Menyimak Kesaksian Korban Selamat dari Agresi Militer Israel Tahun Lalu

Tanggal 11 Mei 2022 menandai satu tahun sejak serangan Israel ke Gaza dalam agresi yang dianggap sebagai salah satu yang terparah tersebut. 256 warga Gaza meninggal dunia, dan ribuan lainnya terluka. Omar Abu al-Ouf, salah satu korban selamat, menceritakan bagaimana agresi militer Israel merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya termasuk adik perempuannya yang masih kecil.

serangan isreal ke gaza
Satu tahun sudah sejak agresi besar Israel ke Gaza pada 11 Mei 2021 lalu. (MEE/Mohammed al-Hajjar)

ACTNews, GAZA – 11 Mei 2022 menandai satu tahun sejak serangan militer pertama Israel ke Gaza ketika ekskalasi di Yerusalem Timur dan Masjid Al Aqsa memanas. Dalam agresi besar tersebut, Global Humanity Network dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) mencatat ada 256 warga Palestina di Gaza yang meninggal dunia.

Selain itu, serangan tersebut juga menyebabkan sedikitnya 1.710 warga Gaza mengalami luka-luka, yang mayoritasnya disebabkan oleh serangan pesawat tempur Israel ke bangunan-bangunan di Gaza. Serangan yang berlangsung selama 11 hari ini dinilai sebagai salah satu yang terparah di Gaza karena menargetkan warga sipil dan tempat tinggalnya. Tercatat 16.800 unit rumah warga rusak, dengan 1.800 di antaranya tidak layak untuk ditinggali kembali.

Dikutip dari laman Middle East Eye, salah satu penyintas menceritakan bagaimana kisahnya saat ia harus menyaksikan seluruh anggota keluarganya meninggal dalam bombardir serangan udara. Ia adalah Omar Abu al-Ouf, satu-satunya yang selamat dari keluarganya. Omar menceritakan, rumah keluarganya yang berada di jalan al-Wehda di pusat Kota Gaza menjadi sasaran serangan udara pada 16 Mei.

“Saya sedang duduk bersama orang tua, saudara kandung, dan kakek-nenek saya ketika serangan udara meningkat pada tengah malam,” kata remaja berusia 17 tahun itu. Kami berlari ke koridor berpikir itu adalah tempat teraman di rumah, ayah saya berlari tepat di belakang kami, tetapi pengeboman sangat cepat dan serangan udara menghantam rumah kami," kata remaja berusia 17 tahun itu.

“Dalam sekejap mata, saya menemukan diri saya berbaring tengkurap dengan pilar beton sekitar lima sentimeter di atas punggung saya. Saya tidak bisa bergerak atau melihat apa pun, tetapi saya mencoba bernapas melalui lubang kecil yang saya temukan di tanah. Rasanya seperti kuburan,” sambungnya.

Remaja itu menghabiskan 12 jam di bawah reruntuhan. Terperangkap di bawah tembok rumahnya, Omar terpaksa harus mendengarkan rintihan keluarganya yang sekarat.

“Yang pertama meninggal adalah saudara perempuan saya yang berusia 12 tahun, Tala. Saya dapat mengatakan bahwa dia meninggal setelah 10 hingga 15 menit karena dia sangat kecil dan kurus. Dia berbaring di bawah lengan saya; saya tidak bisa melihatnya tetapi saya tahu dia ketakutan karena saya mendengarnya bernapas sangat cepat sebelum dia berhenti bergerak," kenangnya.

“Beberapa saat sebelum dia meninggal, saya mencoba menghiburnya. Saya tahu dia tidak akan selamat, jadi saya memintanya untuk mengucapkan Syahadat. Dia melakukannya dan aku tidak bisa lagi mendengarnya bernapas. Saya tahu saat itu bahwa dia telah meninggal." cerita Omar.

Tala adalah satu dari 66 anak berusia antara 5 hingga 15  di Gaza meninggal dalam agresi Israel tersebut. “Setelah Tala meninggal, saya dapat mendengar ibu saya merintih kesakita, saya tidak mengerti apa yang dia katakan, tetapi saya pikir dia juga mengucapkan Syahadat,” lanjut Omar.

Tidak berhenti sampai di sana, Omar juga menceritakan bahwa ia juga kehilangan saudara laki-lakinya, Tawfiq. Omar menyebut, Tawfiq adalah satu-satunya saudara yang tetap hidup selama 12 jam di bawah reruntuhan bersamanya.

"Tawfiq memanggil nama saya setiap lima menit dan bertanya: ‘Omar apakah kamu masih hidup?’ Di saat-saat terakhirnya, dia meminta saya untuk memaafkannya dan mengucapkan Syahadat. Dia tahu dia tidak akan selamat."

Omar mengatakan, karena serangan udara yang intensif dan kurangnya peralatan, pertahanan sipil Palestina membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari tahu di mana dia berada, dan menariknya dari puing-puing reruntuhan.

"Saya mencoba berteriak untuk membantu mereka menemukan saya. Ketika mereka akhirnya berhasil menarik saya keluar, saya dibawa ke unit perawatan intensif, di mana para dokter mengambil sampel urin dari saya yang benar-benar hitam karena banyaknya debu dan pasir yang saya hirup dan telan," pungkas Omar.

Apa yang menimpa Omar, juga menimpa hampir seluruh tetangganya di wilayahnya. Kejadian tahun lalu tersebut, masih membuat Omar trauma dan mengisi tiap mimpi buruknya. []