Menyusuri Gaza yang Terkunci, Mengantar Paket Bantuan Dermawan

Selama Gaza lockdown, Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus bergerak membantu warga yang membutuhkan, salah satunya melalui bantuan pangan Indonesia Humanitarian Center (IHC). Lockdown yang diperpanjang membuat warga Gaza prasejahtera sulit memenuhi kebutuhan akibat tidak ada mata pencaharian.

Menyusuri Gaza yang Terkunci, Mengantar Paket Bantuan Dermawan' photo
Salah seorang anggota mitra ACT di Gaza yang mengantarkan bantuan pangan dari rumah ke rumah. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyusuri jalanan di bagian utara Kota Gaza. Jalan sepi Sabtu (5/9) itu. Otoritas Gaza memang tengah menerapkan karantina wilayah (lockdown). 

Tim menuju satu per satu rumah penerima manfaat sembari membawa bantuan pangan dari Indonesia Humanitarian Center (IHC). Penerimanya adalah masyarakat prasejahtera yang hingga kini semakin sulit karena pandemi. 

Aktivitas Gaza terkunci sejak 24 Agustus lalu. Pemberlakuan lockdown terus diperpanjang. “Gaza masih lockdown. Terakhir diperpanjang seminggu ke depan,” ungkap Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT).


Said menjelaskan, untuk menopang kebutuhan masyarakat selama lockdown, ACT berikhtiar menghadirkan bantuan-bantuan kemanusiaan, antara lain paket pangan dari Indonesia Humanitarian Center. “Sasaran IHC Gaza kali ini adalah keluarga prasejahtera di Kota Jabalia, Beit Lahia, dan Alnazla yang hampir dua hari terakhir sudah kesulitan dan memenuhi pangan karena kondisi ekonomi keluarga yang semakin memburuk,” ujar Said.

Covid-19 memang benar-benar memukul Gaza. Beberapa organisasi kemanusiaan bahkan khawatir Covid-19 dapat menghancurkan Gaza yang padat, dan sejauh ini masih terisolasi akibat pandemi. Menurut Program Pangan Dunia (WFP), bahkan sebelum pandemi menyebar di Gaza, lebih dari dua pertiga warga Gaza berada dalam kategori rawan pangan akibat blokade dari Israel.


Paket pangan IHC diperuntukkan salah satunya untuk keluarga dengan anggota disabilitas. (ACTNews)

Belum lagi warga-warga Gaza tinggal dalam pengungsian yang cukup sesak. “Situasi Gaza sangat mengkhawatirkan, terutama karena 70 persen populasinya adalah pengungsi dan mereka tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak, dengan kondisi kehidupan yang seringkali tidak memadai,” kata Dr Ayadil Saparbekov, kepala Tim Kedaruratan Kesehatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Wilayah Palestina pada Jumat (28/8) silam.

ACT juga turut mengajak para dermawan di Indonesia untuk menunjukkan kepedulian mereka kepada masyarakat yang berada di tanah Palestina. “Kita bisa bayangkan, betapa sulitnya mereka hidup terhimpit oleh pandemi, tuntutan ekonomi, dan perang. Oleh karenanya, kami mengajak para dermawan semua untuk memberikan bantuan terbaiknya kepada saudara-saudara di Palestina, khususnya Gaza,” ajak Said.[]

Bagikan