Menyemangati Perjuangan Rukiah, Guru Honorer di Aceh Tamiang

“Kebutuhan anak-anak mulai dari makan hingga pendidikan harus saya penuhi sendiri. Saat saya mencari nafkah di sekolah, anak bungsu saya titipkan ke nenek atau tetangga,” cerita Rukiah.

guru honorer rukiah
Rukiah saat sedang mengajar. (ACTNews)

ACTNews, ACEH TAMIANG – Rukiah harus membagi waktu antara mengajar dan mengurus ketiga orang anaknya. Sebagai guru honorer dan orang tua tunggal, penghasilan Rukiah pun tidak seberapa.

Warga Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang itu harus mengurus anak-anaknya yang berusia 15 tahun, 10 tahun, dan 10 bulan setelah setahun lalu bercerai.

“Kebutuhan anak-anak mulai dari makan hingga pendidikan harus saya penuhi sendiri. Saat saya mencari nafkah di sekolah, anak bungsu saya titipkan ke nenek atau tetangga,” cerita Rukiah kepada tim Global Zakat ACT saat bersilaturahmi untuk memberikan bantuan biaya hidup Sahabat Guru Indonesia, Sabtu (4/9/2021).

Gaji Rukiah selama lima tahun menjadi guru honorer adalah Rp700 ribu per bulan. Pandemi Covid-19, membuat gajinya dipotong hingga Rp150 ribu.

“Anak yang pertama akan lulus SMP dan ingin lanjut sekolah SMA. Sedangkan untuk kebutuhan makan sehari-hari kurang dan sering menumpang ke orang tua. Kalau mencari penghasilan tambahan, tidak punya waktu sama sekali dengan anak, jadi serba sulit,” ujarnya. 

Rizal Fahmi dari tim ACT Langsa mengungkapkan, di wilayah Kota Langsa dan Aceh Tamiang banyak guru honorer yang kehidupanya masih prasejahtera. Meski begitu, para guru tetap mengajar siswa dengan sepenuh hati. “Profesional, saat mengajar seperti tidak punya beban yang sulit, bahagia terus,” pungkasnya.[]