Menyintas demi Merawat Generasi Hafiz Uighur

Menyintas demi Merawat Generasi Hafiz Uighur

Menyintas demi Merawat Generasi Hafiz Uighur' photo

ACTNews, ISTANBUL - Mencetak generasi hafiz Alquran menjadi salah satu tujuan hidup Abdullah, salah satu diaspora Uighur di Istanbul, Turki. Dua puluh tahun lamanya ia membangun rumah tahfiz untuk generasi muda Uighur. Ikhtiar Abdullah membina calon hafiz Alquran terus berlanjut walau kini ia menjalaninya di negeri suaka.

Bukan perkara mudah untuk istikamah meniti apa yang ia sebut sebagai jalan dakwah ini. Tujuh belas tahun Abdullah mengembangkan rumah tahfiznya di Urumqi, Xinjiang, Cina. Bangunan rumah tahfiz tersebut tidak seperti fasilitas publik pada umumnya yang berdiri di atas lahan. Abdullah mengatakan, rumah tahfiz yang ia dirikan berada di bawah tanah.

“Demi keamanan,” ungkap pria paruh baya ini, Jumat (18/1). Abdullah berkisah, cukup sulit bagi Uighur untuk menuntut ilmu agama Islam secara terbuka di kampung halamannya.

 

“Waktu pertama kali didirikan (sekitar tahun 1998), hanya ada lima anak yang saya ajar. Lalu terus bertambah. Sampai tiga tahun lalu (2015), ada 200 hafiz yang saya luluskan. Alhamdulillah,” lanjut Abdullah.

Meski dirasa cukup aman untuk mengelola rumah tahfiz di bawah tanah, Abdullah kerap menerima risiko dari pekerjaannya. Selama 17 tahun itu, ia delapan kali dimasukkan ke dalam penjara oleh kepolisian setempat. Sekali ditangkap, Abdullah ditahan selama 3-4 bulan atau bahkan setahun. Abdullah mengaku tidak ada alasan jelas mengenai penangkapannya. Namun, ia yakin bahwa itu karena ia menggelar aktivitas keagamaan.

“Makanya kegiatan rumah tahfiz saya sempat tersendat ketika saya ditahan. Tapi kegiatannya berlanjut lagi saat saya bebas,” ujar Abdullah.

Pada 2015, Abdullah melihat kondisi di Urumqi semakin tidak stabil, terutama terkait dakwah yang tengah ia syiarkan. Saat keluar tahanan untuk yang kedelapan kalinya (pada 2015), ia mendapatkan kembali paspornya dan memutuskan untuk pindah ke Mesir. Di sana ia kembali menggelar kegiatan rumah tahfiznya untuk 100 anak Uighur di Mesir.

 

Namun demikian, kegiatan tersebut hanya berlangsung satu tahun. Abdullah menceritakan, selang setahun kepindahannya ke Mesir, warga Uighur ditarik ke Cina. Beberapa bahkan ditahan sebelum akhirnya otoritas Cina menarik mereka pulang.

“Saya berusaha untuk pindah ke Turki bersama diaspora Uighur lainnya, termasuk 20 anak didik saya,” kata Abdullah. Saat itu ia tidak ingin kembali ke Cina karena tahu kondisi sedang tidak stabil untuk Uighur melaksanakan ibadah.

Kembali merintis rumah tahfiz dari nol

Saat tiba di Turki pada 2016, Abdullah kembali memulai semuanya dari nol. Ia merintis rumah tahfiznya dengan bantuan dari komunitas Uighur yang sudah lebih dahulu berada di Turki dan masyarakat lokal Turki.

 

Rumah tahfiz yang kini dikelola Abdullah di Istanbul cukup besar. Bangunan serupa villa itu menjadi tempat bernaung keluarganya dan 30 anak Uighur yang ia bina untuk menjadi tahfiz. Dengan menggebu, Abdullah memberi tahu betapa bersyukurnya ia bisa tinggal dan membina puluhan anak Uighur di tempat itu.

“Kalian tahu? Pemilik rumah ini menyilahkan kami untuk tinggal di sini secara cuma-cuma sampai rumah ini laku dijual. Ya, rumah ini memang dalam proses penjualan, namun belum ada yang membeli. Sudah dua tahun kami tinggal di sini dan rumah ini saya rawat baik seperti rumah sendiri. Murid kan juga perlu kenyamanan dalam belajar,” ungkap Abdullah.

Permasalahan rumah tinggal bagi keluarganya dan 30 pelajar tahfiz yang ia bina untuk sesaat dapat diatasi. Namun, Abdullah mengkhawatirkan keberlangsungan biaya hidup anak didiknya. Pasalnya, seluruh anak didik yang ia bina saat ini adalah yatim piatu atau pun terpisah dengan orang tuanya di Xinjiang.

“Sebagian dari mereka saya bawa dari Mesir karena saat itu mereka sedang belajar di sana. Sebagian lain titipan dari komunitas Uighur yang berada di Turki ini. Mereka tidak ada orang tua asuh, maka saya rawat dan bina mereka menjadi hafiz Alquran,” jelas Abdullah. Rentang usia seluruh pelajar yang ia asuh antara 8-15 tahun.

 

Selama dua tahun belakangan ini, Abdullah berupaya mencari dukungan finansial untuk keberlangsungan hidup mereka. Sejumlah LSM kemanusiaan di Turki ia sambangi, namun belum ada yang merespons terkait kebutuhannya. Bantuan finansial untuk anak didiknya biasa ia peroleh dari dermawan perorangan yang berkunjung ke rumah tahfiznya.

“Terkadang ada warga Uighur yang datang ke sini untuk bantu mereka. Ada juga yang dari Timur Tengah atau Turki. Namun baru kali ini kami kehadiran lembaga dari Indonesia yang peduli dengan nasib anak-anak ini,” ungkap Abdullah penuh syukur.

Menyalurkan amanah masyarakat Indonesia, Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Uighur I menyerahkan bantuan finansial untuk 30 pelajar tahfiz yang dibina oleh Abdullah. Bingkisan berupa panganan ringan dan buah turut menceriakan sore para pelajar tahfiz.

 

Kunjungan pertama dari saudara Indonesia

Ahmad (14) tidak menyangka bahwa hari itu ia dan kawan-kawannya kedatangan tamu dari Indonesia. Selama dua tahun terakhir ini, dirinya hanya berkawan 29 pelajar tahfiz Alquran di rumah itu. Hal itu membuatnya agak grogi ketika tim melihat langsung bagaimana ia dan kawan-kawannya menghabiskan sore dengan menghafal Alquran.

Ahmad mengaku mampu menghafal Alquran dalam waktu setahun dan kini ia terus melatih hafalannya agar tidak lupa. “Saya memang berkeinginan menjadi hafiz dan belajar itu di Mesir. Lalu ikut hocam (guru) Abdullah ke Turki tahun 2016 kemarin karena sulit untuk belajar tahfiz kalau saya ditarik ke kampung halaman,” ungkap Ahmad.

Ia sendiri telah berpisah dengan orang tua dan kakak adiknya sejak 2013 lalu. Hingga kini, Ahmad tidak mengetahui kabar keluarganya di Xinjiang. “Saya sering rindu mereka tapi mereka sama sekali tidak bisa dihubungi,” imbuh Ahmad.

Tak jauh dari Ahmad, Abdullah kembali mengatakan betapa bersyukurnya ia atas dukungan yang besar dari masyarakat Indonesia. “Pokoknya kami senang sekali dikunjungi kalian. Ini menandakan masih ada yang peduli dengan kami dan Uighur lainnya. Insyaallah, kami akan mendoakan kalian dan masyarakat Indonesia di setiap salat kami,” pungkas Abdullah menggebu. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan

Terpopuler