Meresapi Kehidupan Kampung Mualaf

Kampung Mualaf menjadi rumah bagi 57 warga Pinrang yang kini memeluk Islam.

Meresapi Kehidupan Kampung Mualaf' photo

ACTNews, PINRANG – Suara air dari aliran sungai menjadi pemecah sunyi kampung mualaf yang ada di Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang di Sulawesi Selatan. Tak banyak yang tinggal di kampung yang baru dirintis April 2018. Tercatat baru 18 rumah dengan 57 jiwa yang menetap di kampung itu. Sebuah masjid sederhana, berdinding kayu dengan atap seng menjadi satu-satunya sarana beribadah dan pendidikan agama.


Tak ada jaringan telekomunikasi, kampung mualaf itu seakan terisolir dari keramaian media sosial. Guntur, salah satu tokoh masyarakat setempat mengatakan, mereka tak mempermasalahkan keterbatasan itu. Warga mualaf yang tinggal di kampung yang baru lima bulan ditempati ini sudah cukup merasa tenang, terlebih setelah memeluk agama Islam.


Sebuah masjid berdiri di tengah-tengah kampung. Bangunannya belum sempurnya jadi. Tak ada kubah besar layaknya masjid di kota. “Di sini (masjid) menjadi tempat kami warga Kampung Mualaf untuk mendalami Islam. Islam di sini (Kecamatan Lembang) minoritas,” jelas Guntur kepada tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) yang sejak Januari lalu telah melakukan pendampingan rohani (agama Islam) di kampung ini, Selasa (23/4).


Guntur menuturkan, warga mualaf yang tinggal di kampung itu merupakan warga yang sebelumnya tinggal di beberapa desa di Kecamatan Lembang. Setelah menjadi mualaf, sebagian memilih untuk berpindah tempat tinggal. Mereka ingin mendalami Islam dan meninggalkan kebiasaan lama yang kurang baik.


Dari data yang dikumpulkan tim MRI Kabupaten Pinrang, di Kecamatan Lembang terdapat 200 kepala keluarga mualaf. Sebagian kecil dari mereka kini tinggal di kampung mualaf yang ada di Desa Betteng, sedangkan sisanya tersebar di beberapa desa lain. Miftahul Jannah dari tim MRI Pinrang mengatakan, kemungkinan jumlah mualaf di Lembang lebih dari itu karena masih terdapat beberapa lokasi yang belum sempat didatangi.




Walau sudah memeluk Islam sejak lama, mualaf di Lembang masih belum banyak mengetahui tentang Islam, bahkan masih terdapat beberapa orang yang belum mengerti tata cara berwudu. “Masyarakat di sini (kampung mualaf) sangat kurang pendampingan,” jelas Miftah, Rabu (24/4).


Tinggal di pedalaman

Untuk sampai ke kampung mualaf di Kelurahan Betteng, jika ditempuh dari pusat Kabupaten Pinrang akan memakan waktu lebih kurang dua jam lamanya. Jalanan khas pegunungan menjadi medan yang harus ditempuh. Jaraknya 63 kilometer.


Akan tetapi, Miftah mengatakan, untuk tiba di kampung tempat berkumpulnya mualaf itu kendaraan roda empat tak dapat melintas. Ketinggian kampung yang berada di 1.600 meter di atas permukaan laut membuat rawan terjadi longsor. “Sepanjang jalan ke kampung ada 18 area rawan longsor, hanya motor atau jalan kaki jadi pilihan,” jelasnya.


Sebuah sungai mengalir persis di depan kampung. Airnya dari pegunungan sekitar, menjadikan sumber air bersih melimpah. Akan tetapi saat turun hujan dengan intensitas tinggi, debit air meningkat dan mendatangkan aliran sungai yang deras. Sebuah jembatan bambu yang menjadi satu-satunya jalan keluar kampung rutin diperbaiki akibat rusak tiap kali sungai tak sanggup menampung derasnya air.




Sementara itu,ak ada fasilitas umum selain masjid. Sedangkan jarak terdekat sekolah menengah pertama sejauh 10 kilometer, sedangkan sekolah dasar umum 20 km dan taman kanak-kanak 15 kilometer. Untuk fasilitas kesehatan, paling dekat 10 kilometer sedangkan untuk rumah sakit hanya ada di pusat kota dengan jarak 63 kilometer.


Walau berlokasi di pedalaman Pinrang, tim MRI tetap melakukan pendampingan. Saat ini pendampingan telah masuk dalam tahap kedua. Per tahapnya akan berlangsung selama 12 pekan. “Akan terus kami dampingi hingga masyarakat dapat mandiri menghidupkan suasana keagamaan di kampung mualaf ini,” ungkap Miftah.[]

Bagikan