Merajut Cita-Cita dari Kamp Pengungsian Rohingya

Merajut Cita-Cita dari Kamp Pengungsian Rohingya

Merajut Cita-Cita dari Kamp Pengungsian Rohingya' photo

ACTNews, COX’S BAZAR – Mohammad Hubaib (10) berdiri canggung di antara teman-temannya. Sesekali matanya mengerling ke luar ruangan, tempat lapangan yang bisa digunakannya untuk bermain bola menanti. Dengan kaus polo dan celana pendek, sekilas ia tampak seperti bocah lelaki berusia sepuluh tahun pada umumnya, yang hari-harinya dihabiskan dengan canda dan tawa. Padahal, Hubaib adalah salah seorang pengungsi anak Rohingya di Kamp Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh.

“Sebelumnya, di Myanmar, saya belajar di Desa Hormora Fara, Buthidaung. Saya belajar membaca Alquran dan pelajaran lainnya,” kenang Hubaib, sedikit mengernyit membayangkan kampung halamannya.

Menjadi pengungsi tidak memutuskan cita-cita Hubaib. Di Kamp Kutupalong, Hubaib tetap mendapatkan pendidikan. Adalah Sekolah Husainia, sekolah yang didirikan Aksi Cepat Tanggap di kamp pengungsian tersebut untuk mengakomodasi edukasi para pengungsi anak. Sampai saat ini, Sekolah Husainia telah menjadi tempat belajar bagi Hubaib dan pengungsi anak lainnya.

“Di sini, saya belajar Alquran, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Myanmar, dan Matematika,” kata Hubaib. “Tapi, pelajaran favorit saya adalah Alquran, karena Alquran berisikan pesan-pesan Allah.”

Di luar kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Husainia, para pengajar juga menyempatkan waktu untuk bermain di luar. Hal ini agar anak tidak mudah jenuh dan tetap aktif secara fisik. Dalam seminggu, tiga kali mereka diberikan waktu untuk bermain berbagai permainan dan olahraga. Masing-masing anak memiliki permainan favoritnya sendiri. Hubaib, contohnya, mengakui bahwa permainan favoritnya adalah sepak bola. Sementara temannya, Abdul Naser (9), menyukai mol dair kela, permainan khas Myanmar yang dimainkan oleh anak-anak Rohingya.

Soal pelajaran, Abdul Naser pun memiliki pilihannya sendiri. Ia menyukai pelajaran bahasa Inggris lebih dari apapun.

“Bahasa Inggris digunakan oleh siapapun, saya jadi lebih mudah berkomunikasi,” kata Abdul Naser.

Kesukaan Abdul Naser pada pelajaran bahasa Inggris pun tidak terlepas dari pengajarnya. Diakui Abdul Naser, ketika di kampung halamannya di Myanmar sana, ia tidak begitu memahami bahasa Inggris ataupun pelajaran lainnya karena diajarkan oleh orang non-Rohingya yang tidak bisa berbahasa Rohingya. Sehingga, dia sering tertinggal pelajaran.

“Di sini, Pak Shoieb, salah satu pengajar kami, merupakan guru kesukaan saya. Dia bisa membuat kami paham dan mengerti apapun. Alhamdulillah, bersama Pak Shoieb dan guru lain di Sekolah Husainia, saya bisa mengerti pelajaran yang diberikan,” cerita Naser ceria.

Shoieb, satu dari empat guru di Sekolah Husainia, juga guru favorit Hubaib. Menurut Hubaib, Shoeib memiliki metode pengajaran yang baik sekali. Semua anak dipastikan mengerti sebelum Shoieb berpindah ke materi lain. Tidak ada murid yang tertinggal, semua belajar bersama-sama.

 

“Tapi tentu saja, metode paling baik dalam belajar bagi seorang siswa adalah untuk datang ke sekolah setiap hari dan belajar dengan giat,” kata Hubaib menambahkan.

Ketika ditanya apa cita-citanya kelak, Hubaib mengaku dia ingin mengabdi kepada bangsanya setelah lulus sekolah nanti. “Karena itu, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh,” tutup Hubaib dengan janji di matanya.

Rajut dedikasi guru Rohingya melalui program Beaguru

Shoieb merupakan salah satu guru pengungsi Rohingya yang menerima tunjangan mengajar melalui Program Beaguru (Teacher Sponsorship) ACT. Tunjangan tersebut diberikan setiap bulannya kepada 125 guru Rohingya yang dengan aktif dan sukarela mengajar pengungsi anak Rohingya. Hal ini disampaikan oleh Sucita Pri Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) ACT.

“Program Beaguru telah berjalan sejak Januari 2017. Ini bagian dari ikhtiar ACT untuk membangun kembali kehidupan Rohingya, utamanya di bidang pendidikan. Harapannya, guru-guru Rohingya yang berdedikasi akan terus bersemangat memajukan pendidikan generasi penerusnya,” terang Sucita. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan