Meredam Krisis Pangan di Wilayah Konflik Sana'a

ACT kembali menyalurkan bantuan pangan kepada warga terdampak konflik di Yaman. Bantuan itu ditujukan bagi warga Sana’a, yang sempat menjadi sasaran serangan.

Meredam Krisis Pangan di Wilayah Konflik Sana'a' photo

ACTNews, SANA’A – Bantuan kemanusiaan kembali didistribusikan kepada penduduk Yaman di minggu kedua Juli ini. Bantuan berupa pangan itu diberikan kepada penduduk yang tinggal di wilayah Sana’a.

“Mereka adalah warga sipil yang tinggal di daerah Sana'a. Lingkungan tempat tinggal mereka menjadi sasaran serang pihak yang berkonflik pada Ramadan lalu,” lapor Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT, Rabu (17/7).

Paket pangan yang dibagikan kepada penduduk Sana’a berupa kebutuhan pokok, terdiri dari tepung, beras, minyak sayur, gula, dan kacang-kacangan. “Kali ini kita membagikan paket pangan ke 50 keluarga. Distribusi paket pangan kepada warga Sana'a akan dilakukan lagi dalam tiga bulan ke depan,” lanjut Faradiba.

Kerawanan pangan di Yaman menjadi salah satu catatan kelam krisis kemanusiaan di dunia saat ini. Berdasarkan data kerawanan pangan terakhir pada Desember 2018, Reliefweb menyebutkan, sekitar 20,2 juta jiwa atau 76 dari total populasi di Yaman menghadapi kekurangan pangan yang mengancam kehidupan mereka. Jumlah ini juga termasuk para pengungsi internal. Angka tersebut kira-kira dua kali lipat dari  populasi negara Swedia.


Sekitar 3,34 juta orang dari 21 provinsi harus mengungsi sejak konflik terjadi. Sekitar 85 persen pengungsi internal berasal dari Provinsi Taiz, Hajjah, Sana’a City, Sa’ada, dan Sana’a.

Selain kerawanan pangan, konflik juga berdampak langsung pada ekonomi Yaman. Hal itu tentu semakin memperburuk krisis pangan Yaman. Harga makanan meroket, belum lagi jumlah pengangguran melonjak sehingga makanan pokok tidak terjangkau bagi banyak penduduk Yaman.

Harga pangan yang tinggi akhirnya memaksa penduduk Yaman mengatur strategi agar tetap bisa makan. Mereka beralih ke makanan yang kurang disukai dan lebih murah atau mengurangi porsi makanan mereka.

Krisis pangan ini juga dipengaruhi berkurangnya produksi pangan lokal. Sebelum konflik, sekitar 25 persen makanan diproduksi di dalam negeri. Pada 2017, angka itu menurun hingga kurang dari 20 persen. Sementara itu, produksi pangan domestik pada tahun 2018 diperkirakan telah turun lebih jauh. []

Bagikan