingga Kecamatan Sambelia dan Sembalun di Lombok Timur. Bagaimana mimik wajah anak-anak dengan tatapan kosongnya mengisi kamp pengungsian dengan terpal tipisnya seadanya. Atau rengekan suara bayi yang kepanasan karena teriknya sinar matahari kala siang menghampiri kamp pengungsian.

Tentu, empati paling sederhana pun menyatakan bahwa, tenda beratapkan terpal tipis itu bukanlah tempat yang aman dan nyaman bagi mereka. Tenda-tenda yang didirikan di atas tanah lapang dengan beralas plastik tipis dan ukuran yang sangat sempit. Tingginya tak lebih dari satu meter, dengan penyangga kayu dan bambu seadanya.

Satu tenda tidak hanya diisi satu keluarga, melainkan bisa tiga hingga empat keluarga sekaligus. Terbayang, bagaimana mereka hidup aman dan nyaman di kamp pengungsian apa adanya. Mau kembali ke rumah? Rumah sudah rata dengan tanah pascagempa besar 7,0 SR lalu.

Banyak hal pilu yang kami temui pasca mengunjungi kamp-kamp pengungsian yang menjadi area distribusi ACT. Bayi yang sudah mulai memerah kulitnya, dengan benjolan-benjolan kecil akibat sanitasi yang kacau pascagempa. Air bersih nihil, imbasnya mandi dan cuci hanya sekali sehari, atau bahkan berhari-hari tak ketemu dengan air bersih.

Kasus lain, anak-anak pengungsi gempa Lombok pun sudah mulai terkena ISPA, akibat debu yang mengepul dari kontur tanah yang didiami para pengungsi. 

Data dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) - ACT per 25 Agustus 2018 menunjukkan, total pengungsi telah mencapai 431.416 jiwa. Bahkan jumlah ini ditaksir akan terus bertambah, hingga mencapai nyaris setengah juta pengungsi. Pendataan belum sepenuhnya tuntas mengingat wilayah terdampak sangat luas sekali di beberapa kabupaten sekaligus.

Rini Maryani, Vice President ACT mengatakan, jumlah pengungsi yang mencapai angka lebih dari 400 ribu jiwa, jumlahnya begitu besar. Dari jumlah tersebut, kaum paling rentan, bayi dan anak-anak justru mengisi jumlah populasi paling banyak

"Saya tak bisa membayangkan anak-anak tinggal di kamp pengungsian yang sangat sederhana dan padat ini, dengan jangka waktu mereka tidak tahu sampai kapan. Mungkin satu, dua, tiga hari mereka belum merasakan apa-apa, tapi sekarang bisa kita lihat, mereka sudah mengalami babak baru, banyak masalah yang menghantui para anak-anak bayi di tenda pengungsian ini", tutur Rini, saat mengajak anak-anak bermain di kamp pengungsian Lapangan Gondang, Kecamatan Gangga.

Menyimak langsung nasib pengungsi anak-anak dan balita di Lombok, Rini mengatakan ACT akan segera berikhtiar untuk memberikan yang terbaik. Agar kehidupan para pengungsi terutama anak-anak dan balita segera bisa tinggal di tempat yang aman dan nyaman.

"Bismillah, kita akan segera mempercepat pembangunan hunian sementara untuk mereka, agar secepatnya mereka bisa tinggal dengan aman dan nyaman. Kami ingin segera mereka mendapatkan hak-haknya sebagai anak pada umumnya. Tidak hanya hunian sementara, sarana MCK dan lainnya akan melengkapi hunian sementara untuk menyelamatkan kehidupan para pengungsi," jelas Rini.

Memasuki tahap pemulihan, Insya Allah ACT tengah membangun hunian sementara berjumlah 1.000 unit. Nantinya akan menyebar di semua wilayah terdampak bencana gempa. Terkait jumlah, Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President ACT mengatakan, jumlah hunian itu bukan target maksimum.

“Ya, saat ini tim kami sedang melakukan pendataan di berbagai wilayah terdampak, agar shelter atau hunian sementara bisa merata di semua wilayah. 1.000 unit itu bukan target maksimum, ingat pengungsi yang tidak memiliki rumah itu lebih dari 80 ribu unit," terang Syuhelmaidi.

Sejalan dengan itu, ACT akan melakukan program recovery lainnya, paralel dengan pembangunan hunian sementara. “Sambil membangun hunian sementara, kami juga akan membangun masjid, sarana pendidikan dan memulihkan roda perekonomian masyarakat Lombok melalui program-program ekonomi, mohon doa dan partisipasinya dari seluruh elemen bangsa Indonesia”, pungkasnya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali